Rabu, 05 Juli 2017

Perfect Strangers

AKU menjejalkan ponsel ke dalam tas dengan jengkel. Bagaimana bisa ia baru akan datang satu jam lagi? (baca: satu jam) Kalau sudah tahu jalanan macet, seharusnya ia bergegas lebih awal! Menyebalkan. Ah, tidak tahu apa yang harus kulakukan selama 1 jam ke depan, aku memilih berkeliling ke sekitaran taman kota ini, mencoba peruntungan untuk melakukan sesuatu yang kiranya berharga daripada menunggu.
Aku mulai berjalan melewati bangku-bangku taman. Beberapa orang sedang mengobrol, tertawa, makan-makan, dan berfoto ria di sana. Aku terus berkeliling. Bangku-bangku taman ini lalu mengarah pada dua patung ikan mas besar. Patung itu berada tepat di tengah-tengah taman, dijadikan hiasan, karena ada air mancur di sana.
Aku terus menapaki tempat ini dengan perasaan yang masih saja jengkel. Haah... tidak ada yang menarik di sini. Bosan. Rasanya, ingin kubatalkan saja pertemuan kami. Biar ia tahu rasa karena sudah membuatku menunggu sedemikian lamanya. Aku harus tega kali ini. Jadi, tanpa pikir panjang, buru-buru kuambil ponsel. Ketika hendak menekan nomor, tiba-tiba terdengar suara,
“Cepat telfon saja! Dia ikut komunitas semacam sosial gitu, kan?”
“Iya. Tapi, jangan aku yang bicara. Kau saja, ya! Nih,”
“Tapi, kan, aku tidak kenal dengan Gibran. Bingung pula ngomongnya bagaimana. Kau saja! Kau kenal dia, kan?”
“Aduh, aku masih ada perasaan sama dia, kau tahu?”
“Hah? Apa hubungannya?”
“Ngomongku suka ngelantur nanti, gagal fokus, gugup, dan semacamnya. Sudah, ah, kau sajaaa!”
“Ih, ribet deh! Itu Rizal keburu kabur nanti. Ini kesempatan kita untuk menolongnya. Cepaaat telfon!”
“Tidak mau!”
“Kau ini!”
Aku nyengir mendengar percakapan itu. Suara siapa?
Aku mendekat.
Ternyata, suara itu milik perempuan yang sedang duduk berkumpul dengan banyak perempuan lain di bawah pohon rindang, tak jauh dari patung ikan. Jumlah mereka... sebelas orang. Di sana, ada banyak kertas kado, camilan yang isinya seperti sudah habis, laptop, buku tulis dan... Al-Qur’an? Penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan tadi, ditambah aku yang memang sedang tidak ada kerjaan, memilih berjalan ke arah bangku dekat mereka. Lalu, aku duduk sambil pura-pura memainkan ponsel. Jarak kami terpaut sekitar 5 meter.
Dua orang perempuan yang tadi berbicara kembali bersuara. Kali ini mulai recok.
“Kau saja!”
“Ohh, tidak, karena aku sudah menekan nomornya...” perempuan itu lalu menempelkan ponselnya ke telinga. “.. dan ya ampun, sudah terhubung! Jadi, kau saja, Assarah!”
Perempuan yang dipangil Assarah itu terperanjat, karena temannya baru saja melempar ponsel dengan ganas. “Hei!” Sedetik kemudian, ia terlihat geram. “Sudah kubilang, kalau bicara dengan Gibran, aku ini sering kali ngelantur, gagal fok... eh, halo?”
Aku memerhatikan Assarah yang seperti ingin melempar tinju ke arah temannya itu dengan mata melotot. Dan lucunya, ia terlihat gerogi ketika mulai berbicara di ponsel. Aku tidak bisa mendengar Assarah berbicara apa, karena ia berjalan menjauh. Fokusku kemudian beralih pada perempuan lain yang menyuruh teman-temannya merapikan duduk. Mereka sedang apa, sih?
“Baiklah, sambil menunggu Assarah, kita lanjutkan dulu pembahasan kita sebelum ke sesi tukar kado.”
Aku mengernyit.
“Oke. Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa sabar itu berasal dari kata 'shobaru' yang artinya menahan. Apa yang ditahan? Potensi buruk yang ada dalam diri. Jadi, ketika kita dihadapkan pada sesuatu yang membuat kesal, tidak sesuai keinginan, bahkan pada hal yang bisa memancing amarah kita, bersabarlah. Tahan untuk tidak mengeluarkan potensi-potensi buruk yang sejatinya ada dalam setiap diri manusia. Sebagai gantinya, keluarkanlah hal-hal positif untuk berusaha menyelesaikan masalah tersebut dengan cara-cara yang baik. Artinya, sabar itu bukan berarti diam-diam saja, tetapi berusaha mencari solusi di atas tekanan yang tinggi.”
         Aku anteng mendengar penjelasan yang sebenarnya tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan di taman seperti ini. Belajarkah? Pengajian? Ketika sedang asyik, seorang anak laki-lakiyang baru aku sadar ternyata sedari tadi ada di antara mereka, namun duduk memsisahkan diritiba-tiba bergerak-gerak seperti hendak berdiri dari duduknya. Sekilas, tidak ada yang aneh dengan anak itu. Namun, ketika aku menyipitkan mata, kedua tangan anak itu ada yang tidak beres. Maksudku, tangannya seperti ada bercak-cercak hitam. Kenapa? Penyakit kulit? Sementara, kakinya telanjang tak beralas. Aku juga baru sadar ternyata bajunya kotor.
            Tiba-tiba, Assarah kembali. Di tangannya, selain ponsel, ada sebungkus nasi.
“Rizal, mau ke mana? Ini Kakak belikan nasi untuk Rizal. Yuk, duduk lagi, ya.” kata Assarah ramah.
            Tanpa berbicara, anak yang dipanggil Rizal itu menurut. Ia langsung menerima keresek itu, membuka, lalu mulai memakannya.
Setelah Assarah meyakinkan bahwa Rizal menerima makanan pemberiannya, ia langsung nimbrung ke arah teman-temannya.
“Ahillah, kau menyebalkan! Aku beberapa kali salah bicara dan gagal fokus tahu! Jantungku juga berdegup lebih kencang seperti dikejar banteng!” seru Assarah sambil meninju main-main bahu temannya yang bernama Ahillah itu.
