Kamis, 04 Februari 2016

Unspoken



ASTAGFIRULLAHALADZIM...
          Kata istigfar harus terus aku gumamkan. Pasalnya, akhir-akhir ini aku tidak bisa mengendalikan emosi. Aku sering kesal, marah, dan tidak sabaran. Hal-hal yang membuat aku dongkol sebenarnya bukan suatu masalah besar, bahkan bukan pula sesuatu yang sebenarnya layak disebut masalah. Kau mengerti maksudku, kan?
          Contoh kasus yang membuat aku dongkol salah satunya saat aku mulai sering mengobrol dengan teman baru di kampus. Kami mengobrolkan sesuatu tentang hal yang berkaitan dengan kampus, seperti; mata kuliah, organisasi, tapi yang sering menjadi topik pembicaraan kami adalah tentang diri kami masing-masing. Aku membicarakan tentang diriku padanya. Dia juga menceritakan tentang dirinya padaku. Kau tahu, temanku itu bisa dibilang senang berbicara. Terbukti ia tidak pernah kehabisan cerita. Aku mendengarkan sepenuhnya.Tapi, lama kelamaan aku merasa ‘pegal’ mendengarkannya terus berbicara. Meski begitu, aku tidak tega memintanya menutup mulut di tengah pembicaraan. Aku akhirnya mencoba bersabar sampai titik darah penghabisan -_-
          Hari-hariku selalu dipenuhi dengan mengobrol ketika bertemu dengannya. Pernah ketika aku mendengar suaranya memanggilku, aku seperti langsung ingin menjauh dan menyelamatkan diri untuk tidak lagi mendengarkannya berbicara. Aku merasa.. mm.. bagaimana mengatakannya, ya? Aku ini merasa overload. Kalau diibaratkan sebuah komputer, penyimpanan datanya sudah nyaris penuh tapi terusssssss diisi dengan berbagai data sampai komputer itu tidak bisa lagi bekerja dengan baik, operasinya lamban, bahkan ‘nge-hang’.
Apa aku orang jahat? Apa kau berpikir kelakuanku ini bersifat egois? Kasarnya, aku seperti tidak peduli pada temanku itu, ya? Tapi, bukan itu maksudku. Akan aku beritahu, dia itu memang teman yang sangat baik, malah tak jarang aku mendapat banyak ilmu darinya. Tapi, hei, terkadang ada beberapa hal yang sebenarnya tidak perlu kau ceritakan kepada semua orang. Kau juga harus pintar membaca situasi, kapan seseorang bersedia mendengarkanmu dan kapan seseorang tidak sedang ingin mendengarkan apapun karena cerita hidupnya sendiri ia pendam. Jadi, bagaimana rasanya ketika kau sedang memiliki urusan pribadi yang belum terselesaikan, sementara orang lain menceritakan curhatan hidupnya begitu saja tanpa kau minta?
Ngomong-ngomong, menurutku, ada satu perasaan yang muncul tanpa kita inginkan. Misalnya, aku sedang bersedia mendengarkan temanku itu kapanpun ia ingin bercerita, tapi di tengah-tengah obrolan, tiba-tiba saja muncul perasaan capek, bosan, kesal hingga akhirnya... “cukup, aku tidak kuat mendengarkanmu lagi”. Pernah merasa begitu? Ada perasaan yang tiba-tiba muncul tanpa terlintas sedikitpun pikiran untuk memunculkan perasaan itu ke permukaan? Pernah? Aku jadi bertanya-tanya, apa perasaan itu muncul dari syaitan yang tidak kenal lelah membujuk manusia? Atau apa perasaan itu murni dari dirimu sendiri? Ah, tanda tanya yang bergelayutan bebas di benakku.
          Astagfirullahaladzim...
Kau tahu, aku ini tipikal orang yang begini; orang lain tidak perlu tahu banyak tentang apa yang sudah terjadi padaku di masa lampau. Jadi, ketika aku menceritakan tentang diriku, aku hanya menceritakan beberapa hal secara singkat, tidak terperinci. Itu saja. Berbeda dengan temanku itu. Ia akan sangat antusias ketika aku bertanya tentang hal-hal yang terjadi padanya, ia akan bercerita panjang lebaaar. Aku hanya ingin tahu. Bukan berarti bersedia menyiagakan terus kedua telingaku untuk mendengarkannya sampai ia selesai menceritakan semuaaaanya.
          Astagfirullahaladzim...
          Ya, mungkin aku memang egois. Mungkin hatiku perpenyakit. Mungkin aku mengizinkan syaitan membujukku untuk mudah kesal dan memandang sesuatu seperti sebuah masalah. Ya, mungkin aku benar-benar seperti sedang berpenyakit hatinya.
          Astagfirullahadzim...
          Ada kasus lain di mana aku kesal sendiri, bingung sendiri. Seolah rumit. Aku kewalahan ketika seseorang berbicara, padahal hanya dalam beberapa kata, aku menerjemahkannya ke beberapa maksud lain. Hadeuhhh.
Contoh tragisnya adalah ketika aku naik angkutan umum. Waktu itu, aku sedang dalam perjalanan awal hendak pulang ke kota asal. Sopir angkotnya bertanya,
          “Mau ke mana memangnya, Neng?”
          Otakku bekerja keras menerjemahkan pertanyaannya. Ada dua kemungkinan. Pertama, apa sopir itu bertanya ke mana tujuanku setelah selesai naik angkot? Ke terminal? Karena, aku bilang pada suprnya untuk menyambungkanku ke angkot lain, aku perlu naik angkot sekali lagi. Kedua, apa sopir itu bertanya ke mana tujuanku sebenarnya? Kota asalku? Hei, Kok, pertanyaannya seperti soal ujianmemerlukan waktu untuk menjawabnya L Ini seolah rumit, padahal apanya yang rumit? -________-Aneh, bukan? Aku tidak bisa memahami cara kerja otakku.
          Aku malah balik bertanya, “Mm.. ngg.. Ke mana apa?”
          Nada sang sopir meninggi, “Ya, Neng, mau ke mana?”
          Aku mengutuk diriku sendiri. Akhirnya aku menjawab, “Mau ke S****u**” tapi, buru-buru aku menambahkan, “Ke terminal.”
          Lihat? Aku membuat rumit yang tidak seharusnya rumit. Aku benar-benar membuat repot diri sendiri. Hhhhh...
          Masih banyak kasus lain yang ujung-ujungnya salah paham. Kini, sebelum membuat keputusan untuk membuka mulut, aku jadi berkali-kali lipat berpikir untuk mengartikan apa yang sebenarnya diucapkan, dibicarakan. Aku menjadi ragu ketika berbicara. Akhirnya, aku lebih banyak diam. Ketakutan mengatakan yang salah membuatku semakin mengunci mulut dan lebih banyak mendengarkan.
          Aku tidak mengerti.
          Bingung.
          Apa sebenarnya yang sedang terjadi padaku ini?
          Astagfirullahaladzim...
Tasikmalaya, 8 Januari 2016
Fitri Rahayu
Yang lagi kebingungan
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar