Minggu, 29 Januari 2017

MENCARI BENANG MERAH

Oleh : Anafa Rhy (Div. Kemuslimahan DKM Al-Muhajirin 2015)

Bismillah...
KATA dakwah biasanya terdengar setelah kata ‘HIJRAH’ dan ‘ISTIQOMAH’. Sebelum berbicara mengenai dakwah, yang penulis tahu, hijrah adalah berubahnya seseorang menjadi lebih baik, meninggalkan yang buruk menuju kebaikkan, atau berpindahnya seseorang dari satu tempat ke tempat lain demi perubahan diri yang lebih baik. Semuanya dilakukan untuk mendekat ke arah-Nya. Agar diri menjauhi maksiat. Setelahnya, hijrah sejatinya terus dilakukan sampai akhir hayat. Bukan berarti setelah sekali hijrah, seseorang sudah selesai melampauinya. Karena, setiap harinya ia memiliki tingkatan-tingkatan hijrah yang harus dicapai. Bukankah ada sebuah proses bagai anak tangga di sana?
Contoh kasus; ketika seorang perempuan memutuskan untuk berkerung, namun ia masih memakai celana, bukankah perlu melampaui tingkatan hijrah lain? Menggunakan rok dan memperlebar kerudung agar terulur sampai dada? Lalu, mencoba untuk bersikap sebagaimana muslimah seharusnya? Begitu, kan? Semuanya seolah tidak berujung. Hijrah terus.
Sementara, istiqomah berarti bertahan, tetap, maupun berkomitmen terhadap hijrah yang sudah dilakukan. Menurut Ibnu Abbas radhiallahu ’anhu, istiqomah mengandung 3 macam arti; istiqomah dengan lisan (bertahan terus pada kalimat syahadat), istiqomah dengan hati (terus melakukan niat yang jujur), dan istiqomah dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus). Jadi, posisi istiqomah berada setelah hijrah.
           Hijrah dan istiqomah adalah dua hal yang tidak mudah dilakukan. Banyak yang kemudian kembali lalai akibat faktor internal maupun eksternal yang terus menimpa diri. Tidak mudah. Maka, berbahagialah orang yang sampai saat ini masih berada di koridor hijrah dan istiqomah. Orang-orang ini (baca: mereka yang senantiasa berhijrah lalu istiqomah), biasanya Allah amanahkan untuk mulai menaiki level selanjutnya; berdakwah. Tentunya, tingkatan ini bukan perkara yang ringan, pertanggungjawabannya sampai akhirat. Bagaimana tidak? Di samping sedang memperbaiki diri, ia juga diamanahkan untuk membantu memperbaiki diri orang lain. Kedua hal yang dilakukan sekaligus biasanya membutuhkan tenaga yang lebih keras . Masya Allah.
          Oke, pembahasan terkait dakwah akan penulis paparkan selanjutnya. Dari sekian banyak penjelasan dakwah yang ada, hal yang penulis ingat betul dari XI SMA sampai sekarang, dakwah itu 3 hal; panjang jalannya, lama prosesnya, dan sedikit pengikutnya. Selain itu, dakwah merupakan kegiatan menyeru seseorang kepada iman. Dakwah ini susahnya minta ampun. Ketika dipaksa terjun ke dunia dakwah, penulis menangis karena takut. Namun, ikhwah berkata; kalau bukan kita, siapa lagi? Bukankah ketika hanya ada 1 orang di muka bumi yang berdakwah itu harus diri ini? Kau. Kita. Ayo berjuang bersama-sama, katanya. Tidak ada sedih dan galau, perihal itulah yang membuat penulis maju berdakwah beberapa tahun lalu (baca: ingat, kan, bukan berarti dakwah itu melulu berdiri di atas mimbar?).
Seiring berjalannya waktu, tantangan pun semakin berat. Ilmu yang harus ditelan semakin banyak. Waktu dan tenaga lebih banyak terkuras. Setiap tutur kata dan tulisan, bagaikan buku yang isinya harus terjaga bagi pembacanya. Bukankah seorang da’i itu harus sesuai antara perkataan dengan perbuatannya? Inilah yang terkadang menjadi penghambat ketika berdakwah, hal ini mengingatkan penulis pada QS. As-Saff ayat 2 & 3 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. Selain itu, banyak kondisi di mana da’i dihadapkan pada situasi yang belum mampu dikuasainya. Akibatnya, akal atau logika lebih berperan, sementara kita tahu bahwa agama dibangun di atas dalil.


