AH, kacau
balau. Moodku nggak lagi sama seperti
saat aku berangkat ngampus. Jadi ceritanya... aku habis ujian praktik Pronunciation Practice—dengan dosen
yang selalu bikin atmosfer jadi tegang dan beku sebeku es di Kutub sanaaa—moodku yang awalnya santai, tenang, optimis,
menjadi rontok seketika waktu aku hanya satu-satunya orang yang dikoreksi
karena pelafalan bahasa Inggrisku yang amburadul di kelompokku—dalam satu kelas itu ujiannya dibagi ke
dalam beberapa kelompok, satu kelompok terdiri dari lima orang. Nah, hanya aku
seorang yang dikoreksi, aku malu pada diriku sendiri L keempat temanku yang lain mulus—you were great, Guys!
Dengan langkah gontai, wajah kusut,
dan pikiran yang ke sana ke mari, aku
berjalan menuju masjid, menunggu seorang teman yang satu setengah jam lagi baru
akan datang. Karena bingung harus berbuat apa selama itu, aku melampiaskan mood yang rusak ke kertas. Aku iseng
menulis begini;
Nggk jelas
ya? -_- Intinya, yang aku tulis itu lebih mengarah pada apa yang harus aku
perbaiki, seperti bermuhasabah, introspeksi. Setelah menulis, aku melirik rak
buku yang terdapat di salah satu sisi masjid—rak
itu seolah melambai dan berkata, “baca aku... kemarilah”—baiklah, aku
menurut, lalu mulai mencari buku dengan harap ada buku jitu yang bisa mengobati
moodku. Tapi, akhirnya aku memilih
buku ini;
Hoho.. What do you think? Mm.. it’s so interesting.
Aku ambil buku itu. Ah, pas sekali karena, aku sedang dapat tugas mencari tetek-bengek
tentang Syi’ah dari Murrabiyahku yang akan dibahas beberapa hari lagi di
mentoring. Cocok. Aku lalu mencari posisi W, PW, you know, posisi wenak. Bah! Aku penasaran sekali dengan yang
namanya Syi’ah! Seolah tidak ingin ada yang terlewat dari setiap kata di buku
itu, aku rela membaca kata pengantar, sambutan dan pendahuluan. Setelahnya,
baru aku baca isi bukunya. Bahasan awal ialah hal mendasar, sejarah Syi’ah.
Akan aku sampaikan sejarahnya, bunyinya begini; ada yang menganggap
Syi’ah lahir pada masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan atau pada masa awal
kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Pada masa itu, terjadi pemberontakkan terhadap
khalifah Utsman bin Affan yang berakhir dengan kesyahidan Utsman dan ada
tuntutan umat agar Ali bin Abi Thalib bersedia dibaiat sebagai khalifah.
Tampaknya, pendapat yang paling popular adalah bahwa Syi’ah lahir setelah
gagalnya perundingan antara pihak pasukan khalifah Ali dengan pihak Mu’awiyah
bin Abu Sufyan di Siffin yang lazim disebut sebagai peristiwa at-Takhim
(arbitrasi). Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan Ali menentang
kepemimpinannya dan keluar dari pasukan Ali. Mereka yang keluar disebut
khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali). Sebagian besar orang yang
tetap setia kepada khalifah disebut Syi’ah Ali (Pengikut Ali).
Sesekali aku merenung begitu membaca
kalimat-kalimat di atas. Karena aku nggak paham, maka aku berkali-kali
mengulang membacanya. Setelah dirasa cukup, aku baru membaca kalimat selanjutnya.
Oke.. lanjut!
Istilah Syi’ah pada era kekhalifahan Ali hanya bermakna pembelaan dan
dukungan politik. Syi’ah Ali yang muncul pertama kali pada era kekhalifahan Ali
bin Abi Thalib, bisa disebut sebagai pengikut setia khalifah yang sah pada saat
itu melawan pihak Mu’awiyah, dan hanya bersifat kultural, bukan bercorak aqidah
seperti yang dikenal pada masa sesudahnya hingga sekarang. Sebab, kelompok
setia Syi’ah Ali yang terdiri dari sebagian sahabat Rasulullah dan sebagian
besar tabi’in pada saat itu tidak ada yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi
Thalib lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan setelah Rasul dari pada
Abu Bakr dan Umar bin Al Khattab. Bahkan Ali bin Abi Thalib sendiri, saat
menjadi khalifah, menegaskan dari atas mimbar masjid Kufah ketika berkhutbah
bahwa, “Sebaik-baik umat Islam setelah
Nabi Muhammad adalah Abu Bakr dan Umar.” (lihat Shahih al Bukhari juz 5/7,
Sunan Abu Dawud juz 4/282, Sunan Ibnu Majah, juz 1/39).