Ahillah dan semua temannya tertawa.
“Kau ini berlebihan. Memangnya pernah dikejar banteng?” timpal Ahillah.
“Gimana? Gibran bakal ke sini sekarang?” tanya perempuan lain.
Assarah mengangguk. “Insya Allah.”
“Cieeee.”
Assarah mendengus. “Kalau bukan karena Rizal, mana mau aku?!”
Kejadian di depanku ini semakin membuat penasaran, buatku betah nguping. Duh, dosa ini nguping orang lain, dosa!
Ponselku tiba-tiba berbunyi. Ada telfon. Sedetik sebelum mengangkat telfon, aku baru menyadari mungkin nada deringku ini volumenya terlalu kencang, karena semua objek yang sedang aku ‘mata-matai’ memutar kepalanya ke arahku. Oops. Aku berpura-pura, seolah tidak sedang ‘mengintai’ mereka. Jadi, kubalik badan, lalu,
“Halo? Ya... apa? Tidak... tidak apa-apa. Aku masih di sini. Kapan? Setengah jam lagi... terserahlah!”
        Tanpa benar-benar mendengarnya, aku langsung menutup telfon. “Dasar laki-laki tidak disiplin!”
Aku kembali membutar badan. Sedang apa mereka sekarang?
“Hei, mau makan bersama kami?”
“Huaa!!!” aku menjerit.
* * *
            Sebenarnya, aku malu karena sudah dengan tidak-tahu-sopan-santun menguping pembicaraan orang-orang di depanku ini. Ditambah mereka malah menawariku makan. Hadeuh, kalau ada sumur, pengin nyemplung -___- Setelah menerima telfon tadi, tiada angin tiada hujan, aku tiba-tiba didatangi Ahillah yang menawari makan, membuatku kaget sampai nyaris melempar ponsel sendiri. Setelahnya, kami berkenalan. Lalu, aku pun berterus terang tentang rasa penasaranku terhadap Rizal. Jadi, di sinilah aku sekarang, makan-makan bersama Assarah, Ahillah, Nurah, Amara, Ica, Alifia, Asri, Hadar, Dikara, Siska, dan Teh Dini.
Tiba-tiba, “Assalamu’alaykum.”
“Gibran.” bisik Amara.
Kami semua memutar kepala ke arah sumber suara. “Wa’alaykumsalam.” jawab kami serempak.
Aku geli melihat kelakuan Ahillah yang cekikikkan.
“Sebelumnya, maaf tidak bisa berlama-lama,” kata Gibran. “Apa Rizal bisa saya bawa sekarang? Untuk langkah pertama, Kepala Komunitas Pemuda Peduli Sosial akan menangani ini. Lalu, kami akan urus administrasi di pihak Kepolisian, setelahnya kami serahkan ke Dinas Sosial. Doakan saja semoga semuanya berjalan lancar.”  
* * *
           Rizal beranjak pergi dengan Gibran. Kami menatap punggungnya yang semakin lama semakin menjauh. Aku masih tidak paham.
            “Rizal itu siapa?”
            Mereka berpandangan, lalu menunjuk Assarah untuk menceritakan semuanya.
* * *
            Namanya Rizal, 13 tahun, asli Tasikmalaya (kisah ini nyata). Ia diusir bapaknya karena dirasa tidak becus menjaga adik perempuannya sewaktu mereka bertiga pergi ke suatu pasar. Adik perempuannya sempat hilang, namun akhirnya ditemukan. Seorang bapak mungkin hanya ingin menjaga anak-anaknya agar aman. Namun, mengetahui Rizal berbuat salah, ia ingin memberinya pelajaran. Selama satu hari, Rizal tidak diizinkan tinggal di rumah.
            Singkat cerita, entah kenapa Rizal bisa terdampar di Sukabumi. Tinggal di kota orang tanpa sanak saudara dan tanpa uang adalah hal mengerikan yang harus dialami seorang anak yang masih duduk di bangku SD. Ah, untuk mengisi perut mungilnya dari rasa lapar, ia membantu seorang sopir mencuci badan bus yang panjang. Bayangkan, seorang anak SD mencuci bus! Berkali-kali ia lakukan itu sampai kedua tangannya alergi, ia terkena penyakit kulit. Kapok dengan itu, Rizal memilih mengamen dengan banyak anak seusianya di pinggir jalan dengan alas telapak kaki yang sudah bersahabat dengan aspal.
        Tidak diketahui apa kedua orangtuanya mencari Rizal atau tidak. Tidak tahu Rizal pernah kembali lagi atau tidak, hanya tahu Rizal ada di kota ini dengan statusnya sebagai gelandangan. Ah, selama tinggal di Sukabumi, ia tidur di selasar masjid, dekat dengan alun-alun kota Cisaat.
            Satu hari setelah bertemu dengan Rizal, kamiShahibul Istiqommengumpulkan baju-baju bekas dan memberi jatah makan siang untuk diberikan pada Rizal. Ia pun menerimanya dengan tanpa banyak bicara, seperti biasa. Jadi, kami kesulitan mengetahui apa ia merasa senang atau tidak, karena entah kenapa dari pancaran matanya menunjukkan bahwa ia seperti ketakutan. Ah, kami tidak tahu.
            Kami sebenarnya ingin menggali informasi apa Rizal dipekerjakan oleh seseorang atau tidak. Karena, sependek sepengetahuan kami, orang-orang seperti Rizal ada yang ‘mengurus’, dan itu tidak gratis. Mereka harus membayar dengan kerja keras seharian. Mengamen.
Semua informasi ini kami dapat langsung dari Rizal, meski dengan penjelasan yang terpotong-potong, karena sejatinya Rizal mungin merasa takut dengan kami, orang asing.
* * *
                 Hatiku nyeri mendengar penjelasan Assarah. Kasihan Rizal. Aku kemudian bertanya-tanya,
          “Kalian seperti sering melibatkan diri untuk membantu orang-orang seperti mereka.” kataku sambil tersenyum. Kagum.
                 Assarah menggeleng. “Tidak. Bahkan ini yang pertama.”
                 Aku menghambur ke pelukkan Assarah. Terharu.
                Tiba-tiba, ponselku kembali berbunyi.
               “Halo? Kau menangis? Aku akan segera ke sana lima menit lagi. Jangan dulu menangissss.”