Terkait akal atau logika untuk didakwahkan, sebenarnya hal itu mampu menolong. Lihat bagaimana seorang Dzakir Naik menggunakan logikanya saat menjawab pertanyaan untuk membuat sadar si penanya. Pertanyaan-pertanyaan berlandaskan logika atau akal, mampu membuat seorang atheis mengucapkan dua kalimat syahadat atas izin-Nya karena argumen cerdasnyatentu saja beliau selalu mengutip ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana mestinya. Masya Allah.
Jika bercermin pada diri penulis, dakwah yang dilakukan dirasa penuh ketakutan yang luar biasa. Karena, ketidakmampuan diri yang belum menyertakan dalil di samping akal atau logika yang dilontarkan. Bukankah tidak diperkenankan mengikuti da’i yang tidak berdalil? Astagfirullah. L L L
Oke, ada hal lain yang ingin disampaikan.
Penulis pernah menyatakan mundur untuk membina suatu kholaqohalasannya sudah dijelaskan di atas, namun beberapa ikhwah mempertahankan. Mereka bilang;
... jangan begitu, semua orang merasakan apa yang ada di dalam dada dan pikiranmu ...
... setidaknya jangan membiarkan orang lain berdakwah sendirian, temani mereka ...
... mencari ilmu sambil mengamalkan, akan menjagamu ...    
Innalillahi L L L
Sulit sekali. Semua perkataan itu nyaris membuat semaput! Pun gila! Satu sisi memang penulis ingin menuntaskan binaan di kholaqoh, namun sisi lainnya ada ribuan kekurangan diri penulis yang begitu membahayakan dan khawatir menyesatkan. Sampai penulis merasa tidak tahu dakwah itu apa dan bagaimana.
Ah, di dunia ini selalu saja ada dua sisi yang berbeda. Pro-kontra. Positif-negatif. Apa yang akan kau lakukan jika berada di satu posisi seperti ini?



          Ada ulasan menarik yang penulis dapat dari sebuah artikel bersumber potongan hadits riwayat Al-Bukhori no. 3461 dari hadits Abdullah Ibn Umar radiyallahu ‘anhuma. Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, penulis Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsmaimin.
Pertanyaan kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsmaimin;
          “Apakah berdakwah kepada Allah itu wajib atas setiap muslim dan muslimah, ataukah hanya terbatas pada para ulama dan penuntut ilmu (syar’i) saja? Dan bolehkan seorang awam berdakwah kepada Allah?”
Jawaban; (berupa ringkasan yang koheren dengan pembahasan yang penulis buat, sementara selengkapnya ada pada alamat web yang tertera di referensi)
       “Seorang da’i tidak dipersyaratkan harus sampai pada derajat/kadar yang tinggi dalam hal ilmu. Akan tetapi, dipersyaratkan ia harus mengetahui apa yang ia dakwahkan. Adapun jika ia menjalankan dakwah atas dasar kebodohan dan perasaan yang ia miliki, maka hal ini tidak boleh. Oleh karena itu, kita sering menemukan saudara-saudara kita yang menyeru kepada jalan Allah, namun tidak memiliki ilmu kecuali sedikit. (QS. An-Nahl : 116-117).
Adapun seorang awam maka ia tidak boleh berdakwah, sementara ia tidak mengetahui apa yang akan ia dakwahkan. Maka, yang pertama kali harus dipenuhi adalah ilmu. Ia harus berdakwah ke jalan Allah dengan landasan ilmu yang jelas (bashirah). Namun, dalam perkara mungkar yang telah jelas atau perkara ma’ruf yang telah jelas, maka ia dapat memerintahkannya jika hal itu sesuatu yang ma’ruf, dan ia dapat melarangnya jika hal itu adalah suatu kemungkaran. (QS. Yusuf ayat 108).”
Jika ditarik garis merahnya, pun menurut Syeikh tersebut, dakwah harus didahului dengan ilmu, karena siapa yang berdakwah tanpa ilmu, maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki, sebagaimana yang telah nampak. Maka, menjadi kewajiban setiap insan untuk belajar terlebih dahulu, lal selanjutnya berdakwah. Sementara, perkara-perkara mungkar yang telah jelas atau pada perkara-perkara ma’ruf yang telah jelas, maka (orang awam itu) dapat melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar di dalamnya.
Jika seorang da’i pada akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan binaan karena tidak sanggup, ada cara berdakwah lain yang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuannya, dan insya Allah hal ini akan menjadikan dakwah dapat ditangani secara proporsional sebagai kegiatan lillah yang sesungguhnya, bukan karena alih-alih ala bisa karena terbiasa.  
 Dakwah memang berliku dan penuh duri. Karenanya, dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah.
Akhir kata, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Jika ada kekurangan dari segi kualitas isi maupun penulisan yang tidak sesuai bahkan bertentangan, kritik dan saran sangat penulis harapkan.
Wallahu ‘alam bishowab.
Referensi
This entry was posted in

Minggu, 01 Januari 2017

MASJID KAMPUS

Oleh : Anafa Rhy (Div. Kemuslimahan DKM Al-Muhajirin 2015)
Bismillah...