Menurut Murtadha Mutahhari—ulama Syi’ah—“Ali bin Abi Thalib adalah sahabat nabi
seperti juga Abu Bakr, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan yang lainnya.
Tetapi Ali lebih berhak, lebih terdidik, lebih shaleh dan lebih berkemampuan
ketimbang para sahabat lainnya, dan bahwa Nabi sudah merencanakannya sebagai
pengganti beliau. Kaum Syi’ah meyakini Ali dan keturunannya sebagai imam yang
berhak atas kepemimpinan politis dan otoritas keagamaan.” Dengan kata lain, mereka
meyakini bahwa yang berhak atas otoritas spiritual dan politis dalam komunitas
Islam pasca nabi adalah Ali beserta keturunannya.
Sedangkan menurut Thabathabai, Syi’ah
muncul karena kritik dan protes terhadap dua masalah besar dalam Islam, yaitu
berkenaan dengan pemerintah Islam dan kewenangan dalam pengetahuan keagamaan
yang menurut Syi’ah menjadi hak istimewa ahl
al-bait.
Otakku berpikir keras mencerna setiap
kalimat-kalimat itu. Tak jarang aku bergumam, “Maksudnya?”, “Oh”, “Hah?”, “Ya
Allah”, “Eh.. Gak ngerti -_-”.
Selanjutnya, buku itu berbicara...
Kendatipun persoalan imamah menjadi pokok keimanan Syi’ah, tetapi ternyata
telah terjadi perbedaan dan perselisihan di kalangan firqah-firqah Syi’ah,
terutama pada penentuan siapakah yang menjadi “imam”. Al-Hasan bin Musa
an-Naubakhti, ulama Syi’ah yang hidup pada pertengahan abad ke 3 H hinggan awal
4 H, dalam kitab Firaq as-Syi’ah (hal 19-109) telah menjelaskan
perbedaan-perbedaan itu dalam beberapa bentangan periodik. Di antaranya,
setelah Ali bin Abi Thalib wafat, menurutnya an-Naubakhti, Syi’ah terbagi
menjadi 3 golongan:
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. 3
golongan???
Pertama, kelompok yang berpendapat Ali
tidak mati terbunuh, dan tiak akan mati, hingga ia berhasil menegakkan keadilan
di dunia. Inilah kelompok ekstrim (ghuluw)
pertama. Kelompok ini disebut Syi’ah as
Saba’iyah yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’.
Saba’? Abdullah bin Saba’? Nama itu
sepertinya nggak asing lagi, aku kembali teringat. Ukhti—salah satu teman hijraku sewaktu SMA—pernah bilang kalau pelopor Syi’ah itu
adalah Abdullah bin Saba’. Tapi, Ukhti suruh aku cari referensi lain. Dia
selalu bilang kata-kata ini sebelum menyampaikan apa yang ia tahu, katanya..
“sependek ilmuku”, baru deh bla bla bla ngasih tau informasinya. Ia sangat
hati-hati sekali, khawatir salah, nanti fatal katanya. Nah, Ukhti nyaris benar.
Buku itu menguak siapa Abdullah bin Saba’ sebenarnya.
Sebelum mengenal Abdullah bin Saba’,
ada lanjutan tentang golongan yang pertama yang sedang dibahas ini. Kelompok
ini adalah kelompok yang terang-terangan mencaci serta berlepas diri (bara’ah)
dari Abu Bakr, Umar dan Utsman serta para sahabat Rasulullah. Mereka mengaku
Ali-lah yang menyuruh mereka untuk melakukan hal ini. ketika dipanggil oleh Ali
mereka mengakui perbuatannya. Hampir saja Ali memvonis mati terhadap Abdullah
bin Saba’, tetapi karena pertimbangan beberapa orang, sehingga Ali hanya
mengusir Abdullah bin Saba’ ke al Madain.
