Rabu, 05 Juli 2017

Perfect Strangers

AKU menjejalkan ponsel ke dalam tas dengan jengkel. Bagaimana bisa ia baru akan datang satu jam lagi? (baca: satu jam) Kalau sudah tahu jalanan macet, seharusnya ia bergegas lebih awal! Menyebalkan. Ah, tidak tahu apa yang harus kulakukan selama 1 jam ke depan, aku memilih berkeliling ke sekitaran taman kota ini, mencoba peruntungan untuk melakukan sesuatu yang kiranya berharga daripada menunggu.
Aku mulai berjalan melewati bangku-bangku taman. Beberapa orang sedang mengobrol, tertawa, makan-makan, dan berfoto ria di sana. Aku terus berkeliling. Bangku-bangku taman ini lalu mengarah pada dua patung ikan mas besar. Patung itu berada tepat di tengah-tengah taman, dijadikan hiasan, karena ada air mancur di sana.
Aku terus menapaki tempat ini dengan perasaan yang masih saja jengkel. Haah... tidak ada yang menarik di sini. Bosan. Rasanya, ingin kubatalkan saja pertemuan kami. Biar ia tahu rasa karena sudah membuatku menunggu sedemikian lamanya. Aku harus tega kali ini. Jadi, tanpa pikir panjang, buru-buru kuambil ponsel. Ketika hendak menekan nomor, tiba-tiba terdengar suara,
“Cepat telfon saja! Dia ikut komunitas semacam sosial gitu, kan?”
“Iya. Tapi, jangan aku yang bicara. Kau saja, ya! Nih,”
“Tapi, kan, aku tidak kenal dengan Gibran. Bingung pula ngomongnya bagaimana. Kau saja! Kau kenal dia, kan?”
“Aduh, aku masih ada perasaan sama dia, kau tahu?”
“Hah? Apa hubungannya?”
“Ngomongku suka ngelantur nanti, gagal fokus, gugup, dan semacamnya. Sudah, ah, kau sajaaa!”
“Ih, ribet deh! Itu Rizal keburu kabur nanti. Ini kesempatan kita untuk menolongnya. Cepaaat telfon!”
“Tidak mau!”
“Kau ini!”
Aku nyengir mendengar percakapan itu. Suara siapa?
Aku mendekat.
Ternyata, suara itu milik perempuan yang sedang duduk berkumpul dengan banyak perempuan lain di bawah pohon rindang, tak jauh dari patung ikan. Jumlah mereka... sebelas orang. Di sana, ada banyak kertas kado, camilan yang isinya seperti sudah habis, laptop, buku tulis dan... Al-Qur’an? Penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan tadi, ditambah aku yang memang sedang tidak ada kerjaan, memilih berjalan ke arah bangku dekat mereka. Lalu, aku duduk sambil pura-pura memainkan ponsel. Jarak kami terpaut sekitar 5 meter.
Dua orang perempuan yang tadi berbicara kembali bersuara. Kali ini mulai recok.
“Kau saja!”
“Ohh, tidak, karena aku sudah menekan nomornya...” perempuan itu lalu menempelkan ponselnya ke telinga. “.. dan ya ampun, sudah terhubung! Jadi, kau saja, Assarah!”
Perempuan yang dipangil Assarah itu terperanjat, karena temannya baru saja melempar ponsel dengan ganas. “Hei!” Sedetik kemudian, ia terlihat geram. “Sudah kubilang, kalau bicara dengan Gibran, aku ini sering kali ngelantur, gagal fok... eh, halo?”
Aku memerhatikan Assarah yang seperti ingin melempar tinju ke arah temannya itu dengan mata melotot. Dan lucunya, ia terlihat gerogi ketika mulai berbicara di ponsel. Aku tidak bisa mendengar Assarah berbicara apa, karena ia berjalan menjauh. Fokusku kemudian beralih pada perempuan lain yang menyuruh teman-temannya merapikan duduk. Mereka sedang apa, sih?
“Baiklah, sambil menunggu Assarah, kita lanjutkan dulu pembahasan kita sebelum ke sesi tukar kado.”
Aku mengernyit.
