Senin, 30 Mei 2016

Deg-degan di Rumah Allah

AH, kacau balau. Moodku nggak lagi sama seperti saat aku berangkat ngampus. Jadi ceritanya... aku habis ujian praktik Pronunciation Practicedengan dosen yang selalu bikin atmosfer jadi tegang dan beku sebeku es di Kutub sanaaamoodku yang awalnya santai, tenang, optimis, menjadi rontok seketika waktu aku hanya satu-satunya orang yang dikoreksi karena pelafalan bahasa Inggrisku yang amburadul di kelompokkudalam satu kelas itu ujiannya dibagi ke dalam beberapa kelompok, satu kelompok terdiri dari lima orang. Nah, hanya aku seorang yang dikoreksi, aku malu pada diriku sendiri L keempat temanku yang lain mulusyou were great, Guys!

          Dengan langkah gontai, wajah kusut, dan pikiran yang ke sana ke mari,  aku berjalan menuju masjid, menunggu seorang teman yang satu setengah jam lagi baru akan datang. Karena bingung harus berbuat apa selama itu, aku melampiaskan mood yang rusak ke kertas. Aku iseng menulis begini;


Nggk jelas ya? -_- Intinya, yang aku tulis itu lebih mengarah pada apa yang harus aku perbaiki, seperti bermuhasabah, introspeksi. Setelah menulis, aku melirik rak buku yang terdapat di salah satu sisi masjidrak itu seolah melambai dan berkata, “baca aku... kemarilah”baiklah, aku menurut, lalu mulai mencari buku dengan harap ada buku jitu yang bisa mengobati moodku. Tapi, akhirnya aku memilih buku ini;