Nah, lanjut bahas Abdullah bin Saba’
lebih detail. Menurut an-Naubakhti, Abdullah bin Saba’ asalnya beragama Yahudi.
Ketika masuk Islam, ia mendukung Ali. Dialah orang pertama yang terang-terangan
mengisukan kewajiban imamahnya Ali serta berlepas diri dari musuh-musuhnya.
Dijelaskan pula, bahwa ketika ia masih beragama Yahudi pernah mempopoulerkan
pendapat bahwa Yusa’ bin Nun adalah pelanjut nabi Musa. Maka ketika masuk Islam,
ia pun berpendapat bahwa Ali adalah pelanjut Nabi Muhammad. Faktor inilah yang
membuat orang menuduh bahwa sumber ajaran Syi’ah berasal dari Yahudi.
Astagfirullahaldzim... tidakkah
seluruh umat Muslim tahu bahwa Nabi Muhammad adalah nabi penutup? Tidak ada
Nabi setelah beliau. Astagfirullahaladzim. Abdullah bin Saba’ benar-benar...
“Boleh saya ikut baca buku-buku ini?”
Seseorang tiba-tiba bertanya padaku. Mendengar
suara itu, fokusku pada Abdullah bin Saba’ langsung buyar, menguap. Seketika aku mendongakkan kepala, menggeser tempat
duduk dan buru-buru menutupi sampul buku yang sedang aku baca ini.
“Oh, iya, boleh. Mangga.” Kataku kikuk.
Orang itu spontan duduk di sebelahku.
Aku melirik ke arahnya, ia memakai jaket, di baliknya ada kerudung lebar dan
panjang yang kedua tangannya memakai xxxxxx xxxxxx. Aku sedikit memesarkan
kedua bola mata. Seketika aku teringat cerita beberapa orang teman tentang
seseorang yang berpakaian persis orang di sampingku ini. Aku menelan ludah.
“Waktu dzuhur jam berapa, ya?”
tanyanya lagi.
“Nyaris jam dua belas.” jawabku.
Sedetik kemudian, aku menyadari sesuatu, ada yang janggal. Aneh. Bukankah
orang-orang di masjid ini tahu bahwa waktu dzuhur sekitar jam dua belas?
Ingatanku tentang apa yang diomongkan teman-temanku itu semakin melekat di
kepalaku. Aku deg-degan.
Beberapa saat kemudian, dua orang
kakak tingkatku datang menghampiri kami. Duduk. Lalu, salah satu dari mereka
mulai mengajakku bicara. Di dalam hati, aku mengembuskan napas lega
selega-leganya. Aku yakin, kedua kakak tingkatku itu mengetahui apa yang sedang
terjadi, mereka tidak menghampiriku cuma-cuma.
Kakak tingkatku juga bertanya pada
orang di sampingku ini,
“Teh, dari mana?”
Ia tersenyum, “Dari... dari rumah.”
jawabnya bercanda sambil membuka-buka buku yang aku duga ia tidak benar-benar
membacanya.
Kemudian, kedua kakak tingkatku itu
terus mengajakku berbicara, tak peduli ngaler-ngidul. Sampai pada akhirnya,
salah satu kakak tingkatku itu bertanya,
“Lagi baca buku apa?”
Duh! Aku menggerakkan bukunya sedikit,
tapi buru-buru kuturunkan karena orang di sampingku ini melirik ke arahku. Aku
juga tidak yakin kakak tingkatku itu berhasil melihat judul bukunya atau tidak.
Tapi, ia mengangguk saja.
“Mau ikut ke dalam? Kata kakak
tingkatku sambil menunjuk ruangan DKM Masjid ini. Kakak tingkatku itu adalah
salah satu anggota dari DKM.
Tanpa pikir panjang aku mengangguk.
“Teh, ditinggal dulu, ya.” pamit kakak
tingkatku ke orang itu.
Orang itu menyungging senyum. “Oh,
iya, iya.”
Aku dan kakak tingkatku buru-buru
memasuki ruangan yang dimaskud. Di dalam, kami langsung mengeluarkan unek-unek.
Napasku terhembus seperti habis dikejar banteng (lebay -_-).
“Orang itu udah beberapa kali
kelihatan ngincar seseorang yang menurutnya tepat untuk diincar. Hati-hati.
Jangan sendirian. Khawatir dihipnotis atau apalah.”