Catatan :
Kejadian ini terjadi sekitar bulan Mei di tahun 2015.. Saat-saat penghujung perjuangan kami di SMAN 1 Cisaat...  Saat mentoring terakhir kami dengan Teh Dini Putri Dinanti...  Saat-saat momen tukar kado di alun-alun Cisaat, Sukabumi.


Hanya satu pertanyaan kami sekarang,
“Apa kabar, Rizal?”


Sukabumi, 5 Juli 2017

Anafa Rhy

Senin, 26 Juni 2017

Urgensi Mentoring di Kalangan Kader Dakwah

Oleh : Anafa Rhy (Dept. Keputrian DKM Al-Muhajirin UNSIL 2015)
Bismillah...
Berbicara mengenai organisasi dakwah, pasti berbicara mengenai kader. Kader berbeda dengan pengurus. Kader adalah mereka yang di samping memegang amanah, juga mengikuti alur kaderisasi untuk menumbuhkan kepribadian yang hanif, mendukung islam dan dakwah, dan berbagai tujuan lain. Sementara, pengurus adalah mereka yang menjalankan semua program kerja hanya sampai tertunaikan amanahnya, selesai. Organisai dakwah tidak cukup menjadikan pengurus sebagai penggeraknya. Dakwah butuh mereka yang diharapkan memiliki pemahaman Islam yang baik, mengenali medan, dan telah teruji komitmennya, sehingga bisa dikategorikan sebagai SDM siap pakai, dan itu kader.
Dalam alur kaderisasi, membina kader tidak cukup hanya dengan ta’lim, tabligh, training dan seminar. Membina kader haruslah melalui medan amal yang nyata, menghadapkannya pada realitas. Pun pembinaannya bersifat intensif, memperhatikan seluruh aspek kehidupannya untuk memenuhi standar-standar kepribadian seorang pemimpin. Membina berarti mengajaknya berlomba, tapi tidak meninggalkan, dan waktunya bisa panjang. Karenanya, kader perlu diberi asupan iman dan ukhuwah.
Mengutip pernyataan seorang kader terbaik 2015 As-Salam, Polban, Hadar mengatakan,
Setiap kader perlulah bergerak atas Ilmu. Ilmu yang harus didahulukan atas amal, karena ilmu merupakan petunjuk dan pemberi arah amal yang akan dilakukan. Pun sebagai seorang sahabat, kita bertanggung jawab untuk saling mengingatkan. Termasuk mengingatkan saudara kita yang sangat menggebu-gebu dalam masalah dakwah tanpa diimbangi tarbiyahnya (baca: pembinaan). Mencoba menjelasakan bagaimana pentingnya ruhiyah seorang kader untuk terus di-upgrade. “Jangan sampai kita berkeliaran di kampus dalam keadaan ruhiyah yang kosong.” Kalimat dari salah seorang kakak tingkat di ROHIS SMA dulu yang selalu menampar di kala amalan yaumi sudah dibawah garis merah. Jika tarbiyahnya tidak berjalan, lantas apa yang menjadi bahan bakar kita untuk bergerak?

Maka, sejalan dengan hal di atas, dibutuhkan suatu program yang mampu mendukung berbagai kebutuhan organisasi dakwah. Program tersebut adalah mentoring. Mengapa mentoring? Karena, seperti yang sudah dijelaskan di atas, dikhawatirkan kader semangat bahkan menggebu-gebu dalam dakwahnya, tetapi dari segi tarbiyah tidak terbina. Salah satu perkara yang membuat dakwah mengalami kerapuhan adalah lemahnya tarbiyah islamiyah di kalangan para kader. Ini merupakan bahaya besar. Oleh karena itulah, mengapa mentoring menjadi salah satu alternatif penting di sini.


Mentoring disebut juga agenda halaqah. Halaqah sendiri dikenal dalam berbagai istilah, ada yang menyebutnya dengan usrah (keluarga)karena metode halaqah ini lebih bersifat kekeluargaanada pula yang menyebutnya dengan liqa’, di beberapa kalangan, disebut juga mentoring, ta’lim, pengajian kelompok, tarbiyah atau sebutan lainnya.      
Halaqah adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan atau pengajaran Islam (tarbiyah Islamiyah). Istilah halaqah (lingkaran) biasanya digunakan untuk menggambarkan sekelompok kecil muslim yang secara rutin mengkaji ajaran Islam. Jumlah satu kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan manhaj (kurikulum) tertentu. Biasanya kurikulum tersebut berasal dari murabbi yang mendapatkannya dari jamaah (organisasi) yang menaungi halaqah tersebut.
Sejatinya, mentoring berisi 3 hal utama; pembinaan, pembahasan Islam, dan ukhuwah. Selain itu, mentoring bukan hanya sarana pemadatan ketiga hal di atas, namun juga sebagai sarana RUJAKakronim. Biasanya, murabbi, pembina mentoring, berperan untuk mengetahui keadaan mentinya, peserta mentoring, melaui RUJAK; Ruhiyah, Ukhuwah, Jasmani, Akademik, dan Keluarga. Artinya, murabbi dapat mengetahui apa yang sedang terjadi pada mentinya setiap pekan. Jadi, jika pada kontribusi dakwahnya nanti mungkin mengalami penurunan, tidak akan berhusnudzon, dan hal ini bisa dengan cepat ditangani.
Jika sudah begini, di mana ilmu dan ukhuwahnya terjaga, akan mempermudah keberlangsugnan roda kepengurusan dakwah. Saling bahu-membahu pada program kerja yang ada di depan mata. Meminimalisir ketimpangan yang mungkin ada. Hal ini harus dilakukan secara serius. Karena, dakwah itu tidak main-main. Oleh karenanya, dibutuhkan amunisi agar tidak pincang, salah satunya lewat agenda mentoring.
Pertolongan Allah sangat dekat, jika kita dekat pula dengan-Nya. Setiap orang tempatnya khilaf, maka sudah seharusnya kita saling mengingatkan satu sama lain. Bukan ukhuwah namanya jika kita membiarkan saudara kita tetap dalam kesalahan. Tapi, ukhuwah itu berani untuk saling mengingatkan walaupun pahit. Itu adalah bentuk kasih sayang kita, bentuk peduli kita terhadap mereka, orang-orang yang telah Allah pilih untuk menemanimu di jalan dakwah ini. Jangan biarkan mereka dalam kesendiria. Iman dan ukhuwah! Itu yang senantiasa kita gaungkan. Maka sudah seharusnya, bergerak bersama dalam naungan tarbiyah yang dilandasi ukhuwah untuk senantiasa menegakan Dien Allah.
Wallahu ‘alam bishowab. 

Referensi
GAMAIS. 2007. Risalah Dakwah Kampus. ITB: Bandung
Hadar. 2016. Harokah dan Tarbawi. PSDM Assalam Polban: Bandung
            Shohibul Istiqom.

Selasa, 25 April 2017

Madani Kah UNSIL?

