Di postingan kali ini, aku akan berbagi tentang cerpenku yang gagal lolos tahun lalu ketika ada kompetisi menulis, temanya "Jodoh Pasti Bertamu." Kasih komentar, ya!
***
AKU adalah orang yang tidak kau kenal. Yang benar-benar
tidak kau lihat. Tapi, aku mengenalmu, aku melihatmu.
Kalimat itu terdapat di paragraf pertama dari isi surat
yang sudah lama aku buat. Kalimat yang terus menyadarkanku bahwa aku mengenalnya,
tapi dia tidak. Aku melihatnya, tapi dia tidak. Hal yang orang lain sebut: Cinta
yang Bertepuk Sebelah Tangan. Jika sebutan itu disematkan padaku,
entahlah...aku tidak membenarkan dan aku juga tidak menyalahkan. Pasalnya, ada
hal awal yang kiranya perlu aku beri tahu.
Tentang
surat yang aku tulis itu, setiap membacanya, aku tidak pernah merasa bosan.
Pikiran untuk menyerahkan surat itu selalu terbayang. Berkali-kali aku
pikirkan, segalanya sudah aku coba untuk putuskan. Sekarang adalah waktu untuk
menempatkan surat itu. Di tangannya atau masih di tanganku, kini sudah aku
putuskan. Benar-benar sudah aku putuskan.
***
Namaku Akhwatun Nabil. Panggil saja, Nabil. Aku duduk di
bangku kelas dua belas sekarang. Sejauh ini kehidupanku di masa abu-abu bisa
dikatakan sangat baik. Aku juga beruntung mempunyai beberapa teman dekat yang
begitu shalihah. Kami dipertemukan oleh-Nya di satu ikatan organisasi bernama Rohis.
Karena kami begitu dekat, masing-masing dari kami bahkan sampai menceritakan hal-hal
yang bersifat rahasia. Salah satu hal rahasia itu tentang, siapa seseorang yang
kami sukai. Sampai akhirnya mereka tahu siapa Ryanu di mataku.
Ada ekspresi yang tidak bisa aku baca dari salah satu
temanku ketika aku mengaku menyukai Ryanu.
“Kau menyukainya? Ryanu? Teman sekelasku?” tanyanya waktu
itu.
“Menurutmu siapa lagi orang yang bernama Ryanu di sekolah
ini?” kataku.
“Kalau saja kau satu kelas dengannya, Nabil, kau akan
tahu sikapnya seperti apa.”
“Memang sikapnya seperti apa?”
Tara—temanku itu—sedikit ragu sebelum akhirnya berkata,
“Dia banyak bercanda,”
Aku mendengar nada menggantung dari ucapan Tara.
“Bagaimana kau ini? Bukankah kau juga banyak bercanda?” balasku sambil
tersenyum lebar.
“Maksudku, dia banyak bercanda dengan teman perempuan.” kata
Tara blak-blakan.
Tara adalah salah satu teman yang bisa aku pegang
kata-katanya. Dari pengalaman-pengalaman hidupnya yang selalu dia ceritakan,
aku menyimpulkan bahwa Tara adalah orang yang jujur, sedikitpun dia tidak
pernah berkata bohong. Perkataannya selalu mengandung arti. Bahkan aku
menyebutnya, Tara si Psikolog. Atas landasan itu, aku percaya pada Tara. Aku
percaya padanya. Jadi, ketika dia bilang, maksudku,
dia banyak bercanda dengan teman perempuan, aku hanya tertawa keras-keras untuk
menutupi perasaan yang aku tidak tahu apa namanya, perasaan yang membuatku...tidak
nyaman.
Teman-teman
dekatku yang lain kemudian bertanya kenapa bisa aku menyukai Ryanu. Ketika
mereka bertanya seperti itu, aku jadi teringat satu kejadian yang menurutku
ajaib. Aku bilang ajaib karena, perasaan itu muncul dengan sangat ringan dan
mudah. Seperti semudah membalikkan telapak tangan.
Kau tahu, perasaan itu muncul ketika kau dengan
profesional bersama temanmu yang lain menari dalam acara kunjungan salah satu
stasiun radio ke sekolah. Lucu sekali, kau menari sedikit tarian balet. Apa kau
ingat? Aku merasa kau berbakat.