Jantungku melengos. “Iya, teh. Untung teteh
nyamperin. Kalau nggk, aku udah ditanya-tanya.”
“Oh, jadi kamu udah tahu?”
Aku mengangguk. “Ya. Ada dua orang
temanku yang berhasil ditanya-tanya. Malah sudah nyaris mengarahkan pembicaraan
pada paham yang dianutnya.”
Oh, ya, aku belum bilang.. Jadi
begini, akhir-akhir ini ada orang-orang seperti orang yang duduk di sebelahku
melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti.. “Kenapa kita harus berkerudung?”,
“Aurat itu mana saja, sih?”, “Kenapa kita harus salat?”, Wallahu alam tujuannya
apa. Tapi, dengar-dengar, orang itu nantinya akan mem-follow up lewat
kajian-kajian mereka, yang ujung-ujungnya... pencucian otak. Wallahu alam
bishawab.
Dari pengalamanku ini, garis besar
yang ingin aku bicarakan tediri dari beberapa hal. Satu, zaman sekarang kerudung
panjang sudah tidak aneh, sudah sering terlihat di mana-mana; kampus, mall, toko, pasar, dsb. Berbeda dengan
dulu. Hal itu berarti kejayaan Islam mulai merangkak kembali. Dua, banyak umat
Islam sekarang yang sudah saling tidak percaya. Kerudung panjang dan besar tak
jarang dipandang sebelah mata, mungkin pandangan seperti itu memang ada dari
dulu, mereka yang berkerudung besar dan syar’i diidentikkan dengan teroris. Sangat
disayangkan, sangat dirugikan mana yang benar muslim, mana muslim yang menyalahgunakan
syariat Islam. Astagfirullah. Dampaknya? Iffah dan izzah Islam tercoreng jelas.
Sahabat, sebenarnya tidak ada yang
salah dari tampilan orang yang membuatku deg-degan itu. Pakaiannya adalah
pakaian yang seharusnya digunakan muslimah. Tidak ada yang salah. Tapi, yang
membuatnya salah adalah.. tunggu.. “salah” sepertinya bukan kata yang tepat,
karena bisa jadi aku yang parno. Mungkin aku telah suudzhon? Astagfirullah. Back to the topic, jadi yang membuatnya “kelihatan
beda” adalah pertanyaannya yang tidak biasa di situasi antara orang yang belum
saling mengenal. Tiba-tiba bertanya seperti itu, kan, lumayan membuat alis
berkerut. Ah, tapi aku tidak ingin menilai seseorang, tidak ingin men-judge
sembarangan orang yang tidak kutahu asal-usulnya—meski
aku punya hak untuk berpendapat. Dan yang terpenting, tidak ingin membuat
kalian kebingungan membaca ini :D
Untuk kalian yang membaca ini, jika
perempuan, berpakaianlah sebagaimana Islam telah memberi aturan. Karena hanya
ada satu Islam, maka berkapaianlah sesuai perintah-Nya di QS Al-Ahzab:59 dan
An-Nur:31. Salah satunya yaitu mengulurkan kerudung sampai menutupi dada. Jadi,
patuhi perintah itu. Menutupi dada. Oh ya, kalau lihat perempuan berkerudung
besar dan panjang, terus berfikir positif ya! Itu, kan, memang sudah
seharusnya. Yang perlu diwaspadai ketika ada orang yang gerak-gerik dan
obrolannya dirasa menyimpang dari syariat. Baru, deh, waspada tingkat tinggi.
Ingat ya, jika gerak-gerik dan obrolannya dirasa menyimpang dari syariat.
Nah, jika kalian yang membaca ini
laki-laki, perdalamlah ilmu agama agar menjadi calon pemimpin yang tahu secara
kaffah tentang Islam. Itu penting, kan? Agar tidak ada cerita kalian disebut
terosis hanya karena berkumis dan berjenggot. Ilmu, ilmu, ilmu. Belajar
terussss.
Well, sekian pengalamanku. Aku telah
belajar beberapa hal baru di lingkungan yang juga baru. Kampus. Semoga bermanfaat, ya!
Jika kuingat kejadian itu, benar-benar membuat jantungku deg-degan.
Deg-degan, di rumah Allah.
Tasikmalaya, 30 Mei 2016
Fitri Rahayu







