Jumat, 05 Februari 2016

No Need To Be Known


Di postingan kali ini, aku akan berbagi tentang cerpenku yang gagal lolos tahun lalu ketika ada kompetisi menulis, temanya "Jodoh Pasti Bertamu." Kasih komentar, ya!

***

AKU adalah orang yang tidak kau kenal. Yang benar-benar tidak kau lihat. Tapi, aku mengenalmu, aku melihatmu.
            Kalimat itu terdapat di paragraf pertama dari isi surat yang sudah lama aku buat. Kalimat yang terus menyadarkanku bahwa aku mengenalnya, tapi dia tidak. Aku melihatnya, tapi dia tidak. Hal yang orang lain sebut: Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan. Jika sebutan itu disematkan padaku, entahlah...aku tidak membenarkan dan aku juga tidak menyalahkan. Pasalnya, ada hal awal yang kiranya perlu aku beri tahu.
Tentang surat yang aku tulis itu, setiap membacanya, aku tidak pernah merasa bosan. Pikiran untuk menyerahkan surat itu selalu terbayang. Berkali-kali aku pikirkan, segalanya sudah aku coba untuk putuskan. Sekarang adalah waktu untuk menempatkan surat itu. Di tangannya atau masih di tanganku, kini sudah aku putuskan. Benar-benar sudah aku putuskan.
***
            Namaku Akhwatun Nabil. Panggil saja, Nabil. Aku duduk di bangku kelas dua belas sekarang. Sejauh ini kehidupanku di masa abu-abu bisa dikatakan sangat baik. Aku juga beruntung mempunyai beberapa teman dekat yang begitu shalihah. Kami dipertemukan oleh-Nya di satu ikatan organisasi bernama Rohis. Karena kami begitu dekat, masing-masing dari kami bahkan sampai menceritakan hal-hal yang bersifat rahasia. Salah satu hal rahasia itu tentang, siapa seseorang yang kami sukai. Sampai akhirnya mereka tahu siapa Ryanu di mataku.
            Ada ekspresi yang tidak bisa aku baca dari salah satu temanku ketika aku mengaku menyukai Ryanu.
            “Kau menyukainya? Ryanu? Teman sekelasku?” tanyanya waktu itu.
            “Menurutmu siapa lagi orang yang bernama Ryanu di sekolah ini?” kataku.
            “Kalau saja kau satu kelas dengannya, Nabil, kau akan tahu sikapnya seperti apa.”
            “Memang sikapnya seperti apa?”
            Tara—temanku itu—sedikit ragu sebelum akhirnya berkata, “Dia banyak bercanda,”
            Aku mendengar nada menggantung dari ucapan Tara. “Bagaimana kau ini? Bukankah kau juga banyak bercanda?” balasku sambil tersenyum lebar.
            “Maksudku, dia banyak bercanda dengan teman perempuan.” kata Tara blak-blakan.
            Tara adalah salah satu teman yang bisa aku pegang kata-katanya. Dari pengalaman-pengalaman hidupnya yang selalu dia ceritakan, aku menyimpulkan bahwa Tara adalah orang yang jujur, sedikitpun dia tidak pernah berkata bohong. Perkataannya selalu mengandung arti. Bahkan aku menyebutnya, Tara si Psikolog. Atas landasan itu, aku percaya pada Tara. Aku percaya padanya. Jadi, ketika dia bilang, maksudku, dia banyak bercanda dengan teman perempuan, aku hanya tertawa keras-keras untuk menutupi perasaan yang aku tidak tahu apa namanya, perasaan yang membuatku...tidak nyaman.
Teman-teman dekatku yang lain kemudian bertanya kenapa bisa aku menyukai Ryanu. Ketika mereka bertanya seperti itu, aku jadi teringat satu kejadian yang menurutku ajaib. Aku bilang ajaib karena, perasaan itu muncul dengan sangat ringan dan mudah. Seperti semudah membalikkan telapak tangan.
Kau tahu, perasaan itu muncul ketika kau dengan profesional bersama temanmu yang lain menari dalam acara kunjungan salah satu stasiun radio ke sekolah. Lucu sekali, kau menari sedikit tarian balet. Apa kau ingat? Aku merasa kau berbakat.
Saat itu hari ke sepuluh di bulan Oktober tahun 2013, itu artinya dua tahun lalu. Salah satu stasiun radio lokal di kotaku mengadakan suatu acara sepulang sekolah. Di halaman berumput, banyak orang berkumpul menyaksikan sesuatu yang menghibur. Beberapa orang guru bahkan rela keluar dari ruangannya. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka saksikan. Hanya dari kejauhan, aku mendengar suara musik yang sesekali disambut riuhan tepuk tangan. Karena suara tepuk tangan semakin meriah, dan alunan musik Barat semakin keras, sendirian aku menyeret kakiku untuk ikut bergabung dengan mereka dan melihat apa yang terjadi.