Saat
itu hari ke sepuluh di bulan Oktober tahun 2013, itu artinya dua tahun lalu. Salah satu stasiun radio lokal di kotaku mengadakan suatu acara sepulang sekolah. Di halaman
berumput, banyak orang berkumpul menyaksikan sesuatu yang menghibur. Beberapa
orang guru bahkan rela keluar dari ruangannya. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka
saksikan. Hanya dari kejauhan, aku mendengar suara musik yang sesekali disambut
riuhan tepuk tangan. Karena suara tepuk tangan semakin meriah, dan alunan musik
Barat semakin keras, sendirian aku menyeret kakiku untuk ikut bergabung dengan
mereka dan melihat apa yang terjadi.
Aku
masih ingat, suasana hatiku sedang tidak baik saat itu. Niat awal aku memang
ingin cepat pulang—tidak peduli dengan acara NBS FM tersebut. Tapi, tiba-tiba
sesuatu menahanku, bahkan lebih dari itu, suasana hatiku malah berbalik total.
Senang. Aku merasakan sesuatu yang membuatku senyum-senyum sendiri.
Lima
orang laki-laki. Mereka melakukan tarian-tarian ajaib dengan lentur dan lincah,
membuat siapapun yang melihatnya seolah menyaksikan para penari profesional
tampil dalam konser yang dihadiri beribu-ribu penonton. Benar-benar profesional.
Aku pernah melihat penari betulan menari sebelumnya, tetapi baru pertama ada orang
melakukan tarian yang masih saja aku ingat sampai sekarang, menandakan orang
itu sangat hebat di mataku. Bukan maksudku berlebihan memuji mereka, melainkan
pengakuanku itu aku pikir perlu aku sematkan. Lagipula akupun melihat pandangan
takjub yang sama pada orang-orang di sekitarku waktu itu. Oh, entahlah. Apa aku
sedemikian terpesonanya sampai-sampai aku berani berkata seperti itu?
Aku
benar-benar tidak percaya pada apa yang aku lihat selanjutnya. Hal yang tidak
aku duga sampai dua tahun ke depan waktu itu, apa yang aku lihat ternyata
menjadi bagian yang banyak menguras waktuku untuk sekedar mencoba berbicara pada
orang itu, hal yang tidak pernah berujung. Seperti mengajak berbicara seseorang
yang sudah tidak bernapas. Ya, komunikasi satu arah.
Dari
kelima laki-laki tersebut, ada satu laki-laki yang dominan menarik perhatianku.
Perawakannya tinggi, berkulit putih dan berambut sedikit ikal. Dia menggerakkan
seluruh anggota tubuhnya—dengan kedua tangan berpaut sambil diangkat ke atas
serta kedua kaki yang berjinjit seperti balerina—mengikuti alunan musik yang
berubah dari lagu bergenre remaja ke lagu bergenre anak-anak, lagu ala-ala
Barbie, lebih tepatnya.
Dia
kemudian berputar beberapa kali—mengelilingi temannya yang berakting
tertidur—mencoba meninabobokan mereka. Lucu sekali. Aku merasa dia berbakat.
Ah, aku tidak akan lupa bagaimana ekspresi wajahnya saat itu. Musik kemudian
berubah dan dia kembali melakukan dance yang
menambah suara tepuk tangan semakin meledak. Pandanganku tidak terlepas dari
setiap gerak-geriknya sampai penampilan mereka selesai. Dia membuatku kagum.
Aku kemudian menunduk dan menyatakan bahwa aku mulai menyukai laki-laki itu. Ryanu.
Hari-hari setelah penampilan Ryanu
dan temannya di acara NBS FM, dan hari-hari setelah teman-teman dekatku tahu
siapa seseorang yang aku sukai, perasaan itu semakin hari semakin menggunung. Terkadang
ada beberapa hal tentangnya yang membuatku sedih sendiri. Konyol sekali ketika
ada air mata karenanya. Aku ingat hal pertama yang membuatku menangis.
Sekian waktu setelah kau tampil waktu itu, kau kembali
melakukan gerakan-gerakan ajaib yang membuat segalanya terasa benar, bahwa kau
benar-benar penari profesional di mataku. Aku memerhatikanmu lagi. Kali ini kau
menari bersama satu perempuan, kau berulah seperti memainkan gitar dengan backsound lagu Mine—Petra Sihombing.
Entah kenapa ketika
kalian
saling bercerita lewat tarian dan saling berpandangan, aku merasa ada satu sisi
yang membuatku sakit. Tiba-tiba aku merasa mataku memanas waktu itu, aku
kemudian menyeka mata.