Hoho.. What do you think? Mm.. it’s so interesting. Aku ambil buku itu. Ah, pas sekali karena, aku sedang dapat tugas mencari tetek-bengek tentang Syi’ah dari Murrabiyahku yang akan dibahas beberapa hari lagi di mentoring. Cocok. Aku lalu mencari posisi W, PW, you know, posisi wenak. Bah! Aku penasaran sekali dengan yang namanya Syi’ah! Seolah tidak ingin ada yang terlewat dari setiap kata di buku itu, aku rela membaca kata pengantar, sambutan dan pendahuluan. Setelahnya, baru aku baca isi bukunya. Bahasan awal ialah hal mendasar, sejarah Syi’ah.
          Akan aku sampaikan sejarahnya, bunyinya begini; ada yang menganggap Syi’ah lahir pada masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Pada masa itu, terjadi pemberontakkan terhadap khalifah Utsman bin Affan yang berakhir dengan kesyahidan Utsman dan ada tuntutan umat agar Ali bin Abi Thalib bersedia dibaiat sebagai khalifah. Tampaknya, pendapat yang paling popular adalah bahwa Syi’ah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihak pasukan khalifah Ali dengan pihak Mu’awiyah bin Abu Sufyan di Siffin yang lazim disebut sebagai peristiwa at-Takhim (arbitrasi). Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan Ali menentang kepemimpinannya dan keluar dari pasukan Ali. Mereka yang keluar disebut khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali). Sebagian besar orang yang tetap setia kepada khalifah disebut Syi’ah Ali (Pengikut Ali).
          Sesekali aku merenung begitu membaca kalimat-kalimat di atas. Karena aku nggak paham, maka aku berkali-kali mengulang membacanya. Setelah dirasa cukup, aku baru membaca kalimat selanjutnya. Oke.. lanjut!
            Istilah Syi’ah pada era kekhalifahan Ali hanya bermakna pembelaan dan dukungan politik. Syi’ah Ali yang muncul pertama kali pada era kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, bisa disebut sebagai pengikut setia khalifah yang sah pada saat itu melawan pihak Mu’awiyah, dan hanya bersifat kultural, bukan bercorak aqidah seperti yang dikenal pada masa sesudahnya hingga sekarang. Sebab, kelompok setia Syi’ah Ali yang terdiri dari sebagian sahabat Rasulullah dan sebagian besar tabi’in pada saat itu tidak ada yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan setelah Rasul dari pada Abu Bakr dan Umar bin Al Khattab. Bahkan Ali bin Abi Thalib sendiri, saat menjadi khalifah, menegaskan dari atas mimbar masjid Kufah ketika berkhutbah bahwa, “Sebaik-baik umat Islam setelah Nabi Muhammad adalah Abu Bakr dan Umar.” (lihat Shahih al Bukhari juz 5/7, Sunan Abu Dawud juz 4/282, Sunan Ibnu Majah, juz 1/39).
          Menurut Murtadha Mutahhariulama Syi’ah“Ali bin Abi Thalib adalah sahabat nabi seperti juga Abu Bakr, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan yang lainnya. Tetapi Ali lebih berhak, lebih terdidik, lebih shaleh dan lebih berkemampuan ketimbang para sahabat lainnya, dan bahwa Nabi sudah merencanakannya sebagai pengganti beliau. Kaum Syi’ah meyakini Ali dan keturunannya sebagai imam yang berhak atas kepemimpinan politis dan otoritas keagamaan.” Dengan kata lain, mereka meyakini bahwa yang berhak atas otoritas spiritual dan politis dalam komunitas Islam pasca nabi adalah Ali beserta keturunannya.
          Sedangkan menurut Thabathabai, Syi’ah muncul karena kritik dan protes terhadap dua masalah besar dalam Islam, yaitu berkenaan dengan pemerintah Islam dan kewenangan dalam pengetahuan keagamaan yang menurut Syi’ah menjadi hak istimewa ahl al-bait.
          Otakku berpikir keras mencerna setiap kalimat-kalimat itu. Tak jarang aku bergumam, “Maksudnya?”, “Oh”, “Hah?”, “Ya Allah”, “Eh.. Gak ngerti -_-”.
          Selanjutnya, buku itu berbicara... Kendatipun persoalan imamah menjadi pokok keimanan Syi’ah, tetapi ternyata telah terjadi perbedaan dan perselisihan di kalangan firqah-firqah Syi’ah, terutama pada penentuan siapakah yang menjadi “imam”. Al-Hasan bin Musa an-Naubakhti, ulama Syi’ah yang hidup pada pertengahan abad ke 3 H hinggan awal 4 H, dalam kitab Firaq as-Syi’ah (hal 19-109) telah menjelaskan perbedaan-perbedaan itu dalam beberapa bentangan periodik. Di antaranya, setelah Ali bin Abi Thalib wafat, menurutnya an-Naubakhti, Syi’ah terbagi menjadi 3 golongan:
          Aku mengerjap-ngerjapkan mata. 3 golongan???
          Pertama, kelompok yang berpendapat Ali tidak mati terbunuh, dan tiak akan mati, hingga ia berhasil menegakkan keadilan di dunia. Inilah kelompok ekstrim (ghuluw) pertama. Kelompok ini disebut Syi’ah as Saba’iyah yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’.
          Saba’? Abdullah bin Saba’? Nama itu sepertinya nggak asing lagi, aku kembali teringat. Ukhtisalah satu teman hijraku sewaktu SMApernah bilang kalau pelopor Syi’ah itu adalah Abdullah bin Saba’. Tapi, Ukhti suruh aku cari referensi lain. Dia selalu bilang kata-kata ini sebelum menyampaikan apa yang ia tahu, katanya.. “sependek ilmuku”, baru deh bla bla bla ngasih tau informasinya. Ia sangat hati-hati sekali, khawatir salah, nanti fatal katanya. Nah, Ukhti nyaris benar. Buku itu menguak siapa Abdullah bin Saba’ sebenarnya.
          Sebelum mengenal Abdullah bin Saba’, ada lanjutan tentang golongan yang pertama yang sedang dibahas ini. Kelompok ini adalah kelompok yang terang-terangan mencaci serta berlepas diri (bara’ah) dari Abu Bakr, Umar dan Utsman serta para sahabat Rasulullah. Mereka mengaku Ali-lah yang menyuruh mereka untuk melakukan hal ini. ketika dipanggil oleh Ali mereka mengakui perbuatannya. Hampir saja Ali memvonis mati terhadap Abdullah bin Saba’, tetapi karena pertimbangan beberapa orang, sehingga Ali hanya mengusir Abdullah bin Saba’ ke al Madain.
          Nah, lanjut bahas Abdullah bin Saba’ lebih detail. Menurut an-Naubakhti, Abdullah bin Saba’ asalnya beragama Yahudi. Ketika masuk Islam, ia mendukung Ali. Dialah orang pertama yang terang-terangan mengisukan kewajiban imamahnya Ali serta berlepas diri dari musuh-musuhnya. Dijelaskan pula, bahwa ketika ia masih beragama Yahudi pernah mempopoulerkan pendapat bahwa Yusa’ bin Nun adalah pelanjut nabi Musa. Maka ketika masuk Islam, ia pun berpendapat bahwa Ali adalah pelanjut Nabi Muhammad. Faktor inilah yang membuat orang menuduh bahwa sumber ajaran Syi’ah berasal dari Yahudi.
          Astagfirullahaldzim... tidakkah seluruh umat Muslim tahu bahwa Nabi Muhammad adalah nabi penutup? Tidak ada Nabi setelah beliau. Astagfirullahaladzim. Abdullah bin Saba’ benar-benar...
          “Boleh saya ikut baca buku-buku ini?”
          Seseorang tiba-tiba bertanya padaku. Mendengar suara itu, fokusku pada Abdullah bin Saba’ langsung buyar, menguap.  Seketika aku mendongakkan kepala, menggeser tempat duduk dan buru-buru menutupi sampul buku yang sedang aku baca ini.
          “Oh, iya, boleh. Mangga.” Kataku kikuk.
          Orang itu spontan duduk di sebelahku. Aku melirik ke arahnya, ia memakai jaket, di baliknya ada kerudung lebar dan panjang yang kedua tangannya memakai xxxxxx xxxxxx. Aku sedikit memesarkan kedua bola mata. Seketika aku teringat cerita beberapa orang teman tentang seseorang yang berpakaian persis orang di sampingku ini. Aku menelan ludah.
          “Waktu dzuhur jam berapa, ya?” tanyanya lagi.
          “Nyaris jam dua belas.” jawabku. Sedetik kemudian, aku menyadari sesuatu, ada yang janggal. Aneh. Bukankah orang-orang di masjid ini tahu bahwa waktu dzuhur sekitar jam dua belas? Ingatanku tentang apa yang diomongkan teman-temanku itu semakin melekat di kepalaku. Aku deg-degan.
          Beberapa saat kemudian, dua orang kakak tingkatku datang menghampiri kami. Duduk. Lalu, salah satu dari mereka mulai mengajakku bicara. Di dalam hati, aku mengembuskan napas lega selega-leganya. Aku yakin, kedua kakak tingkatku itu mengetahui apa yang sedang terjadi, mereka tidak menghampiriku cuma-cuma.
          Kakak tingkatku juga bertanya pada orang di sampingku ini,
          “Teh, dari mana?”
          Ia tersenyum, “Dari... dari rumah.” jawabnya bercanda sambil membuka-buka buku yang aku duga ia tidak benar-benar membacanya.
          Kemudian, kedua kakak tingkatku itu terus mengajakku berbicara, tak peduli ngaler-ngidul. Sampai pada akhirnya, salah satu kakak tingkatku itu bertanya,
          “Lagi baca buku apa?”
          Duh! Aku menggerakkan bukunya sedikit, tapi buru-buru kuturunkan karena orang di sampingku ini melirik ke arahku. Aku juga tidak yakin kakak tingkatku itu berhasil melihat judul bukunya atau tidak.  Tapi, ia mengangguk saja.