Aku masih ingat, suasana hatiku sedang tidak baik saat itu. Niat awal aku memang ingin cepat pulang—tidak peduli dengan acara NBS FM tersebut. Tapi, tiba-tiba sesuatu menahanku, bahkan lebih dari itu, suasana hatiku malah berbalik total. Senang. Aku merasakan sesuatu yang membuatku senyum-senyum sendiri.
Lima orang laki-laki. Mereka melakukan tarian-tarian ajaib dengan lentur dan lincah, membuat siapapun yang melihatnya seolah menyaksikan para penari profesional tampil dalam konser yang dihadiri beribu-ribu penonton. Benar-benar profesional. Aku pernah melihat penari betulan menari sebelumnya, tetapi baru pertama ada orang melakukan tarian yang masih saja aku ingat sampai sekarang, menandakan orang itu sangat hebat di mataku. Bukan maksudku berlebihan memuji mereka, melainkan pengakuanku itu aku pikir perlu aku sematkan. Lagipula akupun melihat pandangan takjub yang sama pada orang-orang di sekitarku waktu itu. Oh, entahlah. Apa aku sedemikian terpesonanya sampai-sampai aku berani berkata seperti itu?
Aku benar-benar tidak percaya pada apa yang aku lihat selanjutnya. Hal yang tidak aku duga sampai dua tahun ke depan waktu itu, apa yang aku lihat ternyata menjadi bagian yang banyak menguras waktuku untuk sekedar mencoba berbicara pada orang itu, hal yang tidak pernah berujung. Seperti mengajak berbicara seseorang yang sudah tidak bernapas. Ya, komunikasi satu arah.
Dari kelima laki-laki tersebut, ada satu laki-laki yang dominan menarik perhatianku. Perawakannya tinggi, berkulit putih dan berambut sedikit ikal. Dia menggerakkan seluruh anggota tubuhnya—dengan kedua tangan berpaut sambil diangkat ke atas serta kedua kaki yang berjinjit seperti balerina—mengikuti alunan musik yang berubah dari lagu bergenre remaja ke lagu bergenre anak-anak, lagu ala-ala Barbie, lebih tepatnya.
Dia kemudian berputar beberapa kali—mengelilingi temannya yang berakting tertidur—mencoba meninabobokan mereka. Lucu sekali. Aku merasa dia berbakat. Ah, aku tidak akan lupa bagaimana ekspresi wajahnya saat itu. Musik kemudian berubah dan dia kembali melakukan dance yang menambah suara tepuk tangan semakin meledak. Pandanganku tidak terlepas dari setiap gerak-geriknya sampai penampilan mereka selesai. Dia membuatku kagum. Aku kemudian menunduk dan menyatakan bahwa aku mulai menyukai laki-laki itu. Ryanu.
            Hari-hari setelah penampilan Ryanu dan temannya di acara NBS FM, dan hari-hari setelah teman-teman dekatku tahu siapa seseorang yang aku sukai, perasaan itu semakin hari semakin menggunung. Terkadang ada beberapa hal tentangnya yang membuatku sedih sendiri. Konyol sekali ketika ada air mata karenanya. Aku ingat hal pertama yang membuatku menangis.
            Sekian waktu setelah kau tampil waktu itu, kau kembali melakukan gerakan-gerakan ajaib yang membuat segalanya terasa benar, bahwa kau benar-benar penari profesional di mataku. Aku memerhatikanmu lagi. Kali ini kau menari bersama satu perempuan, kau berulah seperti memainkan gitar dengan backsound lagu MinePetra Sihombing. Entah kenapa ketika kalian saling bercerita lewat tarian dan saling berpandangan, aku merasa ada satu sisi yang membuatku sakit. Tiba-tiba aku merasa mataku memanas waktu itu, aku kemudian menyeka mata.
            Akhir tahun 2013, ada satu acaraGebyar Sekolahdalam rangka memperingati hari ulang tahun sekolahku. Ryanu adalah salah satu anggota ekstrakurikuler Teater. Dia bersama timnya mementaskan drama sebagai tanda dibukanya acara itu. Ketika dia tampil dengan bakat dance-nya, aku kembali merasakan perasaan kagum seperti waktu itu. Aku kembali kagum ketika dia berdrama melakukan battle dance mengikuti alunan musik Maroon 5One More Night. Menyaksikan itu, sudut-sudut bibirku tertarik ke atas dan hati yang terus bergumam, takjub...takjub. Tanpa dikomando, perasaanku memuncak teratur.