Akhir tahun 2013, ada satu acara—Gebyar Sekolah—dalam
rangka memperingati hari ulang tahun sekolahku. Ryanu adalah salah satu anggota
ekstrakurikuler Teater. Dia bersama timnya mementaskan drama sebagai tanda
dibukanya acara itu. Ketika dia tampil dengan bakat dance-nya, aku kembali merasakan perasaan kagum seperti waktu itu. Aku
kembali kagum ketika dia berdrama melakukan battle
dance mengikuti alunan musik Maroon 5—One
More Night. Menyaksikan itu, sudut-sudut bibirku tertarik ke atas dan hati yang
terus bergumam, takjub...takjub.
Tanpa dikomando, perasaanku memuncak teratur.
Perasaan yang memuncak mudah sekali membuatku sensitif.
Aku sedikit membesarkan bola mata ketika ada satu perempuan muncul menari-nari
diikuti Ryanu yang membawa gitar. Musik yang terdengar waktu itu lagu dari
Petra Sihombing—Mine. Entah kenapa
ketika
mereka saling bercerita lewat tarian dan saling
berpandangan, aku merasa ada satu sisi yang membuatku sakit. Tiba-tiba aku
merasa mataku memanas waktu itu, aku kemudian menyeka mata. Air mataku mengalir
bebas di tempat umum. Bodoh sekali. Bagaimana bisa aku menangis? Di tempat
umum? Yang benar saja!
Saat itu aku duduk bersisian dengan teman-teman dekatku.
Mereka menengok ke arahku, begitu mengetahui kedua mataku berair, anehnya
mereka kemudian ikut berkaca-kaca. Mungkin ini yang disebut, ukhuwah. Mereka seolah berkata: kami
merasakan apa yang kau rasakan, Nabil.
Aku juga masih ingat hal lain tentang Ryanu yang
membuatku sedih sendiri. Ada satu cerita yang aku dengar dari Tara. Sebelum
memulai cerita, temanku itu tersenyum meminta maaf padaku. Aku mengangguk saja
dan menyuruhnya untuk segera bercerita.
“Ada seorang perempuan di kelasku,” kata Tara memulai
cerita. “aku berteman baik dengannya, begitupun Ryanu. Perempuan itu orangnya
asyik, suka berbicara, membuat tersenyum, periang, blak-blakan, peduli. Siapapun
yang berada di dekatnya seperti berkawan dengan orang yang sudah lama tak
berjumpa. Salah satu dari sifatnnya itu berhasil membuat Ryanu...”
Berhenti sejenak. Tara lagi-lagi tersenyum meminta maaf
padaku waktu itu. Aku mengibaskan sebelah tangan dan menyuruhnya untuk
melanjutkan cerita. Dari pemaparan Tara, aku sedikit banyak bisa menerka apa
yang terjadi dengan Ryanu. Namun, aku berusaha mengenyahkan pikiran itu. Tidak
mungkin! Tara, jangan katakan kalau...
“...berhasil membuat Ryanu menyukainya.” ujar Tara
melanjutkan. “Ryanu menyukai perempuan itu. Sampai akhirnya dia,”
Sudah, Tara. Aku
tidak ingin...
“...dia menyatakan pe...”
Aku tidak ingin dengar!
“...menyatakan perasaannya berkali-kali tapi perempuan
itu tetap menolaknya,”
Tara!!! Tega sekali! Tara, kau bilang apa?
“Kenapa dia menolaknya?” tanyaku terpaksa.
“Dia tidak mau pacaran.”
Kiamat!!! Jadi, perempuan itu ingin Ryanu menikahinya? Ohhhhh!!!
Ya ampun, hentikan, Tara! “Terus?”
“Tidak ada terus.” Tara memiringkan kepalanya ke arahku
lalu bertanya, “Kau tidak menangis, kan?”