          “Mau ikut ke dalam? Kata kakak tingkatku sambil menunjuk ruangan DKM Masjid ini. Kakak tingkatku itu adalah salah satu anggota dari DKM.
          Tanpa pikir panjang aku mengangguk.
          “Teh, ditinggal dulu, ya.” pamit kakak tingkatku ke orang itu.
          Orang itu menyungging senyum. “Oh, iya, iya.”
          Aku dan kakak tingkatku buru-buru memasuki ruangan yang dimaskud. Di dalam, kami langsung mengeluarkan unek-unek. Napasku terhembus seperti habis dikejar banteng (lebay -_-).
          “Orang itu udah beberapa kali kelihatan ngincar seseorang yang menurutnya tepat untuk diincar. Hati-hati. Jangan sendirian. Khawatir dihipnotis atau apalah.”
          Jantungku melengos. “Iya, teh. Untung teteh nyamperin. Kalau nggk, aku udah ditanya-tanya.”
          “Oh, jadi kamu udah tahu?”
          Aku mengangguk. “Ya. Ada dua orang temanku yang berhasil ditanya-tanya. Malah sudah nyaris mengarahkan pembicaraan pada paham yang dianutnya.”
          Oh, ya, aku belum bilang.. Jadi begini, akhir-akhir ini ada orang-orang seperti orang yang duduk di sebelahku melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti.. “Kenapa kita harus berkerudung?”, “Aurat itu mana saja, sih?”, “Kenapa kita harus salat?”, Wallahu alam tujuannya apa. Tapi, dengar-dengar, orang itu nantinya akan mem-follow up lewat kajian-kajian mereka, yang ujung-ujungnya... pencucian otak. Wallahu alam bishawab.
          Dari pengalamanku ini, garis besar yang ingin aku bicarakan tediri dari beberapa hal. Satu, zaman sekarang kerudung panjang sudah tidak aneh, sudah sering terlihat di mana-mana; kampus, mall, toko, pasar, dsb. Berbeda dengan dulu. Hal itu berarti kejayaan Islam mulai merangkak kembali. Dua, banyak umat Islam sekarang yang sudah saling tidak percaya. Kerudung panjang dan besar tak jarang dipandang sebelah mata, mungkin pandangan seperti itu memang ada dari dulu, mereka yang berkerudung besar dan syar’i diidentikkan dengan teroris. Sangat disayangkan, sangat dirugikan mana yang benar muslim, mana muslim yang menyalahgunakan syariat Islam. Astagfirullah. Dampaknya? Iffah dan izzah Islam tercoreng jelas.
          Sahabat, sebenarnya tidak ada yang salah dari tampilan orang yang membuatku deg-degan itu. Pakaiannya adalah pakaian yang seharusnya digunakan muslimah. Tidak ada yang salah. Tapi, yang membuatnya salah adalah.. tunggu.. “salah” sepertinya bukan kata yang tepat, karena bisa jadi aku yang parno. Mungkin aku telah suudzhon? Astagfirullah. Back to the topic, jadi yang membuatnya “kelihatan beda” adalah pertanyaannya yang tidak biasa di situasi antara orang yang belum saling mengenal. Tiba-tiba bertanya seperti itu, kan, lumayan membuat alis berkerut. Ah, tapi aku tidak ingin menilai seseorang, tidak ingin men-judge sembarangan orang yang tidak kutahu asal-usulnyameski aku punya hak untuk berpendapat. Dan yang terpenting, tidak ingin membuat kalian kebingungan membaca ini :D
          Untuk kalian yang membaca ini, jika perempuan, berpakaianlah sebagaimana Islam telah memberi aturan. Karena hanya ada satu Islam, maka berkapaianlah sesuai perintah-Nya di QS Al-Ahzab:59 dan An-Nur:31. Salah satunya yaitu mengulurkan kerudung sampai menutupi dada. Jadi, patuhi perintah itu. Menutupi dada. Oh ya, kalau lihat perempuan berkerudung besar dan panjang, terus berfikir positif ya! Itu, kan, memang sudah seharusnya. Yang perlu diwaspadai ketika ada orang yang gerak-gerik dan obrolannya dirasa menyimpang dari syariat. Baru, deh, waspada tingkat tinggi. Ingat ya, jika gerak-gerik dan obrolannya dirasa menyimpang dari syariat.
          Nah, jika kalian yang membaca ini laki-laki, perdalamlah ilmu agama agar menjadi calon pemimpin yang tahu secara kaffah tentang Islam. Itu penting, kan? Agar tidak ada cerita kalian disebut terosis hanya karena berkumis dan berjenggot. Ilmu, ilmu, ilmu. Belajar terussss.
          Well, sekian pengalamanku. Aku telah belajar beberapa hal baru di lingkungan yang juga baru. Kampus. Semoga bermanfaat, ya!
Jika kuingat kejadian itu, benar-benar membuat jantungku deg-degan. Deg-degan, di rumah Allah.
Tasikmalaya, 30 Mei 2016
Fitri Rahayu
         