SELAMA kuliah di Universias Siliwangi, Tasikmalaya, saya tidak tahu bahwa ada kajian rutin yang mengharuskan para pejabat UNSIL hadir (baca: para pejabat). Wajar saja saya tidak tahu, karena memang baru menggebrak lagi sekarang, katanya :D
          Jadi ceritanya, tadi (26/4) ada kajian di masjid Al-Muhajirin UNSIL yang berlangsung dari sekitar pukul 08.40 sampai 10.00 WIB. Yang hadir itu utamanya dari para pejabat, loh. Dari mulai rektor (atau yang mewakili), dekan, para staff, sekretaris jurusan, dan orang-orang fungsional di pihak atas lembaga (disebutnya apa, ya? Itulah pokoknya), mereka berbondong-bondong memenuhi masjid. Hebat. Enggak percaya? :D Nih, buktinya...
Maafkan kualitas kamera hape yang tidak mendukung :”

Ini kaum Hawa-nya. Di luar juga masih ada, cuman enggak ke-shoot :”

            Jenis kajian seperti ini sebenarnya pernah berlangsung secara konsisten sewaktu UNSIL masih di bawah naungan Yayasan dulu, katanya. (Kata orang terpercaya kok, insyaAllah). Nah, sekarang sedang digebrak lagi. Semoga ke depannya bisa seperti dulu. Aamiin. Oh ya, saya salut dengan para pejabat ini. Gimana enggak? Semua eksekutor acaranya itu mereka, lho! Dari mulai MC, Qori, tim konsumsi (bahkan yang oper-oper makanan kotak) semuanya dari mereka. Haha. Keren, kan? Masih sempat-sempatnya bagi-bagi jobdesk, ya :’D Alhamdulillah. 
            Hmm... kajian ini,  kan , sebenarnya dikhususkan untuk para pejabat, ya, tapi kenapa saya bisa ada di sana? (Ohh secara, saya kan pejabat! Wk. Eh, ini saya nanya sendiri, jawab pun sendiri).
Back to the topic. Sampai mana tadi? Oh, ya. Aduh. Please deh, kalau sudah masuk masjid itu, berbagai status sudah tidak berlaku J Mau itu pejabat, mahasiswa, masyarakat, atau siapapun, semuanya sama. Samaaaaa. Jadi, itulah kenapa saya bisa ikut nimbrung dengan beberapa shohib lain dari anak-anak DKM. Weh. Tadi juga ada banyak mahasiswa lain yang ikut mendengarkan, dan dikasih jatah konsumsi :D Intinya, meskipun target dari kajian ini untuk para pejabat, bukan berati yang selain pejabat tidak boleh ikutan :’)
Next, kajiannya sendiri diisi oleh seorang Ustadz. Ada yang lucu dari ini. Bayangan saya, Ustadznya pasti Bapak-Bapak, bersorban, perawakannya tinggi bersisi, dan berjenggot, (entah kenapa mikirnya ke sana hehe), tapiiii... ternyata eh ternyata ustadznya masih muda! Umurnya (kalau bisa saya tebak) sekitar 27 tahun-an. Pertama lihat, saya seperti teringat seseorang. Sempat mikir dikit, dan doooaar!! Saya rasa mirip salah seorang mantan personil dari boyband SMASH. Masih ingat SMASH? Ingat Bisma? Nah! Mirip si Bisma itu! Tapi, ini mah versi Bisma yang rambutnya dicukur rapi dan berpeci! Haha. Astagfirullah. Pokoknya begitulah. Kebayang? :D
Isi materi yang disampaikan ustadz Bisma itu (saya tidak tahu namanya siapa, jadi sebut saja begitu he) tentang bersyukur (Eh, bukannya tentang Isra’ Mir’raj, ya? Kok, bersyukur? Saya juga bingung) Tapi, apapun materinya, minumnya tetap teh botol sosro! :D (Hish bercanda mulu.) Oke, serius. Jadi, inti materinya itu semakin banyak kita bersyukur, maka semakin Allah tambahkan nikmat kepada kita. Contoh bersyukurnya itu kita ucapkan doa-doa seperti doa setelah makan, bangun tidur, dan keluar dari kamar mandi. Doa seperti ini kadang sering terlupa. Hal kecil. Tapi, membawa dampak berupa keberkahan yang besar. Bayangkan, kalau makanan-makanan yang kita makan tidak masuk perut, malah masuk jempol, atau tidak pada ranahnya, gimana? Kita patut bersyukur karena Allah lancarkan kita ketika memperoleh makanannya, mengunyahnya, menelan dan memberi nutsisi pada tubuh. Aman. Jadi, ada alasan untuk tidak berdoa? Orang tak bersyukur namanya. Terus, pada saat bangun tidur. Kalau pas bangun tidur itu ruh kita tidak kembali lagi kepada jasad, gimana jadinya? Meninggal, kan? Maka, berdoalah karena Allah masih beri kita kesempatan untuk terus hidup agar kita bisa mentaubati dosa-dosa kita. Jadi, ada alasan untuk tidak berdoa? Terakhir, kenapa kita harus baca doa setelah keluar dari kamar mandi? Gimana jadinya kalau kita terpeleset? Terbentur ujung bak mandi atau musibah lainnya. Kan, bahaya ih. Naudzubillah. Jadi, bersyukurlah karena Allah selamatkan kita setiap detiknya sampai kita bisa sehat seperti sekarang ini. Jadi, ada alasan untuk tidak berdoa? Nah, pertanyaannya, hapalkah kita dengan doa sesudah makan, doa bangun tidur dan doa keluar kamar mandi? Mari renungkan. Renungkan masing-masing maksudnya :”
Apa lagi, ya? Hmm.. materi yang saya ingat segitu, sih. Hehe. Oke, saya juga mau bahas hal lain sedikit.
Mengingat banyaknya yang hadir dari para pejabat UNSIL yang bahkan sampai rela PERPUSTAKAAN PUSAT ditutup demi menghadiri kajian ini. (Serius lho, ditutup) Ya, mengingat sebegitu niatnya pihak lembaga untuk mengadakan kajian bulanan ini, bikin getar hati. Maksudnya, mereka saja sangat peduli tentang upgrade ruhiyah, ini menunjukkan bahwa mengingatkan sesama itu tak lekang oleh waktu (nyanyi). Bikin sadar juga bahwa jangan sampai pemuda, (termasuk saya, karena saya masih sangat muda. Hih) harus semangat kalau ada kajian. “Berangkatlah kalian baik dalam keadaan ringan maupun berat.” Karena, sekarang itu kajian ada di mana-mana, pokoknya ilmu bertebaran bahkan ada di genggaman tangan (gadget). Mengingat seperti ini, adem rasanya. Ketika para pejabat dan orang-orang yang ada di UNSIL satu jalan begini, berbarengan untuk sama-sama berlomba dalam kebaikan, madani kah UNSIL? J Yuk, mari terus menuju UNSIL yang MADANI! (Madani adalah berhubungan dengan hal yang menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yg ditopang oleh penguasaan IMAN, ilmu, dan teknologi yg berperadaban).
Itu, sih, yang mau saya bagi di posting-an ini. semoga bermanfaat, ya! Semua kebenaran isi tulisan ini datang dari Allah, sementara kesalahan mutlak milik saya pribadi.