Aku mengerjap-ngerjapkan mata. “Aku baik-baik saja,”
Setelah mendengar cerita dari Tara, malamnya pikiran
tentang Ryanu dan perempuan itu menghantui seisi otakku. Lebih-lebih ketika
Tara bilang, semenjak Ryanu ditolak, sikapnya pada perempuan itu berubah, tidak
bersahabat seperti sebelumnya. Dia menjadi sedikit dingin, kaku, serius. Tara
juga bilang, Ryanu sering mengamati foto perempuan itu di kelas. Aneh! Kenapa
dia tidak mengamati orangnya saja langsung? Satu kelas, bukan? Aneh! Aku
juga jadi merasa aneh pada diriku sendiri. Mengetahui ini semua, jujur aku
tidak cemburu, aku juga tidak marah. Aku tidak bohong ketika aku bilang pada
Tara, aku baik-baik saja, itu aku
serius. Tapi kenapa aku merasa senewen begini? Ah, sudah!
Suatu hari, tanpa sepengetahuanku Tara menceritakan
perasaanku ini pada Ryanu. Menyebalkan sekali Tara! Menyebalkan! Oke, ada yang
perlu aku luruskan. Satu, aku memang menyukai Ryanu tapi, aku sendiri bingung
dengan semua ini. Maksudku, memangnya apa yang aku harapkan dari perasaan yang
aku rasakan ini? Berharap menjadi pacarnya? Seseorang yang spesial di hatinya? Aku
selalu ingat, mendekati zina saja dilarang, apalagi berpacaran.
Dua,
lalu untuk apa aku tetap bertahan menyukainya? Tentu saja sebagai seorang
manusia dan perempuan yang normal, perasaan yang aku rasakan ini adalah fitrah yang
suatu saat akan hilang dengan sendirinya. Atau jika Sang Pencipta sudah
berkehendak, apapun bisa terjadi, perasaan ini juga mungkin akan bisa berlabuh
bagaimanapun caranya. Dan yang aku lakukan dengan perasaan ini sekarang adalah
menjaganya, tidak mengumbarnya. Jadi, ketika Tara memberitahu Ryanu tentang
perasaanku ini, aku merasa...sebal, bingung, kesal. Tapi, ada hal lain yang
membuatku tersenyum lega.
Ngomong-ngomong, Tara benar-benar seperti Nyonya Psikolog.
Alasan dia memberitahu Ryanu adalah ketika dia tahu aku pernah menangis
cuma-cuma hanya karena laki-laki itu. Tara tidak ingin kehidupanku terganggu
oleh Ryanu. Sederhananya, Tara tidak ingin aku berlarut-larut menikam hatiku
sendiri setiap perasaan itu kembali menggunung. Karena itulah Tara berbicara
pada Ryanu. Akhirnya aku tahu, Ryanu akan menjauhiku walaupun dia tidak tahu
siapa sebenarnya yang harus dia jauhi, karena, Tara tidak menyebut-nyebut
namaku. Tara hanya bilang pada Ryanu bahwa ada seseorang yang benar-benar
menyukainya. Dari situ aku mengerti maksud Tara.
Kau mungkin pernah mendengar tentangku dari teman
sekelasmu. Teman sekelasmu bilang bahwa aku menyukaimu. Ia juga berpesan padamu
untuk menjauhiku, karena, ia pikir kau mengganggu kehidupan tenteramku. Ia
berkata seperti itu demi kebaikanku, demi kebaikanmu. Lalu kau menyetujuinya,
dan kau bilang kau akan menjauhiku. Ya, kau akan menjauhiku walaupun kau tidak
tahu siapa sebenarnya yang harus kau jauhi.
Ryanu akan menjauhiku? Bagaimana caranya? Atau aku yang
harus men-jauhinya? Melupakannya? Baik. Jadi, setelah itu aku berusaha melupakannya, berusaha membatasi
rasa kagum terhadapnya, aku sebisa mungkin untuk lupa bahwa aku menyukainya.
Lagi pula aku ingin fokus belajar. Aku ingin fokus pada studi dan organisasi
yang aku jalani.
Waktu demi waktu...nyaris sembilan belas bulan sejak aku
menyukai-nya...hasilnya nol!
Aku telah melanggar banyak. Buktinya aku masih mengingat
tarian yang sampai sekarang masih melekat dan hal lainnya yang mungkin sepele.
Aku bahkan masih gugup tidak keruan ketika Ryanu berjalan melewatiku. Pun sama
ketika aku berpapasan dengan Ryanu, rasa-rasanya aku ingin berjalan ke arah
lain demi tidak terlihat olehnya. Pokoknya aku ingin menghilang ketika bertemu Ryanu
agar dia tidak melihatku! Hih, sebenarnya apa yang aku pikirkan? Adakah dia
melihatku? Adakah dia memperhatikanku? Jangankan itu, mengetahui namaku saja
tidak. Pernah satu kelaspun tidak. Saling bertegur sapapun tidak. Berbicara
sekalipun tidak. Tidak. Tidak. Tidaaaak. Ah, aku benar-benar membuat repot diri
sendiri! Iya, kan?