“Oke. Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa sabar itu berasal dari kata 'shobaru' yang artinya menahan. Apa yang ditahan? Potensi buruk yang ada dalam diri. Jadi, ketika kita dihadapkan pada sesuatu yang membuat kesal, tidak sesuai keinginan, bahkan pada hal yang bisa memancing amarah kita, bersabarlah. Tahan untuk tidak mengeluarkan potensi-potensi buruk yang sejatinya ada dalam setiap diri manusia. Sebagai gantinya, keluarkanlah hal-hal positif untuk berusaha menyelesaikan masalah tersebut dengan cara-cara yang baik. Artinya, sabar itu bukan berarti diam-diam saja, tetapi berusaha mencari solusi di atas tekanan yang tinggi.”
         Aku anteng mendengar penjelasan yang sebenarnya tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan di taman seperti ini. Belajarkah? Pengajian? Ketika sedang asyik, seorang anak laki-lakiyang baru aku sadar ternyata sedari tadi ada di antara mereka, namun duduk memsisahkan diritiba-tiba bergerak-gerak seperti hendak berdiri dari duduknya. Sekilas, tidak ada yang aneh dengan anak itu. Namun, ketika aku menyipitkan mata, kedua tangan anak itu ada yang tidak beres. Maksudku, tangannya seperti ada bercak-cercak hitam. Kenapa? Penyakit kulit? Sementara, kakinya telanjang tak beralas. Aku juga baru sadar ternyata bajunya kotor.
            Tiba-tiba, Assarah kembali. Di tangannya, selain ponsel, ada sebungkus nasi.
“Rizal, mau ke mana? Ini Kakak belikan nasi untuk Rizal. Yuk, duduk lagi, ya.” kata Assarah ramah.
            Tanpa berbicara, anak yang dipanggil Rizal itu menurut. Ia langsung menerima keresek itu, membuka, lalu mulai memakannya.
Setelah Assarah meyakinkan bahwa Rizal menerima makanan pemberiannya, ia langsung nimbrung ke arah teman-temannya.
“Ahillah, kau menyebalkan! Aku beberapa kali salah bicara dan gagal fokus tahu! Jantungku juga berdegup lebih kencang seperti dikejar banteng!” seru Assarah sambil meninju main-main bahu temannya yang bernama Ahillah itu.
Ahillah dan semua temannya tertawa.
“Kau ini berlebihan. Memangnya pernah dikejar banteng?” timpal Ahillah.
“Gimana? Gibran bakal ke sini sekarang?” tanya perempuan lain.
Assarah mengangguk. “Insya Allah.”
“Cieeee.”
Assarah mendengus. “Kalau bukan karena Rizal, mana mau aku?!”
Kejadian di depanku ini semakin membuat penasaran, buatku betah nguping. Duh, dosa ini nguping orang lain, dosa!
Ponselku tiba-tiba berbunyi. Ada telfon. Sedetik sebelum mengangkat telfon, aku baru menyadari mungkin nada deringku ini volumenya terlalu kencang, karena semua objek yang sedang aku ‘mata-matai’ memutar kepalanya ke arahku. Oops. Aku berpura-pura, seolah tidak sedang ‘mengintai’ mereka. Jadi, kubalik badan, lalu,
“Halo? Ya... apa? Tidak... tidak apa-apa. Aku masih di sini. Kapan? Setengah jam lagi... terserahlah!”
        Tanpa benar-benar mendengarnya, aku langsung menutup telfon. “Dasar laki-laki tidak disiplin!”
Aku kembali membutar badan. Sedang apa mereka sekarang?
“Hei, mau makan bersama kami?”
“Huaa!!!” aku menjerit.
* * *
            Sebenarnya, aku malu karena sudah dengan tidak-tahu-sopan-santun menguping pembicaraan orang-orang di depanku ini. Ditambah mereka malah menawariku makan. Hadeuh, kalau ada sumur, pengin nyemplung -___- Setelah menerima telfon tadi, tiada angin tiada hujan, aku tiba-tiba didatangi Ahillah yang menawari makan, membuatku kaget sampai nyaris melempar ponsel sendiri. Setelahnya, kami berkenalan. Lalu, aku pun berterus terang tentang rasa penasaranku terhadap Rizal. Jadi, di sinilah aku sekarang, makan-makan bersama Assarah, Ahillah, Nurah, Amara, Ica, Alifia, Asri, Hadar, Dikara, Siska, dan Teh Dini.
Tiba-tiba, “Assalamu’alaykum.”
“Gibran.” bisik Amara.
Kami semua memutar kepala ke arah sumber suara. “Wa’alaykumsalam.” jawab kami serempak.
Aku geli melihat kelakuan Ahillah yang cekikikkan.