            Perasaan yang memuncak mudah sekali membuatku sensitif. Aku sedikit membesarkan bola mata ketika ada satu perempuan muncul menari-nari diikuti Ryanu yang membawa gitar. Musik yang terdengar waktu itu lagu dari Petra SihombingMine. Entah kenapa ketika mereka saling bercerita lewat tarian dan saling berpandangan, aku merasa ada satu sisi yang membuatku sakit. Tiba-tiba aku merasa mataku memanas waktu itu, aku kemudian menyeka mata. Air mataku mengalir bebas di tempat umum. Bodoh sekali. Bagaimana bisa aku menangis? Di tempat umum? Yang benar saja!
            Saat itu aku duduk bersisian dengan teman-teman dekatku. Mereka menengok ke arahku, begitu mengetahui kedua mataku berair, anehnya mereka kemudian ikut berkaca-kaca. Mungkin ini yang disebut, ukhuwah. Mereka seolah berkata: kami merasakan apa yang kau rasakan, Nabil.
            Aku juga masih ingat hal lain tentang Ryanu yang membuatku sedih sendiri. Ada satu cerita yang aku dengar dari Tara. Sebelum memulai cerita, temanku itu tersenyum meminta maaf padaku. Aku mengangguk saja dan menyuruhnya untuk segera bercerita.
            “Ada seorang perempuan di kelasku,” kata Tara memulai cerita. “aku berteman baik dengannya, begitupun Ryanu. Perempuan itu orangnya asyik, suka berbicara, membuat tersenyum, periang, blak-blakan, peduli. Siapapun yang berada di dekatnya seperti berkawan dengan orang yang sudah lama tak berjumpa. Salah satu dari sifatnnya itu berhasil membuat Ryanu...”
            Berhenti sejenak. Tara lagi-lagi tersenyum meminta maaf padaku waktu itu. Aku mengibaskan sebelah tangan dan menyuruhnya untuk melanjutkan cerita. Dari pemaparan Tara, aku sedikit banyak bisa menerka apa yang terjadi dengan Ryanu. Namun, aku berusaha mengenyahkan pikiran itu. Tidak mungkin! Tara, jangan katakan kalau...
            “...berhasil membuat Ryanu menyukainya.” ujar Tara melanjutkan. “Ryanu menyukai perempuan itu. Sampai akhirnya dia,”
             Sudah, Tara. Aku tidak ingin...
            “...dia menyatakan pe...”
            Aku tidak ingin dengar!
            “...menyatakan perasaannya berkali-kali tapi perempuan itu tetap menolaknya,”
            Tara!!! Tega sekali! Tara, kau bilang apa?
            “Kenapa dia menolaknya?” tanyaku terpaksa.
            “Dia tidak mau pacaran.”
            Kiamat!!! Jadi, perempuan itu ingin Ryanu menikahinya? Ohhhhh!!! Ya ampun, hentikan, Tara! “Terus?”
            “Tidak ada terus.” Tara memiringkan kepalanya ke arahku lalu bertanya, “Kau tidak menangis, kan?”
            Aku mengerjap-ngerjapkan mata. “Aku baik-baik saja,”
            Setelah mendengar cerita dari Tara, malamnya pikiran tentang Ryanu dan perempuan itu menghantui seisi otakku. Lebih-lebih ketika Tara bilang, semenjak Ryanu ditolak, sikapnya pada perempuan itu berubah, tidak bersahabat seperti sebelumnya. Dia menjadi sedikit dingin, kaku, serius. Tara juga bilang, Ryanu sering mengamati foto perempuan itu di kelas. Aneh! Kenapa dia tidak mengamati orangnya saja langsung? Satu kelas, bukan?  Aneh!  Aku juga jadi merasa aneh pada diriku sendiri. Mengetahui ini semua, jujur aku tidak cemburu, aku juga tidak marah. Aku tidak bohong ketika aku bilang pada Tara, aku baik-baik saja, itu aku serius. Tapi kenapa aku merasa senewen begini? Ah, sudah!
            Suatu hari, tanpa sepengetahuanku Tara menceritakan perasaanku ini pada Ryanu. Menyebalkan sekali Tara! Menyebalkan! Oke, ada yang perlu aku luruskan. Satu, aku memang menyukai Ryanu tapi, aku sendiri bingung dengan semua ini. Maksudku, memangnya apa yang aku harapkan dari perasaan yang aku rasakan ini? Berharap menjadi pacarnya? Seseorang yang spesial di hatinya? Aku selalu ingat, mendekati zina saja dilarang, apalagi berpacaran.