Oh ya, saya menulis ini tidak terlalu pakai otak (waduh). Maksudnya, hanya pelibatan suasana hati yang kordinasi dengan tangan begitu saja. Menurut saya, ini adalah kondisi bagus di mana saya benar-benar menulis dengan cara sendiri.

Tasikmalaya,  26 April 2017

-AR-

Sabtu, 15 April 2017

Fisikku Standar, Bahkan Mungkin Aku Ini Produk Gagal

Ini gambar enggak ada hubungannya sama isi cerita memang :') #Abaikan

Oke
, langsung saja, aku ingin menjelaskan tentang fenomena orang-orang di muka bumi yang rela lakukan apapun demi tampil cantik, tampan, pokoknya perfectKetebak tidak kira-kira pesan apa yang ingin aku sampaikan? Pasti kamu berpikir bahwa ujung-ujungnya “syukui apa yang ada”, “jangan operasi plastik”, atau ya semacam itulah. Hm benarkah begitu? 
         Dengar, aku beri tahu, ya, fisik itu penting lho! Bukankah penilaian pertama seseorang itu dinilai dari penampilannya? Ketika bertemu orang-orang yang belum kamu kenal, bukankah hati kecilmu berbisik bahkan memberi nilai tentang wajah yang kamu lihat? Akui saja he. Jadi, disadari atau tidak, “Don’t judge a book by its cover” adalah quote yang tidak seampuh yang orang lain atau bahkan temanmu sendiri katakan.
          Begini, aku mulai dengan kebiasaan-kebiasaan tentang penampilan, ya. Di waktu pagi misalnya, saat hendak ke luar rumah, kamu mematut-matut diri di depan cermin untuk beberapa saat. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Untuk perempuan, biasanya memoles wajah yang diakhiri senyum-senyum sendiri. Kalau laki-laki biasanya menata rambut berharap cool to be looked :D Setelah merasa oke, barulah keluar dan berbaur dengan penduduk bumi lain. Namun ketika sudah di luar rumah, kamu tersadar bahwa kamu bukan satu-satunya orang cakep. Banyak yang lebih good looking
          Akhirnya, terkadang kamu minder, meski mungkin juga kamu masih tetap PD. Bagi mereka yang mindernya akut, mungkin langsung cus mempercantik diri dengan cara yang dipakai tukang sulap. Ya, tukang sulap. Seperti memasukkan sapu tangan ke dalam topi yang tiba-tiba bisa keluar kelinci atau merpati. Begitupun rumah kecantikkan, masuk ruangan, lalu dibedah sana-sini sampai tiba-tiba—dor!!—cakep minta ampun. Membuat takjub orang lain. Begitulah.
          Nah, dari peristiwa di atas, ada hal yang mau aku sampaikan. Tapi, untuk itu kamu perlu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya berbarengan dengan mengucap istigfarAku tahu mahasiswa sepertimu tidak akan nekat operasi plasik, karena tidak ada uang huehehe #sok tahu. Tapi, aku mengajak kamu beristigfar karena mengucap kalimat itu tidak ada salahnya. Beristigfar saja J Bahkan lebih bagus kalau kamu niatkan ampunan untuk mereka yang nekat. He. (Sebenernya ini mau ngomong apa, sih?) Jadi, yang mau aku sampaikan ini juga tentang orang yang fisiknya paling mengerikanbukan kataku, tapi kata banyak orang yang melihatnya secara langsungdi muka bumi, sampai-sampai kehadirannya pun tidak diinginkan, lho! Orang tuanya juga tidak menyanggupi. Kamu penasaran? Yuk, langsung simak cerita berikut. Cerita yang mungkin bikin mikir Apa kamu masih lebih mengerikan dari orang ini atau tidak? He -___- #Ampun. Check it out aja, baca sampai selesai, ya! ^^

* * *
Namanya Julaibib.* Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki, tidak pula orang tuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah ia. Celakanya, bagi masyarakat Yastrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.
Julaibib yang tersisih, tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh, kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh, tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak.
Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai berkata tentang Julaibib, ‘Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah, jika ia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya’. Demikianlah Julaibib. Namun, jika Allah berkehendak menurunkan rahmat-Nya, tak satu makhluk pun bisa menghalangi. Julaibib berbinar menerima hidayah, dan ia selalu berada di saf paling depan dalam salat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Rasulullah, Sang Rahmat bagi semesta alam.
Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Rasul.
 “Ya Julaibib,” begitu lembut beliau memanggil. “tidakkah engkau menikah?”
“Siapa orangnya ya Rasulullah yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?” jawab Julaibib sambil tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya.
Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tidak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi, hari berikutnya ketika Rasul bertemu dengan Julaibib, beliau menanyakan hal yang sama.
“Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?”
Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut. Sampai kemudian, di ke tiga hari itulah Rasulullah menggamit lengan Julaibib dan dibawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar.
“Aku ingin,” kata Rasulullah pada si empunya rumah. “menikahkan putri kalian.”
“Betapa indahnya dan betapa berkahnya!” begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi calon menantunya.  “Ya Rasulullah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”
“Tetapi bukan untukku.” kata Rasulullah. “Kupinang putri kalian untuk Julaibib.”
“Julaibib?!” nyaris terpekik ayah sang gadis.
“Ya, untuk Julaibib.”
“Ya Rasulullah,” terdengar helaan napas berat. “saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini.”
“Dengan Julaibib?!” seru istrinya. “Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, dan tak berharta? Demi Allah, tidak! Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib. Padahal, kita telah menolak berbagai lamaran.”
Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang Putri dari balik tirai berkata anggun. Katanya,
“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tidak akan ia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.” Sang gadis shalihah lalu membaca Q.S. Al-Ahzab ayat 36 yang artinya, ‘Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat, sesat yang nyata’.
Kemudian, Sang Nabi tertunduk berdoa untuk gadis shalihah. ‘Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah’.
Benarlah doa Sang Nabi! Maka Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya. Kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalihah dan bertakwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak selalu bersahabat kepadanya. Adapun istrinya,—kata Anas ibn Malik—tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampauinya, hingga kelak para lelaki utama meminangnya. 
Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi, beliau akan mengajarkan sesuatu pada sahabatnya. Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran, “Apakah kalian kehilangan se-seorang?”
           “Tidak, ya Rasulullah.” Serempak sekali. Seperti-nya memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.
“Apakah kalian kehilangan seseorang?” tanya Rasul lagi. Kali ini wajahnya bersemu merah.
“Tidak, ya Rasulullah.” Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menegok ke kanan dan kiri.
Rasulullah menghela napasnya. “Tetapi, aku kehilangan Julaibib.”
Para sahabat tersadar.
“Carilah Julaibib!”
Maka ditemukanlah ia, Julaibib yang mulia. Ia terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh.
Sang Rasul dengan tangannya sendiri mengkafani Sang Syahid. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mensalatkannya secara pribadi. Ketika kuburannya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia. Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib. Saat itulah kalimat Sang Nabi untuk Julaibib akan membuat iri semua makhluk hingga hari berbangkit.
Kata Rasulullah, “Ya Allah, ia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”
* * *
            Well, bagaimana pendapatmu? Aku nangis bombay (enggak nanyawaktu baca kisah itu pertama kali. Serius. Menyentuh sekali. Kamu? Ambil saja sendiri hikmahnya, ya. Semoga dengan itu kamu bisa lebih mengerti bahwa penilaian manusia itu tidak akan habisnya, namun penilaian Allah di atas segalanya. Jadi, masih ngeluh? ^^