         
          

Nasib SBMPTN-ku (Second Part)

PART 2 : New Journey
Pertama-tama dan paling utama aku ingin ucapkan alhamdulillahi rabbil’alamin karena hari ini sudah tanggal 28 Juli. Dan itu artinya tanggal 9 Juli─hari pengumuman SBMPTN─sudah lewat. Haaaa.... Akan aku beritahu apa yang terjadi di tanggal itu.
            Oh ya, sudah hampir dua minggu lalu bulan Ramadhan telah usai di tahun 2015 Masehi. Sedih rasanya meninggalkan bulan yang penuh rahmat itu. Hari Raya Idul Fitri 1436 di tahun Hijriah juga sudah dirayakan. Taqabalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amalmu dan amalku), aamiin.
Nah tanggal 9 Juli itu lagi bulan Ramadhan, kan, jadi di jam lima sore sambil menunggu halaman web connect, aku membantu mama menyiapkan hidangan buka puasa. Aku juga dibantu Bapak membuka halaman web karena beberapa kali servernya down, secara banyak yang sedang mengunjungi situs tersebut, se-Indonesia hasil SBMPTN diumumkan serentak. Setelah beberapa saat untuk waktu yang lumayan lama, akhirnya halaman web terhubung, aku memasukkan nomor peserta SBM-ku dan tanggal lahir, akhirnya tak lama kemudian munculah halaman web yang isinya seperti ini:


AKU LOLOSSSS!! Girang betul rasanya. Alhamdulillah, syukron ya Allah. Aku, mama, bapak dan adikku menyambut penuh haru tatkala tahu aku dinyatakan lolos. Rasanya seperti mimpi. Yang akhirnya mimpi menjadi kenyataaaaan. Wah aku senang berkali-kali lipat.
            Kilat-kilat dari sorot kedua mata mama terlihat bahagia betul. Bapak tersenyum haru. Senang meilhat putrinya bisa melanjutkan pendidikan tinggi negeri.
           
This new jorney takes me to the first step for the real life.

SEKARANG, aku jalan semester dua. 


Teman-teman, di mana pun kita menuntut ilmu, melanjutkan cita-cita, semuanya sama. Hanya saja yg membedakan adalah diri kita sendiri, cara kita menyikapi pembelajaran. Tidak percaya? Coba ingat wkt kamu masuk SMA. Mungkin ada yg bersekolah di SMA yg diinginkan, ada juga yg tidak. Hasilnya? Sama-sama bertujuan ke tempat yg sama, kan? Kampus. Perkuliahan. Memang, sih, byk yg bilang bahwa akreditasi sekolah itu berpengaruh. Ya, berpengaruh. Tapi, hei, syukuri saja, terima saja, jika Allah berkehendak, semuanya akan sesuai dengan cita-citamu. Kalau tidak sesuai, mungkin Allah sedang membelokkan cita-citamu yg barangkali keliru :) Bukankah Allah Maha Mengetahui? Sabar dan salat. Kuncinya hanya itu. Seperti kata2 yg kudapat; Kuliah, niatin dengan ibadah, nggk usah byk tingkah. Semangat! Selamat berjuang untuk besok, 31 Mei 2016. 
Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum.

Tasikmalaya, 30 Mei 2016
Fitri Rahayu






Nasib SBMPTN-ku (First Part)

Assalamu'alaikum :) Untuk teman-teman, adik-adik, bahkan kakak-kakak yg besok mau uji nyali :D (hehe.. guyon ya) maksudku mengikuti tes SBMPTN 2016, selamat berjuang. Fokus. Tenang. Positive thinking. Memang berbicara itu tdk semudah melakukan, tapi siapa lg yang bukan diri kamu sendiri yang menyemangati? Klo kamu semangat, positive thinking, orang-orang di sekitarmu akan memberi energi positif. Sertakan Allah untuk semua perjuangan yg kamu lakukan. Makannya, be positif as long as you trust yourself! Bismillah, doaku menyertai kamu...