Dua, lalu untuk apa aku tetap bertahan menyukainya? Tentu saja sebagai seorang manusia dan perempuan yang normal, perasaan yang aku rasakan ini adalah fitrah yang suatu saat akan hilang dengan sendirinya. Atau jika Sang Pencipta sudah berkehendak, apapun bisa terjadi, perasaan ini juga mungkin akan bisa berlabuh bagaimanapun caranya. Dan yang aku lakukan dengan perasaan ini sekarang adalah menjaganya, tidak mengumbarnya. Jadi, ketika Tara memberitahu Ryanu tentang perasaanku ini, aku merasa...sebal, bingung, kesal. Tapi, ada hal lain yang membuatku tersenyum lega.
            Ngomong-ngomong, Tara benar-benar seperti Nyonya Psikolog. Alasan dia memberitahu Ryanu adalah ketika dia tahu aku pernah menangis cuma-cuma hanya karena laki-laki itu. Tara tidak ingin kehidupanku terganggu oleh Ryanu. Sederhananya, Tara tidak ingin aku berlarut-larut menikam hatiku sendiri setiap perasaan itu kembali menggunung. Karena itulah Tara berbicara pada Ryanu. Akhirnya aku tahu, Ryanu akan menjauhiku walaupun dia tidak tahu siapa sebenarnya yang harus dia jauhi, karena, Tara tidak menyebut-nyebut namaku. Tara hanya bilang pada Ryanu bahwa ada seseorang yang benar-benar menyukainya. Dari situ aku mengerti maksud Tara.
Kau mungkin pernah mendengar tentangku dari teman sekelasmu. Teman sekelasmu bilang bahwa aku menyukaimu. Ia juga berpesan padamu untuk menjauhiku, karena, ia pikir kau mengganggu kehidupan tenteramku. Ia berkata seperti itu demi kebaikanku, demi kebaikanmu. Lalu kau menyetujuinya, dan kau bilang kau akan menjauhiku. Ya, kau akan menjauhiku walaupun kau tidak tahu siapa sebenarnya yang harus kau jauhi.
Ryanu akan menjauhiku? Bagaimana caranya? Atau aku yang harus men-jauhinya? Melupakannya? Baik. Jadi, setelah itu aku berusaha melupakannya, berusaha membatasi rasa kagum terhadapnya, aku sebisa mungkin untuk lupa bahwa aku menyukainya. Lagi pula aku ingin fokus belajar. Aku ingin fokus pada studi dan organisasi yang aku jalani.
Waktu demi waktu...nyaris sembilan belas bulan sejak aku menyukai-nya...hasilnya nol!
Aku telah melanggar banyak. Buktinya aku masih mengingat tarian yang sampai sekarang masih melekat dan hal lainnya yang mungkin sepele. Aku bahkan masih gugup tidak keruan ketika Ryanu berjalan melewatiku. Pun sama ketika aku berpapasan dengan Ryanu, rasa-rasanya aku ingin berjalan ke arah lain demi tidak terlihat olehnya. Pokoknya aku ingin menghilang ketika bertemu Ryanu agar dia tidak melihatku! Hih, sebenarnya apa yang aku pikirkan? Adakah dia melihatku? Adakah dia memperhatikanku? Jangankan itu, mengetahui namaku saja tidak. Pernah satu kelaspun tidak. Saling bertegur sapapun tidak. Berbicara sekalipun tidak. Tidak. Tidak. Tidaaaak. Ah, aku benar-benar membuat repot diri sendiri! Iya, kan?
Hidup ini memang penuh dengan kejutan. Akhir tahun 2014. Ada satu hal yang membuatku kaget bukan main. Hal yang tidak kusangka-sangka. Sudah hampir setengah tahun sejak Tara memberitahu perasaanku pada Ryanu waktu itu, ternyata dia masih mengingatnya. Ryanu masih mengingatnya! Bak petir di siang bolong, sambil mesem-mesem tiba-tiba Tara mendatangiku. Aku yakin kedua pendengaranku ini masih bagus. Dia bilang bahwa Ryanu bertanya,
“Aku ingin tahu, siapa sebenarnya yang menyukaiku?”
Lalu Tara menjawab, “Aku tidak bisa memberitahumu.”
“Kenapa?”
“Karena, orang yang menyukaimu tidak ingin kau mengetahuinya.”