Hidup ini memang penuh dengan kejutan. Akhir tahun 2014. Ada
satu hal yang membuatku kaget bukan main. Hal yang tidak kusangka-sangka. Sudah
hampir setengah tahun sejak Tara memberitahu perasaanku pada Ryanu waktu itu,
ternyata dia masih mengingatnya. Ryanu masih mengingatnya! Bak petir di siang
bolong, sambil mesem-mesem tiba-tiba Tara mendatangiku. Aku yakin kedua
pendengaranku ini masih bagus. Dia bilang bahwa Ryanu bertanya,
“Aku ingin tahu, siapa sebenarnya yang menyukaiku?”
Lalu Tara menjawab, “Aku tidak bisa memberitahumu.”
“Kenapa?”
“Karena, orang yang menyukaimu tidak ingin kau
mengetahuinya.”
Ya, benar. Aku pernah bilang pada Tara bahwa aku tidak
ingin Ryanu mengetahui keberadaanku dan perasaanku. Itulah aku. Aku mungkin
sedikit aneh. Dari kebanyakan orang kasmaran, setidaknya mereka mengharapkan
pertemuan dengan orang yang ditaksirnya. Benar, tidak? Yah, tapi, aku tidak
begitu. Aku malah kocar-kacir menjauh dari Ryanu. Aku seperti mabuk kepayang di
belakang Ryanu, tapi di depannya aku berlagak seperti orang yang tidak memiliki
perasaan apapun padanya. Aku terus berlagak demikian. Mungkin kalau ada yang menawariku
bermain film, aku akan jadi aktris profesional. Bah!
Setelah Tara bercerita begitu, aku merasakan...aku
ingin...aku akan....aku seperti ingin melompat-lompat layaknya seekor monyet
yang mendapat sekarung pisang manis. Aku
juga ingin tertawa dan berteriak keras-keras. Menar-nari. Terbang. Semua. Sepertinya
aku rela melakukan apapun. Namun, aku mendapati diriku terdiam dan wajahku
datar tanpa ekspresi apa-apa ketika sedetik kemudian aku teringat sesuatu. “Siapa
aku? Sadarlah!”
Aku ingin
tahu, siapa sebenarnya yang menyukaiku? Ah, kata-kata itu kenapa sampai membuatku girang nian?
Kenapa? Sebenarnya itu memang pertanyaan yang wajar. Hanya ingin tahu siapa
orang yang menyukai kita. Rasa penasaran yang mendorong untuk peduli. Dasar
perempuan, kadang diri sendiri yang membuat segalanya GR duluan. Seperti,
tatapan tidak sengaja, sesungging senyuman yang terlontar begitu saja padahal
entah kepada siapa sasaran senyum itu, bahkan berpapasan kilat saja dibilang
pertanda besar. Menggelitik sekali semua itu.
Ryanu adalah laki-laki pertama yang membuatku menyukainya
dengan cara yang berbeda. Sebelumnya aku pernah menyukai seseorang, tapi tidak
begini, tidak serumit ini, tidak selama ini. Menyukainya selama nyaris dua
tahun. Memerhatikannya diam-diam. Mendoakannya dalam sepi. Aku memang orang
yang tidak dikenalinya. Jadi, hanya itu yang bisa aku lakukan.
Aku tidak berniat memperkenalkan diriku sendiri padanya.
Mungkin sampai masa di SMA selesai, aku tidak akan memberitahu ini semua,
bahkan, siapa aku, sedikitpun ciri tidak akan aku tunjukkan padanya. Eh, apa
aku kedengarannya seperti pengagum rahasia? Secret
admirer? Hei, dengar, aku tidak bermaksud menjadi pengagum rahasianya. Aku
juga tidak ingin disebut demikian. Ini adalah cara.
Apa yang bisa dilakukan tentang cinta oleh anak
sekolahan? Bukan saatnya, kan? Yang ada hanya cinta monyet. Masih main-main. Kebanyakan
membuang-buang waktu. Ironis. Dan yang terpenting di atas segalanya adalah
Islam sudah mengatur bagaimana interaksi antara perempuan dan laki-laki. Khalwat... ikhtilat. Diam-diam mencintai,
sudah cukup. Jaga. Jangan diumbar. Itu saja. Kita sering dengar, semua akan indah pada waktunya, bukan? Serahkan
semua urusan kita. Allah SWT Maha Mengetahui.