*Kisah Julaibib diambil dari :
Published in 2010





Minggu, 29 Januari 2017

MENCARI BENANG MERAH

Oleh : Anafa Rhy (Div. Kemuslimahan DKM Al-Muhajirin 2015)

Bismillah...
KATA dakwah biasanya terdengar setelah kata ‘HIJRAH’ dan ‘ISTIQOMAH’. Sebelum berbicara mengenai dakwah, yang penulis tahu, hijrah adalah berubahnya seseorang menjadi lebih baik, meninggalkan yang buruk menuju kebaikkan, atau berpindahnya seseorang dari satu tempat ke tempat lain demi perubahan diri yang lebih baik. Semuanya dilakukan untuk mendekat ke arah-Nya. Agar diri menjauhi maksiat. Setelahnya, hijrah sejatinya terus dilakukan sampai akhir hayat. Bukan berarti setelah sekali hijrah, seseorang sudah selesai melampauinya. Karena, setiap harinya ia memiliki tingkatan-tingkatan hijrah yang harus dicapai. Bukankah ada sebuah proses bagai anak tangga di sana?
Contoh kasus; ketika seorang perempuan memutuskan untuk berkerung, namun ia masih memakai celana, bukankah perlu melampaui tingkatan hijrah lain? Menggunakan rok dan memperlebar kerudung agar terulur sampai dada? Lalu, mencoba untuk bersikap sebagaimana muslimah seharusnya? Begitu, kan? Semuanya seolah tidak berujung. Hijrah terus.
Sementara, istiqomah berarti bertahan, tetap, maupun berkomitmen terhadap hijrah yang sudah dilakukan. Menurut Ibnu Abbas radhiallahu ’anhu, istiqomah mengandung 3 macam arti; istiqomah dengan lisan (bertahan terus pada kalimat syahadat), istiqomah dengan hati (terus melakukan niat yang jujur), dan istiqomah dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus). Jadi, posisi istiqomah berada setelah hijrah.
           Hijrah dan istiqomah adalah dua hal yang tidak mudah dilakukan. Banyak yang kemudian kembali lalai akibat faktor internal maupun eksternal yang terus menimpa diri. Tidak mudah. Maka, berbahagialah orang yang sampai saat ini masih berada di koridor hijrah dan istiqomah. Orang-orang ini (baca: mereka yang senantiasa berhijrah lalu istiqomah), biasanya Allah amanahkan untuk mulai menaiki level selanjutnya; berdakwah. Tentunya, tingkatan ini bukan perkara yang ringan, pertanggungjawabannya sampai akhirat. Bagaimana tidak? Di samping sedang memperbaiki diri, ia juga diamanahkan untuk membantu memperbaiki diri orang lain. Kedua hal yang dilakukan sekaligus biasanya membutuhkan tenaga yang lebih keras . Masya Allah.
          Oke, pembahasan terkait dakwah akan penulis paparkan selanjutnya. Dari sekian banyak penjelasan dakwah yang ada, hal yang penulis ingat betul dari XI SMA sampai sekarang, dakwah itu 3 hal; panjang jalannya, lama prosesnya, dan sedikit pengikutnya. Selain itu, dakwah merupakan kegiatan menyeru seseorang kepada iman. Dakwah ini susahnya minta ampun. Ketika dipaksa terjun ke dunia dakwah, penulis menangis karena takut. Namun, ikhwah berkata; kalau bukan kita, siapa lagi? Bukankah ketika hanya ada 1 orang di muka bumi yang berdakwah itu harus diri ini? Kau. Kita. Ayo berjuang bersama-sama, katanya. Tidak ada sedih dan galau, perihal itulah yang membuat penulis maju berdakwah beberapa tahun lalu (baca: ingat, kan, bukan berarti dakwah itu melulu berdiri di atas mimbar?).
Seiring berjalannya waktu, tantangan pun semakin berat. Ilmu yang harus ditelan semakin banyak. Waktu dan tenaga lebih banyak terkuras. Setiap tutur kata dan tulisan, bagaikan buku yang isinya harus terjaga bagi pembacanya. Bukankah seorang da’i itu harus sesuai antara perkataan dengan perbuatannya? Inilah yang terkadang menjadi penghambat ketika berdakwah, hal ini mengingatkan penulis pada QS. As-Saff ayat 2 & 3 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. Selain itu, banyak kondisi di mana da’i dihadapkan pada situasi yang belum mampu dikuasainya. Akibatnya, akal atau logika lebih berperan, sementara kita tahu bahwa agama dibangun di atas dalil.


Terkait akal atau logika untuk didakwahkan, sebenarnya hal itu mampu menolong. Lihat bagaimana seorang Dzakir Naik menggunakan logikanya saat menjawab pertanyaan untuk membuat sadar si penanya. Pertanyaan-pertanyaan berlandaskan logika atau akal, mampu membuat seorang atheis mengucapkan dua kalimat syahadat atas izin-Nya karena argumen cerdasnyatentu saja beliau selalu mengutip ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana mestinya. Masya Allah.
Jika bercermin pada diri penulis, dakwah yang dilakukan dirasa penuh ketakutan yang luar biasa. Karena, ketidakmampuan diri yang belum menyertakan dalil di samping akal atau logika yang dilontarkan. Bukankah tidak diperkenankan mengikuti da’i yang tidak berdalil? Astagfirullah. L L L
Oke, ada hal lain yang ingin disampaikan.
Penulis pernah menyatakan mundur untuk membina suatu kholaqohalasannya sudah dijelaskan di atas, namun beberapa ikhwah mempertahankan. Mereka bilang;
... jangan begitu, semua orang merasakan apa yang ada di dalam dada dan pikiranmu ...
... setidaknya jangan membiarkan orang lain berdakwah sendirian, temani mereka ...
... mencari ilmu sambil mengamalkan, akan menjagamu ...    
Innalillahi L L L
Sulit sekali. Semua perkataan itu nyaris membuat semaput! Pun gila! Satu sisi memang penulis ingin menuntaskan binaan di kholaqoh, namun sisi lainnya ada ribuan kekurangan diri penulis yang begitu membahayakan dan khawatir menyesatkan. Sampai penulis merasa tidak tahu dakwah itu apa dan bagaimana.
Ah, di dunia ini selalu saja ada dua sisi yang berbeda. Pro-kontra. Positif-negatif. Apa yang akan kau lakukan jika berada di satu posisi seperti ini?



