Sabtu, 15 April 2017

Fisikku Standar, Bahkan Mungkin Aku Ini Produk Gagal

Ini gambar enggak ada hubungannya sama isi cerita memang :') #Abaikan

Oke
, langsung saja, aku ingin menjelaskan tentang fenomena orang-orang di muka bumi yang rela lakukan apapun demi tampil cantik, tampan, pokoknya perfectKetebak tidak kira-kira pesan apa yang ingin aku sampaikan? Pasti kamu berpikir bahwa ujung-ujungnya “syukui apa yang ada”, “jangan operasi plastik”, atau ya semacam itulah. Hm benarkah begitu? 
         Dengar, aku beri tahu, ya, fisik itu penting lho! Bukankah penilaian pertama seseorang itu dinilai dari penampilannya? Ketika bertemu orang-orang yang belum kamu kenal, bukankah hati kecilmu berbisik bahkan memberi nilai tentang wajah yang kamu lihat? Akui saja he. Jadi, disadari atau tidak, “Don’t judge a book by its cover” adalah quote yang tidak seampuh yang orang lain atau bahkan temanmu sendiri katakan.
          Begini, aku mulai dengan kebiasaan-kebiasaan tentang penampilan, ya. Di waktu pagi misalnya, saat hendak ke luar rumah, kamu mematut-matut diri di depan cermin untuk beberapa saat. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Untuk perempuan, biasanya memoles wajah yang diakhiri senyum-senyum sendiri. Kalau laki-laki biasanya menata rambut berharap cool to be looked :D Setelah merasa oke, barulah keluar dan berbaur dengan penduduk bumi lain. Namun ketika sudah di luar rumah, kamu tersadar bahwa kamu bukan satu-satunya orang cakep. Banyak yang lebih good looking
          Akhirnya, terkadang kamu minder, meski mungkin juga kamu masih tetap PD. Bagi mereka yang mindernya akut, mungkin langsung cus mempercantik diri dengan cara yang dipakai tukang sulap. Ya, tukang sulap. Seperti memasukkan sapu tangan ke dalam topi yang tiba-tiba bisa keluar kelinci atau merpati. Begitupun rumah kecantikkan, masuk ruangan, lalu dibedah sana-sini sampai tiba-tiba—dor!!—cakep minta ampun. Membuat takjub orang lain. Begitulah.
          Nah, dari peristiwa di atas, ada hal yang mau aku sampaikan. Tapi, untuk itu kamu perlu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya berbarengan dengan mengucap istigfarAku tahu mahasiswa sepertimu tidak akan nekat operasi plasik, karena tidak ada uang huehehe #sok tahu. Tapi, aku mengajak kamu beristigfar karena mengucap kalimat itu tidak ada salahnya. Beristigfar saja J Bahkan lebih bagus kalau kamu niatkan ampunan untuk mereka yang nekat. He. (Sebenernya ini mau ngomong apa, sih?) Jadi, yang mau aku sampaikan ini juga tentang orang yang fisiknya paling mengerikanbukan kataku, tapi kata banyak orang yang melihatnya secara langsungdi muka bumi, sampai-sampai kehadirannya pun tidak diinginkan, lho! Orang tuanya juga tidak menyanggupi. Kamu penasaran? Yuk, langsung simak cerita berikut. Cerita yang mungkin bikin mikir Apa kamu masih lebih mengerikan dari orang ini atau tidak? He -___- #Ampun. Check it out aja, baca sampai selesai, ya! ^^

* * *
Namanya Julaibib.* Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki, tidak pula orang tuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah ia. Celakanya, bagi masyarakat Yastrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.
Julaibib yang tersisih, tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh, kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh, tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak.
Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai berkata tentang Julaibib, ‘Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah, jika ia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya’. Demikianlah Julaibib. Namun, jika Allah berkehendak menurunkan rahmat-Nya, tak satu makhluk pun bisa menghalangi. Julaibib berbinar menerima hidayah, dan ia selalu berada di saf paling depan dalam salat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Rasulullah, Sang Rahmat bagi semesta alam.
Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Rasul.
 “Ya Julaibib,” begitu lembut beliau memanggil. “tidakkah engkau menikah?”
“Siapa orangnya ya Rasulullah yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?” jawab Julaibib sambil tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya.
Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tidak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi, hari berikutnya ketika Rasul bertemu dengan Julaibib, beliau menanyakan hal yang sama.
“Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?”
Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut. Sampai kemudian, di ke tiga hari itulah Rasulullah menggamit lengan Julaibib dan dibawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar.
“Aku ingin,” kata Rasulullah pada si empunya rumah. “menikahkan putri kalian.”
“Betapa indahnya dan betapa berkahnya!” begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi calon menantunya.  “Ya Rasulullah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”
“Tetapi bukan untukku.” kata Rasulullah. “Kupinang putri kalian untuk Julaibib.”
“Julaibib?!” nyaris terpekik ayah sang gadis.
“Ya, untuk Julaibib.”
“Ya Rasulullah,” terdengar helaan napas berat. “saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini.”
“Dengan Julaibib?!” seru istrinya. “Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, dan tak berharta? Demi Allah, tidak! Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib. Padahal, kita telah menolak berbagai lamaran.”
Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang Putri dari balik tirai berkata anggun. Katanya,
“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tidak akan ia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.” Sang gadis shalihah lalu membaca Q.S. Al-Ahzab ayat 36 yang artinya, ‘Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat, sesat yang nyata’.
Kemudian, Sang Nabi tertunduk berdoa untuk gadis shalihah. ‘Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah’.
Benarlah doa Sang Nabi! Maka Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya. Kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalihah dan bertakwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak selalu bersahabat kepadanya. Adapun istrinya,—kata Anas ibn Malik—tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampauinya, hingga kelak para lelaki utama meminangnya. 
Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi, beliau akan mengajarkan sesuatu pada sahabatnya. Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran, “Apakah kalian kehilangan se-seorang?”
           “Tidak, ya Rasulullah.” Serempak sekali. Seperti-nya memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.
“Apakah kalian kehilangan seseorang?” tanya Rasul lagi. Kali ini wajahnya bersemu merah.
“Tidak, ya Rasulullah.” Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menegok ke kanan dan kiri.
Rasulullah menghela napasnya. “Tetapi, aku kehilangan Julaibib.”
Para sahabat tersadar.
“Carilah Julaibib!”
Maka ditemukanlah ia, Julaibib yang mulia. Ia terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh.
Sang Rasul dengan tangannya sendiri mengkafani Sang Syahid. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mensalatkannya secara pribadi. Ketika kuburannya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia. Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib. Saat itulah kalimat Sang Nabi untuk Julaibib akan membuat iri semua makhluk hingga hari berbangkit.
Kata Rasulullah, “Ya Allah, ia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”
* * *
            Well, bagaimana pendapatmu? Aku nangis bombay (enggak nanyawaktu baca kisah itu pertama kali. Serius. Menyentuh sekali. Kamu? Ambil saja sendiri hikmahnya, ya. Semoga dengan itu kamu bisa lebih mengerti bahwa penilaian manusia itu tidak akan habisnya, namun penilaian Allah di atas segalanya. Jadi, masih ngeluh? ^^

*Kisah Julaibib diambil dari :
Published in 2010





0 komentar:

Posting Komentar