***
Entah dari
mana energi untuk menulis surat ini datang. Aku sendiri tidak tahu. Maafkan
aku. Mungkin kau merasa aku adalah orang menyebalkan karena aku sampai tidak
menunjukkan siapa aku walau sedikit ciri. Aku tidak bermaksud untuk menjadi
pengagum rahasia. Dan aku tidak ingin disebut demikian. Aku harap kau tidak membenciku.
Ini adalah caraku memberitahumu. Aku tidak ingin berharap lebih.
Tapi, aku
punya alasan kenapa aku menulis surat ini. Dengar, sewaktu kau kembali menari
untuk membuka acara class meeting semester empat, aku merasa ada hal yang
sedikit berbeda darimu. Menurutku kau terlihat sedikit lemas, kurang
berkonsentrasi...tidak maksimal. Hei, ada apa?
Aku ingin kau
selalu bersemangat. Aku ingin menjadi pendukungmu. Sudah sepantasnya sebagai
manusia untuk saling tolong-menolong, bukan? Jadi, dengan surat ini aku harap
kau bersedia menari dengan lebih bersemangat lagi. Atau apapun yang telah kau
yakini sebagai kelebihanmu, aku ingin kau berhasil menggapainya. Jangan patah
semangat, ya? Aku harap kita sama-sama saling mendoakan untuk segala kebaikan.
Kebaikanmu. Kebaikanku.
Berjanjilah
padaku untuk tidak patah semangat, Ryanu. Selamat berjuang. Kau adalah orang
hebat yang akan selalu aku hargai. Terima kasih untuk segala-galanya.
Aku sudah menjelaskan semua perasaanku lewat surat itu. Paragraf-paragraf
di atas adalah bagian dari penutup. Ada alasan kenapa aku menulis surat itu,
kan? Bukan semata-mata menyampaikan perasaan ini, bukan pula menunjukkan betapa
pentingnya dia di sebagian masa SMA-ku. Bukan. Aku menulisnya lebih kepada
memberinya semangat, memberinya dukungan terhadap impian-impian dengan bakat
yang dimilikinya.
Aku memang tidak tahu bakatnya apa selain menari. Aku
juga tidak tahu minatnya apa. Studi yang dipilihnya kemudian apa, aku juga tidak
tahu. Aku tidak mencari tahu. Tapi, apapun kelebihan-kelebihan lain yang
dimilikinya, aku ingin dia selalu bersemangat. Aku ingin mendengarnya berhasil
meraih semua impiannya. Ryanu adalah orang hebat yang akan selalu aku hargai.
Tentang keputusan untuk menyerahkan surat itu atau tidak,
di tangannya atau masih di tanganku, aku memilih untuk tidak menyerahkannya.
Ya, aku memilih untuk menetapkan surat itu di tanganku saja. Aku memang pernah
berpikir untuk menyerahkan surat itu di hari perpisahan sekolah nanti, tapi,
kedengarannya memalukan. Membayangkannya saja membuat bulu kuduk merinding.
Semampuku, aku akan selalu memberinya semangat lewat doa
yang kupanjatkan pada-Nya. Kini setiap melihatnya, tidak ada lagi yang aku
harapkan, aku hanya membisikkan namanya untuk rongga-rongga di tulisanku. Kucukupkan
harapanku. Mengenal Ryanu, aku telah belajar banyak hal. Dialah inspirasi.
Masa-masa transisi ini aku harap segera berlalu, agar
tidak ada lagi bias-bias mata yang berkaca-kaca setiap mengingatnya. Aku
belajar untuk taat. Aku ingat nasihat yang mengatakan: Kalau sekarang kau
sedang memperbaiki diri, insya Allah jodohmu juga sedang memperbaiki diri dan
kalau sekarang kau sedang menjaga hati, insya Allah jodohmu juga sedang menjaga
hatinya.
Islam memang indah. Semua aspeknya adalah keindahan.
Jelas sekali mana yang halal dan mana yang haram. Ketika waktunya tiba, jodoh
pasti bertemu dengan cara yang halal. Pasti. Kita harus percaya, bukan? Jodoh
pasti bertamu. Iya, kan?



