Oleh : Anafa Rhy (Div. Kemuslimahan DKM
Al-Muhajirin 2015)
Bismillah...
KATA dakwah biasanya terdengar setelah kata ‘HIJRAH’ dan ‘ISTIQOMAH’.
Sebelum berbicara mengenai dakwah, yang penulis tahu, hijrah adalah berubahnya
seseorang menjadi lebih baik, meninggalkan yang buruk menuju kebaikkan, atau
berpindahnya seseorang dari satu tempat ke tempat lain demi perubahan diri yang
lebih baik. Semuanya dilakukan untuk mendekat ke arah-Nya. Agar diri menjauhi
maksiat. Setelahnya, hijrah sejatinya terus dilakukan sampai akhir hayat. Bukan
berarti setelah sekali hijrah, seseorang sudah selesai melampauinya. Karena,
setiap harinya ia memiliki tingkatan-tingkatan hijrah yang harus dicapai. Bukankah
ada sebuah proses bagai anak tangga di sana?
Contoh kasus; ketika seorang perempuan memutuskan untuk
berkerung, namun ia masih memakai celana, bukankah perlu melampaui tingkatan
hijrah lain? Menggunakan rok dan memperlebar kerudung agar terulur sampai dada?
Lalu, mencoba untuk bersikap sebagaimana muslimah seharusnya? Begitu, kan? Semuanya
seolah tidak berujung. Hijrah terus.
Sementara, istiqomah berarti bertahan, tetap, maupun berkomitmen terhadap hijrah yang sudah dilakukan. Menurut Ibnu Abbas radhiallahu ’anhu, istiqomah mengandung 3 macam arti; istiqomah dengan lisan (bertahan terus pada kalimat syahadat), istiqomah dengan hati (terus melakukan niat yang jujur), dan istiqomah dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus). Jadi, posisi istiqomah berada setelah hijrah.
Sementara, istiqomah berarti bertahan, tetap, maupun berkomitmen terhadap hijrah yang sudah dilakukan. Menurut Ibnu Abbas radhiallahu ’anhu, istiqomah mengandung 3 macam arti; istiqomah dengan lisan (bertahan terus pada kalimat syahadat), istiqomah dengan hati (terus melakukan niat yang jujur), dan istiqomah dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus). Jadi, posisi istiqomah berada setelah hijrah.
Hijrah dan istiqomah adalah dua hal yang tidak
mudah dilakukan. Banyak yang kemudian kembali lalai akibat faktor internal
maupun eksternal yang terus menimpa diri. Tidak mudah. Maka, berbahagialah
orang yang sampai saat ini masih berada di koridor hijrah dan istiqomah. Orang-orang
ini (baca: mereka yang senantiasa berhijrah lalu istiqomah), biasanya Allah
amanahkan untuk mulai menaiki level selanjutnya; berdakwah. Tentunya, tingkatan
ini bukan perkara yang ringan, pertanggungjawabannya sampai akhirat. Bagaimana tidak?
Di samping sedang memperbaiki diri, ia juga diamanahkan untuk membantu
memperbaiki diri orang lain. Kedua hal yang dilakukan sekaligus biasanya
membutuhkan tenaga yang lebih keras . Masya Allah.
Oke, pembahasan terkait dakwah akan
penulis paparkan selanjutnya. Dari sekian banyak penjelasan dakwah
yang ada, hal yang penulis ingat betul dari XI SMA sampai sekarang, dakwah itu
3 hal; panjang jalannya, lama prosesnya, dan sedikit pengikutnya. Selain itu,
dakwah merupakan kegiatan menyeru seseorang kepada iman. Dakwah ini susahnya
minta ampun. Ketika dipaksa terjun ke dunia dakwah, penulis menangis karena
takut. Namun, ikhwah berkata; kalau bukan kita, siapa lagi? Bukankah ketika
hanya ada 1 orang di muka bumi yang berdakwah itu harus diri ini? Kau. Kita.
Ayo berjuang bersama-sama, katanya. Tidak ada sedih dan galau, perihal itulah
yang membuat penulis maju berdakwah beberapa tahun lalu (baca: ingat, kan,
bukan berarti dakwah itu melulu berdiri di atas mimbar?).
Seiring berjalannya waktu, tantangan pun semakin berat. Ilmu
yang harus ditelan semakin banyak. Waktu dan tenaga lebih banyak terkuras. Setiap
tutur kata dan tulisan, bagaikan buku yang isinya harus terjaga bagi
pembacanya. Bukankah seorang da’i itu harus sesuai antara perkataan dengan
perbuatannya? Inilah yang terkadang menjadi penghambat ketika berdakwah, hal
ini mengingatkan penulis pada QS. As-Saff ayat 2 & 3 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa
kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci Allah
jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. Selain itu, banyak
kondisi di mana da’i dihadapkan pada situasi yang belum mampu dikuasainya. Akibatnya,
akal atau logika lebih berperan, sementara kita tahu bahwa agama dibangun di
atas dalil.