MASJID sejatinya adalah sebuah tempat ibadah seorang muslim yang kegiatannya berhubungan langsung dengan Allah swt. Seperti salat, dzikir, tilawah, itikaf dan lain sebagainya. Namun, kini masjid menjadi tempat yang lebih dari sekadar itu. Banyak dari kaum muslim yang menjadikan masjid sebagai tempat musyawarah, terlebih lagi tarbiyyah (pembinaan)selayaknya Rasulullah saw. yang mengajak para sahabat melakukan kedua hal tersebut berupa kholaqoh (lingkaran kecil yang terdiri 6 sampai 12 orang) di masjid. Maka, tak heran jika saat ini masjid dijadikan tempat kajian yang pembahasannya tidak melulu soal keagamaan (baca: tidak hanya membahas zakat, puasa, salat dan sebagainya, melainkan semua tatanan hidup manusia yang diatur oleh Islam).
          Berbicara mengenai masjid, menurut koordinator Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Siliwangi (UNSIL), bapak H. Asep Saefullah M.Ag, menyatakan bahwa masjid terbagi menjadi 3 jenis; masjid masyarakat, masjid keluarga, dan masjid kampus. Pertama, masjid masyarakat. Masjid ini merupakan masjid yang pengelolaannya diatur oleh masyarakat, dari mulai pengurusnya (subyek dakwah) sampai agenda-agenda yang semua sasarannya masyarakat (objek dakwah). Kedua, masjid keluarga. Masjid ini memiliki ruang lingkup yang lebih khusus. Artinya, masjid yang fokusnya ada pada seorang imam di rumah untuk menciptakan suasana religius di setiap aspek kehidupan keluarga. Terakhir, masjid kampus. Masjid ini adalah masjid yang berada di lingkungan universitas. Orang-orang di dalamnya adalah mahasiswa aktif yang berkontribusi lewat organisasi yang disebut Dewan Keluarga Masjid (DKM). Masjid ini tidak hanya terdiri dari mahasiswa sebagai subjek dakwahnya, namun juga ada peran dosen yang membantu keberlangsungan dakwah di masjid ini. Sementara itu, yang menjadi objek dakwah bukan hanya mahasiswa di universitas, tetapi juga masyarakat sekitar.

Masjid Unsil (Sisi pintu akhwat)