Well, mengingat euforia SBMPTN sedang mencuat, di postingan kali ini aku mau curhat tentang nasib SBMPTN-ku tahun lalu. Semoga bisa kasih kamu informasi, wawasan, dan syukur-syukur termotivasi, ya!. Aamiin. (Wih pedenya -_-) Curhatan ini aku tulis 20 Juni 2015 Happy reading!

PART 1
SAAT itu hari Sabtu. SNMPTN. Pengumuman dibuka pada pukul 17.00 WIB. Berjam-jam sebelum pukul 17.00, aku dengan temanku yang lain merasakan atmosfer yang berbeda sepagian. Pengumuman di hari itu juga seperti trending topic bagi kami. Pertanyaan lolos atau tidak, terus menghantui kami tidak kenal lelah. Detik-detik pukul 17.00, aku sempat membuka BBM. Aku melihat ketegangan yang sama dari status-status yang mereka tulis.
            Tibalah pada pukul 17.00. Karena beberapa hari sebelumnya notebook-ku rusak dan belum diperbaiki, aku sedikit kesulitan dengan laptop milik bapakku dan wifi dari ponselku. Beberapa menit kemudian aku baru bisa tersambung dengan internet. Situs untuk melihat hasil pengumuman sudah terbuka. Lalu aku memasukkan NISN dan password. Loading.. Detak jantungku berdebar kencang. Pikiranku bercabang seperti tumbuhan yang berakar serabut. Haaah... rasa optimis dan pesimis mendominasi perasaanku yang bedanya sangat tipis. Dan akhirnyaaaaaaa...... aku dinyatakan TIDAK LOLOS.
Ekspresiku datar. Aku mengisyaratkan bahwa aku tidak apa-apa kepada mama. Dari kedua mata mama aku merasa beliau begitu tidak percaya, seperti nyaris kecewa. Sejurus kemudian dugaanku salah. Bukan kecewa yang beliau rasakan, tetapi merasa kasihan padaku. Eh, tapi entahlah, prasangka seorang anak sering kali meleset. Tapi, aku tahu maksud mama. Artinya aku harus mempersiapkan diri untuk menghapi tes tulis yang disebut SBMPTN. Dengan diamnya bapakku, aku melihat diriku sendiri adalah anak kebanggaannya di mata beliau meskipun aku sudah berkali-kali membuatnya kecewa.
Hari-hari setelah pengumuman SNMPTN, aku belajar soal-soal Soshum. Perbedaan yang mencolok anatara tes SBMPTN dengan ujian tulis biasa adalah dari sisi penilaiannya yang pakai plus/minus. Kalau jawaban benar maka mendapat nilai +4 tapi kalau jawaban salah mendapat -1 dan jika tidak menjawab soal mendapat nilai nol. Aku harus ekstra hati-hati. Ketika belajar aku banyak melamun. Kedengarannya soal SBMPTN susah sekali, malah ada yang bilang tingkat kesulitannya lima kali lipat dari soal UN. Bah!!! Semangat yang naik dan turun, pesimis dan optimis, aku harus tetap berusaha. Aku berdoa pada Allah agar Dia selalu melindungiku dalam kondisi apapun. Hanya Allah-lah yang Maha Mengatur urusan setiap makhluk-Nya. Aku percaya pada rencana-Nya.
Di sela waktu persiapan tes, aku sering berkumpul dengan teman-temanku. Aku sesekali ke sekolah untuk mencari-cari informasi tentang tetek-bengek yang namanya SBMPTN itu. Aku dan temanku beberapa kali belajar bersama. Ketika berkumpul bersama mereka─SI─benteng semangatku bertambah kuat. Mereka menguatkanku. Mereka selalu mengingatkanku agar tetap percaya pada-Nya. Percaya pada semua rencana-rencana-Nya.