Ya, benar. Aku pernah bilang pada Tara bahwa aku tidak ingin Ryanu mengetahui keberadaanku dan perasaanku. Itulah aku. Aku mungkin sedikit aneh. Dari kebanyakan orang kasmaran, setidaknya mereka mengharapkan pertemuan dengan orang yang ditaksirnya. Benar, tidak? Yah, tapi, aku tidak begitu. Aku malah kocar-kacir menjauh dari Ryanu. Aku seperti mabuk kepayang di belakang Ryanu, tapi di depannya aku berlagak seperti orang yang tidak memiliki perasaan apapun padanya. Aku terus berlagak demikian. Mungkin kalau ada yang menawariku bermain film, aku akan jadi aktris profesional. Bah!
Setelah Tara bercerita begitu, aku merasakan...aku ingin...aku akan....aku seperti ingin melompat-lompat layaknya seekor monyet yang mendapat sekarung pisang manis.  Aku juga ingin tertawa dan berteriak keras-keras. Menar-nari. Terbang. Semua. Sepertinya aku rela melakukan apapun. Namun, aku mendapati diriku terdiam dan wajahku datar tanpa ekspresi apa-apa ketika sedetik kemudian aku teringat sesuatu. “Siapa aku? Sadarlah!”
Aku ingin tahu, siapa sebenarnya yang menyukaiku? Ah, kata-kata itu kenapa sampai membuatku girang nian? Kenapa? Sebenarnya itu memang pertanyaan yang wajar. Hanya ingin tahu siapa orang yang menyukai kita. Rasa penasaran yang mendorong untuk peduli. Dasar perempuan, kadang diri sendiri yang membuat segalanya GR duluan. Seperti, tatapan tidak sengaja, sesungging senyuman yang terlontar begitu saja padahal entah kepada siapa sasaran senyum itu, bahkan berpapasan kilat saja dibilang pertanda besar. Menggelitik sekali semua itu.
Ryanu adalah laki-laki pertama yang membuatku menyukainya dengan cara yang berbeda. Sebelumnya aku pernah menyukai seseorang, tapi tidak begini, tidak serumit ini, tidak selama ini. Menyukainya selama nyaris dua tahun. Memerhatikannya diam-diam. Mendoakannya dalam sepi. Aku memang orang yang tidak dikenalinya. Jadi, hanya itu yang bisa aku lakukan.
Aku tidak berniat memperkenalkan diriku sendiri padanya. Mungkin sampai masa di SMA selesai, aku tidak akan memberitahu ini semua, bahkan, siapa aku, sedikitpun ciri tidak akan aku tunjukkan padanya. Eh, apa aku kedengarannya seperti pengagum rahasia? Secret admirer? Hei, dengar, aku tidak bermaksud menjadi pengagum rahasianya. Aku juga tidak ingin disebut demikian. Ini adalah cara.
Apa yang bisa dilakukan tentang cinta oleh anak sekolahan? Bukan saatnya, kan? Yang ada hanya cinta monyet. Masih main-main. Kebanyakan membuang-buang waktu. Ironis. Dan yang terpenting di atas segalanya adalah Islam sudah mengatur bagaimana interaksi antara perempuan dan laki-laki. Khalwat... ikhtilat. Diam-diam mencintai, sudah cukup. Jaga. Jangan diumbar. Itu saja. Kita sering dengar, semua akan indah pada waktunya, bukan? Serahkan semua urusan kita. Allah SWT Maha Mengetahui.
***
Entah dari mana energi untuk menulis surat ini datang. Aku sendiri tidak tahu. Maafkan aku. Mungkin kau merasa aku adalah orang menyebalkan karena aku sampai tidak menunjukkan siapa aku walau sedikit ciri. Aku tidak bermaksud untuk menjadi pengagum rahasia. Dan aku tidak ingin disebut demikian. Aku harap kau tidak membenciku. Ini adalah caraku memberitahumu. Aku tidak ingin berharap lebih.
Tapi, aku punya alasan kenapa aku menulis surat ini. Dengar, sewaktu kau kembali menari untuk membuka acara  class meeting semester empat, aku merasa ada hal yang sedikit berbeda darimu. Menurutku kau terlihat sedikit lemas, kurang berkonsentrasi...tidak maksimal. Hei, ada apa?
Aku ingin kau selalu bersemangat. Aku ingin menjadi pendukungmu. Sudah sepantasnya sebagai manusia untuk saling tolong-menolong, bukan? Jadi, dengan surat ini aku harap kau bersedia menari dengan lebih bersemangat lagi. Atau apapun yang telah kau yakini sebagai kelebihanmu, aku ingin kau berhasil menggapainya. Jangan patah semangat, ya? Aku harap kita sama-sama saling mendoakan untuk segala kebaikan. Kebaikanmu. Kebaikanku.