          Ada ulasan menarik yang penulis dapat dari sebuah artikel bersumber potongan hadits riwayat Al-Bukhori no. 3461 dari hadits Abdullah Ibn Umar radiyallahu ‘anhuma. Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, penulis Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsmaimin.
Pertanyaan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsmaimin;
          “Apakah berdakwah kepada Allah itu wajib atas setiap muslim dan muslimah, ataukah hanya terbatas pada para ulama dan penuntut ilmu (syar’i) saja? Dan bolehkan seorang awam berdakwah kepada Allah?”
Jawaban; (berupa ringkasan yang koheren dengan pembahasan yang penulis buat, sementara selengkapnya ada pada alamat web yang tertera di referensi)
       “Seorang da’i tidak dipersyaratkan harus sampai pada derajat/kadar yang tinggi dalam hal ilmu. Akan tetapi, dipersyaratkan ia harus mengetahui apa yang ia dakwahkan. Adapun jika ia menjalankan dakwah atas dasar kebodohan dan perasaan yang ia miliki, maka hal ini tidak boleh. Oleh karena itu, kita sering menemukan saudara-saudara kita yang menyeru kepada jalan Allah, namun tidak memiliki ilmu kecuali sedikit. (QS. An-Nahl : 116-117).
Adapun seorang awam maka ia tidak boleh berdakwah, sementara ia tidak mengetahui apa yang akan ia dakwahkan. Maka, yang pertama kali harus dipenuhi adalah ilmu. Ia harus berdakwah ke jalan Allah dengan landasan ilmu yang jelas (bashirah). Namun, dalam perkara mungkar yang telah jelas atau perkara ma’ruf yang telah jelas, maka ia dapat memerintahkannya jika hal itu sesuatu yang ma’ruf, dan ia dapat melarangnya jika hal itu adalah suatu kemungkaran. (QS. Yusuf ayat 108).”
Jika ditarik garis merahnya, pun menurut Syeikh tersebut, dakwah harus didahului dengan ilmu, karena siapa yang berdakwah tanpa ilmu, maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki, sebagaimana yang telah nampak. Maka, menjadi kewajiban setiap insan untuk belajar terlebih dahulu, lal selanjutnya berdakwah. Sementara, perkara-perkara mungkar yang telah jelas atau pada perkara-perkara ma’ruf yang telah jelas, maka (orang awam itu) dapat melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar di dalamnya.
Jika seorang da’i pada akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan binaan karena tidak sanggup, ada cara berdakwah lain yang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuannya, dan insya Allah hal ini akan menjadikan dakwah dapat ditangani secara proporsional sebagai kegiatan lillah yang sesungguhnya, bukan karena alih-alih ala bisa karena terbiasa.  
 Dakwah memang berliku dan penuh duri. Karenanya, dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah.
Akhir kata, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Jika ada kekurangan dari segi kualitas isi maupun penulisan yang tidak sesuai bahkan bertentangan, kritik dan saran sangat penulis harapkan.
Wallahu ‘alam bishowab.
Referensi
This entry was posted in

Minggu, 01 Januari 2017

MASJID KAMPUS

Oleh : Anafa Rhy (Div. Kemuslimahan DKM Al-Muhajirin 2015)
Bismillah...

MASJID sejatinya adalah sebuah tempat ibadah seorang muslim yang kegiatannya berhubungan langsung dengan Allah swt. Seperti salat, dzikir, tilawah, itikaf dan lain sebagainya. Namun, kini masjid menjadi tempat yang lebih dari sekadar itu. Banyak dari kaum muslim yang menjadikan masjid sebagai tempat musyawarah, terlebih lagi tarbiyyah (pembinaan)selayaknya Rasulullah saw. yang mengajak para sahabat melakukan kedua hal tersebut berupa kholaqoh (lingkaran kecil yang terdiri 6 sampai 12 orang) di masjid. Maka, tak heran jika saat ini masjid dijadikan tempat kajian yang pembahasannya tidak melulu soal keagamaan (baca: tidak hanya membahas zakat, puasa, salat dan sebagainya, melainkan semua tatanan hidup manusia yang diatur oleh Islam).
          Berbicara mengenai masjid, menurut koordinator Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Siliwangi (UNSIL), bapak H. Asep Saefullah M.Ag, menyatakan bahwa masjid terbagi menjadi 3 jenis; masjid masyarakat, masjid keluarga, dan masjid kampus. Pertama, masjid masyarakat. Masjid ini merupakan masjid yang pengelolaannya diatur oleh masyarakat, dari mulai pengurusnya (subyek dakwah) sampai agenda-agenda yang semua sasarannya masyarakat (objek dakwah). Kedua, masjid keluarga. Masjid ini memiliki ruang lingkup yang lebih khusus. Artinya, masjid yang fokusnya ada pada seorang imam di rumah untuk menciptakan suasana religius di setiap aspek kehidupan keluarga. Terakhir, masjid kampus. Masjid ini adalah masjid yang berada di lingkungan universitas. Orang-orang di dalamnya adalah mahasiswa aktif yang berkontribusi lewat organisasi yang disebut Dewan Keluarga Masjid (DKM). Masjid ini tidak hanya terdiri dari mahasiswa sebagai subjek dakwahnya, namun juga ada peran dosen yang membantu keberlangsungan dakwah di masjid ini. Sementara itu, yang menjadi objek dakwah bukan hanya mahasiswa di universitas, tetapi juga masyarakat sekitar.