Terkait akal atau logika untuk didakwahkan, sebenarnya hal
itu mampu menolong. Lihat bagaimana seorang Dzakir Naik menggunakan logikanya
saat menjawab pertanyaan untuk membuat sadar si penanya. Pertanyaan-pertanyaan
berlandaskan logika atau akal, mampu membuat seorang atheis mengucapkan dua
kalimat syahadat atas izin-Nya karena argumen cerdasnya—tentu saja beliau selalu mengutip
ayat-ayat Al-Qur’an sebagaimana mestinya—. Masya
Allah.
Jika bercermin pada diri penulis, dakwah yang dilakukan dirasa
penuh ketakutan yang luar biasa. Karena, ketidakmampuan diri yang belum
menyertakan dalil di samping akal atau logika yang dilontarkan. Bukankah tidak
diperkenankan mengikuti da’i yang tidak berdalil? Astagfirullah. L L L
Oke, ada hal lain yang ingin disampaikan.
Penulis pernah menyatakan mundur untuk
membina suatu kholaqoh—alasannya sudah dijelaskan
di atas—, namun beberapa ikhwah
mempertahankan. Mereka bilang;
... jangan begitu, semua
orang merasakan apa yang ada di dalam dada dan pikiranmu ...
... setidaknya jangan
membiarkan orang lain berdakwah sendirian, temani mereka ...
... mencari ilmu sambil
mengamalkan, akan menjagamu ...
Innalillahi L L L
Sulit sekali. Semua perkataan itu nyaris membuat semaput!
Pun gila! Satu sisi memang penulis ingin menuntaskan binaan di kholaqoh, namun sisi
lainnya ada ribuan kekurangan diri penulis yang begitu membahayakan dan khawatir
menyesatkan. Sampai penulis merasa tidak tahu dakwah itu apa dan bagaimana.
Ah, di dunia ini selalu saja ada dua sisi yang berbeda. Pro-kontra.
Positif-negatif. Apa yang akan kau lakukan jika berada di satu posisi seperti
ini?
Ada ulasan menarik yang penulis dapat
dari sebuah artikel bersumber potongan hadits riwayat Al-Bukhori no. 3461 dari
hadits Abdullah Ibn Umar radiyallahu ‘anhuma. Disalin dari kitab Ash-Shahwah
Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam,
penulis Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsmaimin.
Pertanyaan kepada Syaikh Muhammad bin
Shalih Al-Utsmaimin;
“Apakah berdakwah kepada Allah itu
wajib atas setiap muslim dan muslimah, ataukah hanya terbatas pada para ulama
dan penuntut ilmu (syar’i) saja? Dan bolehkan seorang awam berdakwah kepada
Allah?”
Jawaban; (berupa ringkasan yang koheren
dengan pembahasan yang penulis buat, sementara selengkapnya ada pada alamat web
yang tertera di referensi)
“Seorang da’i tidak dipersyaratkan harus
sampai pada derajat/kadar yang tinggi dalam hal ilmu. Akan tetapi,
dipersyaratkan ia harus mengetahui apa yang ia dakwahkan. Adapun jika ia
menjalankan dakwah atas dasar kebodohan dan perasaan yang ia miliki, maka hal
ini tidak boleh. Oleh karena itu, kita sering menemukan saudara-saudara kita
yang menyeru kepada jalan Allah, namun tidak memiliki ilmu kecuali sedikit.
(QS. An-Nahl : 116-117).
Adapun seorang awam maka ia tidak boleh berdakwah,
sementara ia tidak mengetahui apa yang akan ia dakwahkan. Maka, yang pertama
kali harus dipenuhi adalah ilmu. Ia harus berdakwah ke jalan Allah dengan
landasan ilmu yang jelas (bashirah). Namun, dalam perkara mungkar yang telah
jelas atau perkara ma’ruf yang telah jelas, maka ia dapat memerintahkannya jika
hal itu sesuatu yang ma’ruf, dan ia dapat melarangnya jika hal itu adalah suatu
kemungkaran. (QS. Yusuf ayat 108).”
Jika ditarik garis merahnya, pun menurut Syeikh tersebut,
dakwah harus didahului dengan ilmu, karena siapa yang berdakwah tanpa ilmu,
maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki, sebagaimana yang telah
nampak. Maka, menjadi kewajiban setiap insan untuk belajar terlebih dahulu, lal
selanjutnya berdakwah. Sementara, perkara-perkara mungkar yang telah jelas atau
pada perkara-perkara ma’ruf yang telah jelas, maka (orang awam itu) dapat
melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar di dalamnya.
Jika seorang da’i pada akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan
binaan karena tidak sanggup, ada cara berdakwah lain yang dapat dilakukan sesuai
dengan kemampuannya, dan insya Allah hal ini akan menjadikan dakwah dapat
ditangani secara proporsional sebagai kegiatan lillah yang sesungguhnya, bukan karena
alih-alih ala bisa karena terbiasa.
Dakwah memang berliku dan penuh duri. Karenanya,
dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah.
Akhir kata, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Jika
ada kekurangan dari segi kualitas isi maupun penulisan yang tidak sesuai bahkan
bertentangan, kritik dan saran sangat penulis harapkan.
Wallahu ‘alam bishowab.
Referensi



0 komentar:
Posting Komentar