Berjanjilah padaku untuk tidak patah semangat, Ryanu. Selamat berjuang. Kau adalah orang hebat yang akan selalu aku hargai. Terima kasih untuk segala-galanya. 
Aku sudah menjelaskan semua perasaanku lewat surat itu. Paragraf-paragraf di atas adalah bagian dari penutup. Ada alasan kenapa aku menulis surat itu, kan? Bukan semata-mata menyampaikan perasaan ini, bukan pula menunjukkan betapa pentingnya dia di sebagian masa SMA-ku. Bukan. Aku menulisnya lebih kepada memberinya semangat, memberinya dukungan terhadap impian-impian dengan bakat yang dimilikinya.
Aku memang tidak tahu bakatnya apa selain menari. Aku juga tidak tahu minatnya apa. Studi yang dipilihnya kemudian apa, aku juga tidak tahu. Aku tidak mencari tahu. Tapi, apapun kelebihan-kelebihan lain yang dimilikinya, aku ingin dia selalu bersemangat. Aku ingin mendengarnya berhasil meraih semua impiannya. Ryanu adalah orang hebat yang akan selalu aku hargai.
Tentang keputusan untuk menyerahkan surat itu atau tidak, di tangannya atau masih di tanganku, aku memilih untuk tidak menyerahkannya. Ya, aku memilih untuk menetapkan surat itu di tanganku saja. Aku memang pernah berpikir untuk menyerahkan surat itu di hari perpisahan sekolah nanti, tapi, kedengarannya memalukan. Membayangkannya saja membuat bulu kuduk merinding.
Semampuku, aku akan selalu memberinya semangat lewat doa yang kupanjatkan pada-Nya. Kini setiap melihatnya, tidak ada lagi yang aku harapkan, aku hanya membisikkan namanya untuk rongga-rongga di tulisanku. Kucukupkan harapanku. Mengenal Ryanu, aku telah belajar banyak hal. Dialah inspirasi.
Masa-masa transisi ini aku harap segera berlalu, agar tidak ada lagi bias-bias mata yang berkaca-kaca setiap mengingatnya. Aku belajar untuk taat. Aku ingat nasihat yang mengatakan: Kalau sekarang kau sedang memperbaiki diri, insya Allah jodohmu juga sedang memperbaiki diri dan kalau sekarang kau sedang menjaga hati, insya Allah jodohmu juga sedang menjaga hatinya.
Islam memang indah. Semua aspeknya adalah keindahan. Jelas sekali mana yang halal dan mana yang haram. Ketika waktunya tiba, jodoh pasti bertemu dengan cara yang halal. Pasti. Kita harus percaya, bukan? Jodoh pasti bertamu. Iya, kan?     

This entry was posted in

Kamis, 04 Februari 2016

He Never Let Me Alone



KEPALAKU pusing, kedua bahu ini juga terasa pegal. Sesekali aku memijat bahu agar pegalnya berkurang. Wajar saja badanku terasa lemas, tidak bertenaga. Tadi, pagi-pagi sekali aku sudah bergegas ke terminal pukul 3, lalu menghabiskan waktu 7 jam untuk sampai di salah satu kota di Priangan Timur. Begitu sampai, kakiku langsung menjejeak area yang disebut kampus.
          Aku ingat waktu pertama kali melihat gedung kampus, aku merasa gugup, lumayan tegang dan senang yang bercampur aduk. Aku gugup dan tegang sewaktu melihat banyak mahasiswa berkeliaran memakai almet kuning kebanggaan kampus. Di pikiranku, mahasiswa itu cerdas-cerdas, kritikus, pokoknya istimewa deh. Itulah pandanganku yang membuatku demikian gugup dan tegang.
          Aku datang untuk memvalidasi berkas-berkas penting yang dibutuhkan demi kelancaran registrasi sebagai calon maba FKIP. Validasi giliranku di sore hari, mengingat banyaknya maba FKIP lain yang juga menunggu giliran.
          Setelah selesai, aku mencari kosan yang letaknya tak jauh dari kampus. Hanya butuh 7 menit untuk nanti aku bolak-balik kosan-kampus. Ketika langit nyaris sepenuhnya menggelap, aku segera menuju terminal untuk pulang ke kota asalku. Di sinilah aku sekarang. Terminal bus. Aku melirik jam, pukul 18.45. Sambil menunggu bus yang akan datang setengah jam lagi, aku menyandarkan tubuh ke kursi sesantai-santainya. Sesekali aku menguap, kantuk mulai menyergap seisi otak, semakin membuatku ingin cepat-cepat pulang.