Masjid Unsil (Sisi pintu akhwat)

            Dari ketiga jenis masjid yang telah dipaparkan, yang menjadi fokus utama dalam pembahasan di sini adalah masjid kampus. Karena, pengelolaan di dalamnya lebih kompleks dan perlu perhatian khusus. Lebih kompleks dalam hal pengelolaan, dan perlu perhatian khusus dalam hal sumber daya manusia yang berafiliasi di dalamnya. Pengelolaan masjid kampus sendiri terdiri dari pelayanan umatmahasiswa dan masyarakatyang meliputi kebersihan masjid demi kenyamanan beribadah. Selain pelayanan umat, pengelolaan kampus terdiri dari agenda-agenda yang tujuan utamanya memakmurkan masjid, seperti kajian inspiratif maupun kegiatan syi’ar lainnya. Sementara itu, perhatian khusus dalam hal sumber daya manusia (SDM) sejatinya merupakan aspek vital. Karena, keberlangsungan dakwah di masjid kampus ada pada tangan-tangan eksekutor, DKM.
Terkait keberlangsungan dakwah, kita tahu bahwa tidak selamanya hal itu berjalan dengan mulus, semuanya tidak selalu berada di koridor visi dan misi yang dijunjung. Karena, berdasarkan realitanya, seringkali subjek dakwah memiliki problematika yang menghambat keberlangsungan tersebut. Seperti pernyataan salah seorang kader PSDM Assalam Polban  2015, Hadar, menyatakan bahwa problematika yang ada yaitu kurangnya atau bahkan belum memiliki “sense of belonging” terhadap dakwah kampus. Rasa memiliki/sense of belonging sulit munculbiasanyakarena, ia tidak bisa mendapatkan haknya setelah bergabung dengan dakwah kampus. Hak dari seorang subjek dakwah yang paling fundamental adalah tarbiyyah. Kasus yang nampaknya sering terjadi di dakwah kampus saat ini adalah pembinaan yang kurang baik dan tidak berkelanjutan. Banyak kader yang bergabung dengan dakwah kampus dengan alasan ingin memperbaiki diri (mendapatkan pembinaan), namun ia sama sekali tidak mendapatkannya di awal-awal. Padahal, pembinaan rutin adalah salah satu bentuk penjagaan kader, dan hal itu merupakan hak bagi setiap kader yang harus dipenuhi. Dengan alasan itulah banyak subjek dakwah/kader yang menarik diri dari dakwah kampus, karena merasa haknya tidak terpenuhi sehingga kontribusinya sedikit demi sedikit mulai terkikis habis.
Pernyataan Hadar tersebut memang benar adanya. Tarbiyyah yang kurang baik dan tidak berkelanjutan menimbulkan kebingungan, ketidakjelasan atau bahkan semaksimalnyajika menganggap semuanya lancarhanya akan terdiri dari agenda yang itu-itu saja. Jika hal ini terus terjadi, maka tergetan dakwah akan lebih sulit tercapai, dan tentu saja hal ini akan merembet pada regenerasi; akankah dakwah memiliki penerus atau tidak. Bagaimana tidak? Ketika regenerasi dilakukan dengan kondisi seperti ini, penerusberdasarkan hasil tinjauan penulismerasa kurang rangkulan, akhirnya satu per satu dari mereka mundur tanpa berita.  Maka, tidak salah dengan ungkapan seorang Fathi Yakan, Robohnya Dakwah di Tangan Da’i. Naudzubillah. Oleh karena itu, dibutuhkan SDM dan penopang yang memadai dari berbagai elemen yang ada agar subjek dakwah terarah.
            Untuk mengatasi problematika ini, kiranya perlu memahamkan kader-kader baru tentang esensi bergabung ke dalam masjid kampus. Agar mereka memiliki rasa terhadap dakwah dengan baik, agar mereka terikat untuk melakukannya secara berjamaah. Sebenarnya, kader baru mungkin saja memiliki pemahaman yang jauh lebih unggul daripada yang sudah terjun terlebih dahulu, akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa realitanya banyak yang merasa sudah bisa berdakwah, namun nyatanya belum purna. Sementara untuk sistem tarbiyyah, hendaknya perlu perbaikkan yang sesuai dengan kondisi yang ada. Boleh melakukan study banding, tetapi tidak semua yang berhasil diterapkan lembaga dakwah lain, dapat berhasil juga pada kita. Itu semua tergantung pada kondisi subjek dakwah dan kader-kader yang ada, serta segala fasilitas yang dimiliki.
            Adapun esensi dari masjid kampus itu sendiri ialah untuk membuat civitas akademika tersentuh nilai-nilai Islami yang tentu saja tidak meninggalkan tujuan utama berdakwah di masjid kampus (baca: tujuan utamanya adalah memfasilitasi umat dengan segala pelayanan terbaik, bukan hanya program kerja semata). Bukankah semua ini perlu kerja keras yang tidak mudah? Bukankah dibutuhkan tim yang solid untuk merealisasikan visi-misi yang dijunjung? Maka, segalanya harus dibarengi rencana-rencana strategis dari subjek dakwah dengan merangkul kader-kader baru agar kontribusi yang diberikan dapat maksimal dan mereka mendapatkan hak fundamentalnya di awal. Jika hal ini sudah terpenuhi, maka kebutuhan akan kontribusi dari yang sederhaha sampai yang sekompleks apapun dari objek dakwah, insya Allah akan dapat ditangani.
Pada dasarnya, masjid di setiap universitas memiliki problematika sendiri-sendiri. Problematika dari internal maupun eksternal. Ada yang problemnya pada sumber daya manusia, tarbiyyah, proses pengkaderan, maupun pada objek dakwahnya. Jika memang masalahnya seperti itu, maka kata seorang Salim A. Fillah ada 4 hal yang harus disadari:
1. Terimalah kaumu apa adanya.
2. Maklumi kekurangan mereka.
3. Maafkan kesalahan mereka
4. Jangan berbicara pada mereka apa yang mereka tidak pahami.
Maksud dari keempat poin di atas adalah ketika sarana dakwah dan atau segala sesuatunya belum sesuai dengan apa yang seharusnya, dengan apa yang kita harapkanketika pertama kali bergabungsadarilah semua itu. Sabar. Karena, tidak semua potensi antar kader sama, pun tidak semua pemahaman antar da’i itu sama. Meskipun demikian, kita tidak boleh berdakwah sendirian, kita tetap harus melakukannya bersama-sama, apapun risikonya.
            Akhir kata, semoga tulisan sederhana ini memberi manfaat pada sesiapa yang menggeluti dunia dakwah, terutama kader-kader masjid kampus di universitas berlogo Maung (#SalamRindu!). Lalu, jika ada kekuranganpasti banyakbaik dari segi kualitas isi maupun penulisan, kritik dan saransangatpenulis diharapkan.
Wallahu ‘alam bishowab.
Referensi
Hadar. 2015. Sinergitas Antara Kaderisasi dengan Syi’ar. PSDM Assalam Polban. Bandung
Idem. A Sense of Belonging to Dakwah Kampus.
              
This entry was posted in