            Dari ketiga jenis masjid yang telah dipaparkan, yang menjadi fokus utama dalam pembahasan di sini adalah masjid kampus. Karena, pengelolaan di dalamnya lebih kompleks dan perlu perhatian khusus. Lebih kompleks dalam hal pengelolaan, dan perlu perhatian khusus dalam hal sumber daya manusia yang berafiliasi di dalamnya. Pengelolaan masjid kampus sendiri terdiri dari pelayanan umatmahasiswa dan masyarakatyang meliputi kebersihan masjid demi kenyamanan beribadah. Selain pelayanan umat, pengelolaan kampus terdiri dari agenda-agenda yang tujuan utamanya memakmurkan masjid, seperti kajian inspiratif maupun kegiatan syi’ar lainnya. Sementara itu, perhatian khusus dalam hal sumber daya manusia (SDM) sejatinya merupakan aspek vital. Karena, keberlangsungan dakwah di masjid kampus ada pada tangan-tangan eksekutor, DKM.
Terkait keberlangsungan dakwah, kita tahu bahwa tidak selamanya hal itu berjalan dengan mulus, semuanya tidak selalu berada di koridor visi dan misi yang dijunjung. Karena, berdasarkan realitanya, seringkali subjek dakwah memiliki problematika yang menghambat keberlangsungan tersebut. Seperti pernyataan salah seorang kader PSDM Assalam Polban  2015, Hadar, menyatakan bahwa problematika yang ada yaitu kurangnya atau bahkan belum memiliki “sense of belonging” terhadap dakwah kampus. Rasa memiliki/sense of belonging sulit munculbiasanyakarena, ia tidak bisa mendapatkan haknya setelah bergabung dengan dakwah kampus. Hak dari seorang subjek dakwah yang paling fundamental adalah tarbiyyah. Kasus yang nampaknya sering terjadi di dakwah kampus saat ini adalah pembinaan yang kurang baik dan tidak berkelanjutan. Banyak kader yang bergabung dengan dakwah kampus dengan alasan ingin memperbaiki diri (mendapatkan pembinaan), namun ia sama sekali tidak mendapatkannya di awal-awal. Padahal, pembinaan rutin adalah salah satu bentuk penjagaan kader, dan hal itu merupakan hak bagi setiap kader yang harus dipenuhi. Dengan alasan itulah banyak subjek dakwah/kader yang menarik diri dari dakwah kampus, karena merasa haknya tidak terpenuhi sehingga kontribusinya sedikit demi sedikit mulai terkikis habis.
Pernyataan Hadar tersebut memang benar adanya. Tarbiyyah yang kurang baik dan tidak berkelanjutan menimbulkan kebingungan, ketidakjelasan atau bahkan semaksimalnyajika menganggap semuanya lancarhanya akan terdiri dari agenda yang itu-itu saja. Jika hal ini terus terjadi, maka tergetan dakwah akan lebih sulit tercapai, dan tentu saja hal ini akan merembet pada regenerasi; akankah dakwah memiliki penerus atau tidak. Bagaimana tidak? Ketika regenerasi dilakukan dengan kondisi seperti ini, penerusberdasarkan hasil tinjauan penulismerasa kurang rangkulan, akhirnya satu per satu dari mereka mundur tanpa berita.  Maka, tidak salah dengan ungkapan seorang Fathi Yakan, Robohnya Dakwah di Tangan Da’i. Naudzubillah. Oleh karena itu, dibutuhkan SDM dan penopang yang memadai dari berbagai elemen yang ada agar subjek dakwah terarah.
            Untuk mengatasi problematika ini, kiranya perlu memahamkan kader-kader baru tentang esensi bergabung ke dalam masjid kampus. Agar mereka memiliki rasa terhadap dakwah dengan baik, agar mereka terikat untuk melakukannya secara berjamaah. Sebenarnya, kader baru mungkin saja memiliki pemahaman yang jauh lebih unggul daripada yang sudah terjun terlebih dahulu, akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa realitanya banyak yang merasa sudah bisa berdakwah, namun nyatanya belum purna. Sementara untuk sistem tarbiyyah, hendaknya perlu perbaikkan yang sesuai dengan kondisi yang ada. Boleh melakukan study banding, tetapi tidak semua yang berhasil diterapkan lembaga dakwah lain, dapat berhasil juga pada kita. Itu semua tergantung pada kondisi subjek dakwah dan kader-kader yang ada, serta segala fasilitas yang dimiliki.
            Adapun esensi dari masjid kampus itu sendiri ialah untuk membuat civitas akademika tersentuh nilai-nilai Islami yang tentu saja tidak meninggalkan tujuan utama berdakwah di masjid kampus (baca: tujuan utamanya adalah memfasilitasi umat dengan segala pelayanan terbaik, bukan hanya program kerja semata). Bukankah semua ini perlu kerja keras yang tidak mudah? Bukankah dibutuhkan tim yang solid untuk merealisasikan visi-misi yang dijunjung? Maka, segalanya harus dibarengi rencana-rencana strategis dari subjek dakwah dengan merangkul kader-kader baru agar kontribusi yang diberikan dapat maksimal dan mereka mendapatkan hak fundamentalnya di awal. Jika hal ini sudah terpenuhi, maka kebutuhan akan kontribusi dari yang sederhaha sampai yang sekompleks apapun dari objek dakwah, insya Allah akan dapat ditangani.
Pada dasarnya, masjid di setiap universitas memiliki problematika sendiri-sendiri. Problematika dari internal maupun eksternal. Ada yang problemnya pada sumber daya manusia, tarbiyyah, proses pengkaderan, maupun pada objek dakwahnya. Jika memang masalahnya seperti itu, maka kata seorang Salim A. Fillah ada 4 hal yang harus disadari:
1. Terimalah kaumu apa adanya.
2. Maklumi kekurangan mereka.
3. Maafkan kesalahan mereka
4. Jangan berbicara pada mereka apa yang mereka tidak pahami.
Maksud dari keempat poin di atas adalah ketika sarana dakwah dan atau segala sesuatunya belum sesuai dengan apa yang seharusnya, dengan apa yang kita harapkanketika pertama kali bergabungsadarilah semua itu. Sabar. Karena, tidak semua potensi antar kader sama, pun tidak semua pemahaman antar da’i itu sama. Meskipun demikian, kita tidak boleh berdakwah sendirian, kita tetap harus melakukannya bersama-sama, apapun risikonya.
            Akhir kata, semoga tulisan sederhana ini memberi manfaat pada sesiapa yang menggeluti dunia dakwah, terutama kader-kader masjid kampus di universitas berlogo Maung (#SalamRindu!). Lalu, jika ada kekuranganpasti banyakbaik dari segi kualitas isi maupun penulisan, kritik dan saransangatpenulis diharapkan.
Wallahu ‘alam bishowab.
Referensi
Hadar. 2015. Sinergitas Antara Kaderisasi dengan Syi’ar. PSDM Assalam Polban. Bandung
Idem. A Sense of Belonging to Dakwah Kampus.
              
This entry was posted in