Aku kemudian dihadapkan pada sebuah keputusan yang membuatku dan membuat orang tuaku berpikir keras berkali-kali. Kami juga melakukan diskusi. Nah, apa kamu mau tau PTN mana yang aku pilih? Sebenarnya, aku memilih UPI dan UNY.. Tapi, setelah mempertimbangkanbanyak hal, aku akhirnya memilih Universitas Siliwangi di Tasikmalaya dengan jurusan yang sama-Bahasa Inggris. Sebenarny,a dari sebelum masuk SMA, aku bertekad untuk bisa memiliki kursi di UPI. Lihat? Terkadang kita harus banyak berkorban. Ini juga demi kebaikan. Kebaikanku, kebaikan orang tuaku. Dengan nama Allah aku memutuskan untuk meninggalkan UPI dan UNY. Dengan nama Allah di pendaftaran SBMPTN aku memilih Universitas Siliwangi. That's it.
Satu bulan kemudian. Tanggal 9 Juni. Pagi-pagi aku melakukan perjalanan ke Cianjur diantar Bapak karena lokasi tes tidak di tempatku. Sebagian besar peserta dari daerahku berlokasi di Cianjur. Di atas pukul 9, peserta tes bersiap di ruang kelas masing-masing. Soal tes dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama tes soal TKPA. Sesi kedua baru tes soal Soshum. Kira-kira pukul setengah tiga sore tes hari itu selesai. Alhamdulillah Allah memudahkanku. Aku tidak begitu menemukan kesulitan yang tingkat kesulitannya sangat tinggi sekali. Tapi, bukan berarti aku mengisi semua soal tanpa sisa. Dari 90 soal TKPA, aku mengisi 60 soal. Sedangkan dari 60 soal Soshum, aku mengisi 55 soal. Semoga saja aku bisa lolos di tes kali ini.
Sore itu aku menunggu bapak menjemputku. Cuaca mendung sampai rintik air hujan turun lumayan deras. Aku tidak membawa payung. Satu-satunya yang aku andalkan adalah jaket. Aku berdiri di trotoar sudah hampir dua puluh menit. Sambil menunggu, aku celingukan seorang diri memastikan setiap motor yang lewat apakah itu bapak atau bukan.
Beberapa saat kemudian aku terkaget mendapati teman satu sekolah di samping kanan bahuku. Ia adalah ***, anak I**, berdiri satu meter dari tempatku. Aku tidak menyapanya, hanya mesem-mesem, tidak menyangka bisa melihatnya di tempat yang sama! Hanya saja lokasi tes kami ternyata berbeda. Aku di SMK 1 C******, ia di SMA 1 C*****. Meskipun berbeda, kedua sekolah itu saling berhadapan. Rasanya aku ingin tertawa keras-keras. Aneh. Eh, entahlah aku hanya menjelaskan apa yang aku rasakan saat itu. Astagfirullah.
Pukul tiga lewat bapak akhirnya datang juga. Aku kemudian pulang dengan membawa kuat-kuat harapan, menggenggam mimpiku yang aku harap bisa menjadi nyata di tangan-Nya. Ngomong-ngomong, untuk pengumuman hasil tes, akan diumumkan tanggal 9 Juli. Aku hanya tinggal menunggu. Berdoa. Aku menyerahkan semua pada Allah Yang Maha Mengetahui. Semoga aku bisa lolos di seleksi ini. Aamiin. Semoga saja, Ya Allah...   



Jumat, 13 Mei 2016

Rindu

Sewaktu lihat flash disk, belakangan aku baru tahu, ada salah seorang dari SI yang menulis begini...

13 Februari 2015
Terima kasih...
Di mana pun kita berada...
Bagaimana pun jalan sukses kita...
Semoga Allah tetap mengikatmu, aku, dan mereka dalam tali persaudaraan ini...
Dalam ukhuwah...

SI? Siapa?
Ahillah?
AMY?
ALF?
SN?
Hadar?
UKT?
Siapapun, aku rindu kalian.

Tasikmalaya, 14 Mei 2016
Yang merindu SI.