          Seperti doa yang langsung dikabulkan, tak terasa setengah jam berlalu, busku akhirnya datang. Aku langsung naik dan mencari tempat duduk. Di sampingku, aku ditemani seseorang yang selalu rela membantuku, yang selalu memikirkanku, yang tadi pagi buta sama-sama kedinginan, yang hingga saat ini merasa lelah meski ia tidak bilang lelah, tapi aku tahu, dari kantung mata yang terlihat jelas, dari kedua tangan yang melemas, menandakan ia sangat letih seharian ini. Ia adalah ayahku. Ia benar-benar rela menemaniku.
          Aku melemparkan pandangan ke luar jendela. Mengembuskan napas dengan lega. Selesai. Hari ini selesai. Allah memudahkan perjalanan yang belum pernah kami datangi ini, kota ini. Tidak hanya ayah yang membantuku, ada teman ayah yang begitu baik hati menemani kami mencari kos-kosan, mengantar ke terminal maghrib-maghrib, membelikan bekal makanan tanpa kami minta, mereka adalah sepasang suami istri yang sudah bertahun-tahun menikah tapi belum dikaruniai seorang anak. Meski aku baru sekali bertemu, tapi mereka benar-benar menganggapku sebagai anaknya. Baik sekali. Aku berdoa semoga Allah mengabulkan semua keinginan baik mereka.
          Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Skenario Allah ini membuatku terharu, Dia begitu baik padaku, seolah tidak mempedulikan dosaku yang menggunung. Dia selalu memberiku kelancaran. Ketika aku sendiri, aku sadar bahwa Dia tidak pernah membiarkanku sendirian. Dia selalu mengirimkan orang-orang untuk menemaniku, membimbingku, menghiburku. Kapanpun. Siapapun. He is Allah who never let me alone.
Sukabumi, 1 Februari 2016
Fitri Rahayu
Yang lagi teringat memori 6 bulan lalu
This entry was posted in

Unspoken



ASTAGFIRULLAHALADZIM...
          Kata istigfar harus terus aku gumamkan. Pasalnya, akhir-akhir ini aku tidak bisa mengendalikan emosi. Aku sering kesal, marah, dan tidak sabaran. Hal-hal yang membuat aku dongkol sebenarnya bukan suatu masalah besar, bahkan bukan pula sesuatu yang sebenarnya layak disebut masalah. Kau mengerti maksudku, kan?
          Contoh kasus yang membuat aku dongkol salah satunya saat aku mulai sering mengobrol dengan teman baru di kampus. Kami mengobrolkan sesuatu tentang hal yang berkaitan dengan kampus, seperti; mata kuliah, organisasi, tapi yang sering menjadi topik pembicaraan kami adalah tentang diri kami masing-masing. Aku membicarakan tentang diriku padanya. Dia juga menceritakan tentang dirinya padaku. Kau tahu, temanku itu bisa dibilang senang berbicara. Terbukti ia tidak pernah kehabisan cerita. Aku mendengarkan sepenuhnya.Tapi, lama kelamaan aku merasa ‘pegal’ mendengarkannya terus berbicara. Meski begitu, aku tidak tega memintanya menutup mulut di tengah pembicaraan. Aku akhirnya mencoba bersabar sampai titik darah penghabisan -_-
          Hari-hariku selalu dipenuhi dengan mengobrol ketika bertemu dengannya. Pernah ketika aku mendengar suaranya memanggilku, aku seperti langsung ingin menjauh dan menyelamatkan diri untuk tidak lagi mendengarkannya berbicara. Aku merasa.. mm.. bagaimana mengatakannya, ya? Aku ini merasa overload. Kalau diibaratkan sebuah komputer, penyimpanan datanya sudah nyaris penuh tapi terusssssss diisi dengan berbagai data sampai komputer itu tidak bisa lagi bekerja dengan baik, operasinya lamban, bahkan ‘nge-hang’.
Apa aku orang jahat? Apa kau berpikir kelakuanku ini bersifat egois? Kasarnya, aku seperti tidak peduli pada temanku itu, ya? Tapi, bukan itu maksudku. Akan aku beritahu, dia itu memang teman yang sangat baik, malah tak jarang aku mendapat banyak ilmu darinya. Tapi, hei, terkadang ada beberapa hal yang sebenarnya tidak perlu kau ceritakan kepada semua orang. Kau juga harus pintar membaca situasi, kapan seseorang bersedia mendengarkanmu dan kapan seseorang tidak sedang ingin mendengarkan apapun karena cerita hidupnya sendiri ia pendam. Jadi, bagaimana rasanya ketika kau sedang memiliki urusan pribadi yang belum terselesaikan, sementara orang lain menceritakan curhatan hidupnya begitu saja tanpa kau minta?
