ASTAGFIRULLAHALADZIM...
Kata istigfar harus terus aku
gumamkan. Pasalnya, akhir-akhir ini aku tidak bisa mengendalikan emosi. Aku
sering kesal, marah, dan tidak sabaran. Hal-hal yang membuat aku dongkol
sebenarnya bukan suatu masalah besar, bahkan bukan pula sesuatu yang sebenarnya
layak disebut masalah. Kau mengerti maksudku, kan?
Contoh kasus yang membuat aku dongkol
salah satunya saat aku mulai sering mengobrol dengan teman baru di kampus. Kami
mengobrolkan sesuatu tentang hal yang berkaitan dengan kampus, seperti; mata
kuliah, organisasi, tapi yang sering menjadi topik pembicaraan kami adalah
tentang diri kami masing-masing. Aku membicarakan tentang diriku padanya. Dia
juga menceritakan tentang dirinya padaku. Kau tahu, temanku itu bisa dibilang
senang berbicara. Terbukti ia tidak pernah kehabisan cerita. Aku mendengarkan
sepenuhnya.Tapi, lama kelamaan aku merasa ‘pegal’ mendengarkannya terus
berbicara. Meski begitu, aku tidak tega memintanya menutup mulut di tengah
pembicaraan. Aku akhirnya mencoba bersabar sampai titik darah penghabisan -_-
Hari-hariku selalu dipenuhi dengan
mengobrol ketika bertemu dengannya. Pernah ketika aku mendengar suaranya
memanggilku, aku seperti langsung ingin menjauh dan menyelamatkan diri untuk
tidak lagi mendengarkannya berbicara. Aku merasa.. mm.. bagaimana
mengatakannya, ya? Aku ini merasa overload.
Kalau diibaratkan sebuah komputer, penyimpanan datanya sudah nyaris penuh
tapi terusssssss diisi dengan berbagai data sampai komputer itu tidak bisa lagi
bekerja dengan baik, operasinya lamban, bahkan ‘nge-hang’.
Apa aku orang jahat? Apa kau berpikir kelakuanku ini
bersifat egois? Kasarnya, aku seperti tidak peduli pada temanku itu, ya? Tapi,
bukan itu maksudku. Akan aku beritahu, dia itu memang teman yang sangat baik,
malah tak jarang aku mendapat banyak ilmu darinya. Tapi, hei, terkadang ada
beberapa hal yang sebenarnya tidak perlu kau ceritakan kepada semua orang. Kau
juga harus pintar membaca situasi, kapan seseorang bersedia mendengarkanmu dan
kapan seseorang tidak sedang ingin mendengarkan apapun karena cerita hidupnya
sendiri ia pendam. Jadi, bagaimana rasanya ketika kau sedang memiliki urusan
pribadi yang belum terselesaikan, sementara orang lain menceritakan curhatan
hidupnya begitu saja tanpa kau minta?
Ngomong-ngomong,
menurutku, ada satu perasaan yang muncul tanpa kita inginkan. Misalnya, aku
sedang bersedia mendengarkan temanku itu kapanpun ia ingin bercerita, tapi di
tengah-tengah obrolan, tiba-tiba saja muncul perasaan capek, bosan, kesal
hingga akhirnya... “cukup, aku tidak kuat mendengarkanmu lagi”. Pernah merasa
begitu? Ada perasaan yang tiba-tiba muncul tanpa terlintas sedikitpun pikiran
untuk memunculkan perasaan itu ke permukaan? Pernah? Aku jadi bertanya-tanya,
apa perasaan itu muncul dari syaitan yang tidak kenal lelah membujuk manusia? Atau
apa perasaan itu murni dari dirimu sendiri? Ah, tanda tanya yang bergelayutan
bebas di benakku.
Astagfirullahaladzim...
Kau tahu, aku ini tipikal orang yang begini; orang lain
tidak perlu tahu banyak tentang apa yang sudah terjadi padaku di masa lampau.
Jadi, ketika aku menceritakan tentang diriku, aku hanya menceritakan beberapa
hal secara singkat, tidak terperinci. Itu saja. Berbeda dengan temanku itu. Ia
akan sangat antusias ketika aku bertanya tentang hal-hal yang terjadi padanya,
ia akan bercerita panjang lebaaar. Aku hanya ingin tahu. Bukan berarti bersedia
menyiagakan terus kedua telingaku untuk mendengarkannya sampai ia selesai
menceritakan semuaaaanya.
Astagfirullahaladzim...
Ya, mungkin aku memang egois. Mungkin
hatiku perpenyakit. Mungkin aku mengizinkan syaitan membujukku untuk mudah
kesal dan memandang sesuatu seperti sebuah masalah. Ya, mungkin aku benar-benar
seperti sedang berpenyakit hatinya.
Astagfirullahadzim...
Ada kasus lain di mana aku kesal
sendiri, bingung sendiri. Seolah rumit. Aku kewalahan ketika seseorang
berbicara, padahal hanya dalam beberapa kata, aku menerjemahkannya ke beberapa
maksud lain. Hadeuhhh.
Contoh tragisnya adalah ketika aku naik angkutan umum.
Waktu itu, aku sedang dalam perjalanan awal hendak pulang ke kota asal. Sopir
angkotnya bertanya,
“Mau ke mana memangnya, Neng?”
Otakku bekerja keras menerjemahkan
pertanyaannya. Ada dua kemungkinan. Pertama, apa sopir itu bertanya ke mana
tujuanku setelah selesai naik angkot? Ke terminal? Karena, aku bilang pada
suprnya untuk menyambungkanku ke angkot lain, aku perlu naik angkot sekali lagi.
Kedua, apa sopir itu bertanya ke mana tujuanku sebenarnya? Kota asalku? Hei,
Kok, pertanyaannya seperti soal ujian—memerlukan
waktu untuk menjawabnya L Ini
seolah rumit, padahal apanya yang rumit? -________-Aneh, bukan? Aku tidak bisa
memahami cara kerja otakku.
Aku malah balik bertanya, “Mm.. ngg.. Ke
mana apa?”
Nada sang sopir meninggi, “Ya, Neng,
mau ke mana?”
Aku mengutuk diriku sendiri. Akhirnya
aku menjawab, “Mau ke S****u**” tapi, buru-buru aku menambahkan, “Ke terminal.”
Lihat? Aku membuat rumit yang tidak
seharusnya rumit. Aku benar-benar membuat repot diri sendiri. Hhhhh...
Masih banyak kasus lain yang ujung-ujungnya
salah paham. Kini, sebelum membuat keputusan untuk membuka mulut, aku jadi
berkali-kali lipat berpikir untuk mengartikan apa yang sebenarnya diucapkan,
dibicarakan. Aku menjadi ragu ketika berbicara. Akhirnya, aku lebih banyak diam.
Ketakutan mengatakan yang salah membuatku semakin mengunci mulut dan lebih
banyak mendengarkan.
Aku tidak mengerti.
Bingung.
Apa sebenarnya yang sedang terjadi
padaku ini?
Astagfirullahaladzim...
Tasikmalaya, 8 Januari
2016
Fitri Rahayu
Yang lagi kebingungan
0 komentar:
Posting Komentar