“Sebelumnya, maaf tidak bisa berlama-lama,” kata Gibran. “Apa Rizal bisa saya bawa sekarang? Untuk langkah pertama, Kepala Komunitas Pemuda Peduli Sosial akan menangani ini. Lalu, kami akan urus administrasi di pihak Kepolisian, setelahnya kami serahkan ke Dinas Sosial. Doakan saja semoga semuanya berjalan lancar.”  
* * *
           Rizal beranjak pergi dengan Gibran. Kami menatap punggungnya yang semakin lama semakin menjauh. Aku masih tidak paham.
            “Rizal itu siapa?”
            Mereka berpandangan, lalu menunjuk Assarah untuk menceritakan semuanya.
* * *
            Namanya Rizal, 13 tahun, asli Tasikmalaya (kisah ini nyata). Ia diusir bapaknya karena dirasa tidak becus menjaga adik perempuannya sewaktu mereka bertiga pergi ke suatu pasar. Adik perempuannya sempat hilang, namun akhirnya ditemukan. Seorang bapak mungkin hanya ingin menjaga anak-anaknya agar aman. Namun, mengetahui Rizal berbuat salah, ia ingin memberinya pelajaran. Selama satu hari, Rizal tidak diizinkan tinggal di rumah.
            Singkat cerita, entah kenapa Rizal bisa terdampar di Sukabumi. Tinggal di kota orang tanpa sanak saudara dan tanpa uang adalah hal mengerikan yang harus dialami seorang anak yang masih duduk di bangku SD. Ah, untuk mengisi perut mungilnya dari rasa lapar, ia membantu seorang sopir mencuci badan bus yang panjang. Bayangkan, seorang anak SD mencuci bus! Berkali-kali ia lakukan itu sampai kedua tangannya alergi, ia terkena penyakit kulit. Kapok dengan itu, Rizal memilih mengamen dengan banyak anak seusianya di pinggir jalan dengan alas telapak kaki yang sudah bersahabat dengan aspal.
        Tidak diketahui apa kedua orangtuanya mencari Rizal atau tidak. Tidak tahu Rizal pernah kembali lagi atau tidak, hanya tahu Rizal ada di kota ini dengan statusnya sebagai gelandangan. Ah, selama tinggal di Sukabumi, ia tidur di selasar masjid, dekat dengan alun-alun kota Cisaat.
            Satu hari setelah bertemu dengan Rizal, kamiShahibul Istiqommengumpulkan baju-baju bekas dan memberi jatah makan siang untuk diberikan pada Rizal. Ia pun menerimanya dengan tanpa banyak bicara, seperti biasa. Jadi, kami kesulitan mengetahui apa ia merasa senang atau tidak, karena entah kenapa dari pancaran matanya menunjukkan bahwa ia seperti ketakutan. Ah, kami tidak tahu.
            Kami sebenarnya ingin menggali informasi apa Rizal dipekerjakan oleh seseorang atau tidak. Karena, sependek sepengetahuan kami, orang-orang seperti Rizal ada yang ‘mengurus’, dan itu tidak gratis. Mereka harus membayar dengan kerja keras seharian. Mengamen.
Semua informasi ini kami dapat langsung dari Rizal, meski dengan penjelasan yang terpotong-potong, karena sejatinya Rizal mungin merasa takut dengan kami, orang asing.
* * *
                 Hatiku nyeri mendengar penjelasan Assarah. Kasihan Rizal. Aku kemudian bertanya-tanya,
          “Kalian seperti sering melibatkan diri untuk membantu orang-orang seperti mereka.” kataku sambil tersenyum. Kagum.
                 Assarah menggeleng. “Tidak. Bahkan ini yang pertama.”
                 Aku menghambur ke pelukkan Assarah. Terharu.
                Tiba-tiba, ponselku kembali berbunyi.
               “Halo? Kau menangis? Aku akan segera ke sana lima menit lagi. Jangan dulu menangissss.”

Catatan :
Kejadian ini terjadi sekitar bulan Mei di tahun 2015.. Saat-saat penghujung perjuangan kami di SMAN 1 Cisaat...  Saat mentoring terakhir kami dengan Teh Dini Putri Dinanti...  Saat-saat momen tukar kado di alun-alun Cisaat, Sukabumi.


Hanya satu pertanyaan kami sekarang,
“Apa kabar, Rizal?”


Sukabumi, 5 Juli 2017

Anafa Rhy