Ngomong-ngomong, menurutku, ada satu perasaan yang muncul tanpa kita inginkan. Misalnya, aku sedang bersedia mendengarkan temanku itu kapanpun ia ingin bercerita, tapi di tengah-tengah obrolan, tiba-tiba saja muncul perasaan capek, bosan, kesal hingga akhirnya... “cukup, aku tidak kuat mendengarkanmu lagi”. Pernah merasa begitu? Ada perasaan yang tiba-tiba muncul tanpa terlintas sedikitpun pikiran untuk memunculkan perasaan itu ke permukaan? Pernah? Aku jadi bertanya-tanya, apa perasaan itu muncul dari syaitan yang tidak kenal lelah membujuk manusia? Atau apa perasaan itu murni dari dirimu sendiri? Ah, tanda tanya yang bergelayutan bebas di benakku.
          Astagfirullahaladzim...
Kau tahu, aku ini tipikal orang yang begini; orang lain tidak perlu tahu banyak tentang apa yang sudah terjadi padaku di masa lampau. Jadi, ketika aku menceritakan tentang diriku, aku hanya menceritakan beberapa hal secara singkat, tidak terperinci. Itu saja. Berbeda dengan temanku itu. Ia akan sangat antusias ketika aku bertanya tentang hal-hal yang terjadi padanya, ia akan bercerita panjang lebaaar. Aku hanya ingin tahu. Bukan berarti bersedia menyiagakan terus kedua telingaku untuk mendengarkannya sampai ia selesai menceritakan semuaaaanya.
          Astagfirullahaladzim...
          Ya, mungkin aku memang egois. Mungkin hatiku perpenyakit. Mungkin aku mengizinkan syaitan membujukku untuk mudah kesal dan memandang sesuatu seperti sebuah masalah. Ya, mungkin aku benar-benar seperti sedang berpenyakit hatinya.
          Astagfirullahadzim...
          Ada kasus lain di mana aku kesal sendiri, bingung sendiri. Seolah rumit. Aku kewalahan ketika seseorang berbicara, padahal hanya dalam beberapa kata, aku menerjemahkannya ke beberapa maksud lain. Hadeuhhh.
Contoh tragisnya adalah ketika aku naik angkutan umum. Waktu itu, aku sedang dalam perjalanan awal hendak pulang ke kota asal. Sopir angkotnya bertanya,
          “Mau ke mana memangnya, Neng?”
          Otakku bekerja keras menerjemahkan pertanyaannya. Ada dua kemungkinan. Pertama, apa sopir itu bertanya ke mana tujuanku setelah selesai naik angkot? Ke terminal? Karena, aku bilang pada suprnya untuk menyambungkanku ke angkot lain, aku perlu naik angkot sekali lagi. Kedua, apa sopir itu bertanya ke mana tujuanku sebenarnya? Kota asalku? Hei, Kok, pertanyaannya seperti soal ujianmemerlukan waktu untuk menjawabnya L Ini seolah rumit, padahal apanya yang rumit? -________-Aneh, bukan? Aku tidak bisa memahami cara kerja otakku.
          Aku malah balik bertanya, “Mm.. ngg.. Ke mana apa?”
          Nada sang sopir meninggi, “Ya, Neng, mau ke mana?”
          Aku mengutuk diriku sendiri. Akhirnya aku menjawab, “Mau ke S****u**” tapi, buru-buru aku menambahkan, “Ke terminal.”
          Lihat? Aku membuat rumit yang tidak seharusnya rumit. Aku benar-benar membuat repot diri sendiri. Hhhhh...
          Masih banyak kasus lain yang ujung-ujungnya salah paham. Kini, sebelum membuat keputusan untuk membuka mulut, aku jadi berkali-kali lipat berpikir untuk mengartikan apa yang sebenarnya diucapkan, dibicarakan. Aku menjadi ragu ketika berbicara. Akhirnya, aku lebih banyak diam. Ketakutan mengatakan yang salah membuatku semakin mengunci mulut dan lebih banyak mendengarkan.
          Aku tidak mengerti.
          Bingung.
          Apa sebenarnya yang sedang terjadi padaku ini?
          Astagfirullahaladzim...
Tasikmalaya, 8 Januari 2016
Fitri Rahayu
Yang lagi kebingungan
This entry was posted in