![]() |
| Ini gambar enggak ada hubungannya sama isi cerita memang :') #Abaikan |
Oke, langsung saja, aku ingin menjelaskan tentang fenomena orang-orang di muka bumi yang rela lakukan apapun demi tampil cantik, tampan, pokoknya perfect! Ketebak tidak kira-kira pesan apa yang ingin aku sampaikan? Pasti kamu berpikir bahwa ujung-ujungnya “syukui apa yang ada”, “jangan operasi plastik”, atau ya semacam itulah. Hm benarkah begitu?
Dengar, aku beri tahu,
ya, fisik itu penting lho! Bukankah penilaian pertama seseorang itu dinilai dari penampilannya? Ketika bertemu orang-orang yang belum
kamu kenal, bukankah hati kecilmu berbisik bahkan memberi nilai tentang wajah
yang kamu lihat? Akui saja he. Jadi, disadari atau tidak, “Don’t judge a book
by its cover” adalah quote yang
tidak seampuh yang orang lain atau bahkan temanmu sendiri katakan.
Begini, aku mulai dengan kebiasaan-kebiasaan tentang
penampilan, ya. Di waktu pagi misalnya, saat hendak ke luar rumah, kamu mematut-matut
diri di depan cermin untuk beberapa saat. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Untuk
perempuan, biasanya memoles wajah yang diakhiri senyum-senyum sendiri. Kalau
laki-laki biasanya menata rambut berharap cool to be looked :D Setelah merasa oke, barulah keluar dan berbaur dengan penduduk
bumi lain. Namun ketika sudah di luar rumah, kamu tersadar bahwa kamu bukan
satu-satunya orang cakep. Banyak yang lebih good
looking.
Akhirnya, terkadang kamu minder, meski mungkin juga kamu masih
tetap PD. Bagi mereka yang mindernya akut, mungkin langsung cus mempercantik diri dengan cara yang
dipakai tukang sulap. Ya, tukang sulap. Seperti memasukkan sapu tangan ke dalam
topi yang tiba-tiba bisa keluar kelinci atau merpati. Begitupun rumah
kecantikkan, masuk ruangan, lalu dibedah sana-sini sampai tiba-tiba—dor!!—cakep
minta ampun. Membuat takjub orang lain. Begitulah.
Nah, dari peristiwa di atas, ada hal yang mau aku
sampaikan. Tapi, untuk itu kamu perlu menarik napas dalam-dalam, lalu
mengembuskannya berbarengan dengan mengucap istigfar—Aku tahu mahasiswa sepertimu tidak
akan nekat operasi plasik, karena tidak ada uang huehehe #sok tahu. Tapi, aku
mengajak kamu beristigfar karena mengucap kalimat itu tidak ada salahnya.
Beristigfar saja J Bahkan lebih bagus kalau kamu niatkan ampunan untuk mereka yang nekat. He. (Sebenernya ini mau ngomong apa, sih?) Jadi, yang mau aku sampaikan ini juga tentang orang yang fisiknya paling mengerikan—bukan kataku, tapi kata banyak
orang yang melihatnya secara langsung—di muka bumi, sampai-sampai kehadirannya pun tidak diinginkan, lho! Orang
tuanya juga tidak menyanggupi. Kamu penasaran? Yuk, langsung simak cerita berikut. Cerita yang mungkin bikin mikir Apa kamu
masih lebih mengerikan dari orang ini atau tidak? He -___- #Ampun. Check it out aja, baca sampai selesai, ya! ^^
* * *
Namanya Julaibib.* Sebutan ini sendiri mungkin sudah
menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan
rendahan. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan
dia sendiri yang menghendaki, tidak pula orang tuanya. Julaibib hadir ke dunia
tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang,
semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula,
termasuk suku apakah ia. Celakanya, bagi masyarakat Yastrib, tak bernasab dan
tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.
Julaibib yang tersisih, tampilan jasmani dan
kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya.
Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya
usang. Pakaiannya lusuh, kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk
berteduh, tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil.
Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan
telapak.
Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai berkata
tentang Julaibib, ‘Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi
Allah, jika ia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya’.
Demikianlah Julaibib. Namun, jika Allah berkehendak menurunkan rahmat-Nya, tak
satu makhluk pun bisa menghalangi. Julaibib berbinar menerima hidayah, dan ia
selalu berada di saf paling depan dalam salat maupun jihad. Meski hampir semua
orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Rasulullah,
Sang Rahmat bagi semesta alam.
Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu
hari ditegur oleh Rasul.
“Ya Julaibib,” begitu lembut
beliau memanggil. “tidakkah engkau menikah?”
“Siapa orangnya ya Rasulullah yang mau menikahkan
putrinya dengan diriku ini?” jawab Julaibib sambil tersenyum. Tak ada kesan
menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya.
Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tidak ada orang
tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi, hari berikutnya ketika Rasul bertemu
dengan Julaibib, beliau menanyakan hal yang sama.
“Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?”
Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu,
begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut. Sampai kemudian, di ke
tiga hari itulah Rasulullah menggamit lengan Julaibib dan dibawanya ke salah
satu rumah seorang pemimpin Anshar.
“Aku ingin,” kata Rasulullah pada si empunya rumah.
“menikahkan putri kalian.”
“Betapa indahnya dan betapa berkahnya!” begitu si wali
menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi calon menantunya. “Ya Rasulullah, ini sungguh akan menjadi
cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”
“Tetapi bukan untukku.” kata Rasulullah. “Kupinang putri
kalian untuk Julaibib.”
“Julaibib?!” nyaris terpekik ayah sang gadis.
“Ya, untuk Julaibib.”
“Ya Rasulullah,” terdengar helaan napas berat. “saya
harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini.”
“Dengan Julaibib?!” seru istrinya. “Bagaimana bisa?
Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, dan tak berharta? Demi Allah,
tidak! Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib. Padahal, kita
telah menolak berbagai lamaran.”
Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang Putri dari
balik tirai berkata anggun. Katanya,
“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi
Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka
tidak akan ia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.” Sang gadis shalihah lalu
membaca Q.S. Al-Ahzab ayat 36 yang artinya, ‘Dan tidaklah patut bagi lelaki
beriman dan perempuan beriman apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan
suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan
barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat,
sesat yang nyata’.
Kemudian, Sang Nabi tertunduk berdoa untuk gadis
shalihah. ‘Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban. Wa la taj’al ‘aisyahuma
kaddan kadda. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka dalam kelimpahan yang
penuh berkah. Janganlah kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah’.
Benarlah doa Sang Nabi! Maka Allah karuniakan jalan
keluar yang indah bagi semuanya. Kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan
terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalihah dan bertakwa, tapi bidadari
telah terlampau lama merindukannya. Julaibib lebih dihajatkan langit meski
tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap
tak selalu bersahabat kepadanya. Adapun istrinya,—kata Anas ibn Malik—tak
satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampauinya, hingga kelak para lelaki
utama meminangnya.
Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi,
beliau akan mengajarkan sesuatu pada sahabatnya. Maka Sang Nabi bertanya di akhir
pertempuran, “Apakah kalian kehilangan se-seorang?”
“Tidak,
ya Rasulullah.” Serempak sekali. Seperti-nya memang tak beda ada dan tiadanya
di kalangan mereka.
“Apakah kalian kehilangan seseorang?” tanya Rasul lagi.
Kali ini wajahnya bersemu merah.
“Tidak, ya Rasulullah.” Kali ini sebagian menjawab dengan
was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menegok ke kanan dan kiri.
Rasulullah menghela napasnya. “Tetapi, aku kehilangan
Julaibib.”
Para sahabat tersadar.
“Carilah Julaibib!”
Maka ditemukanlah ia, Julaibib yang mulia. Ia terbunuh
dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad
musuh yang telah ia bunuh.
Sang Rasul dengan tangannya sendiri mengkafani Sang
Syahid. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mensalatkannya secara pribadi.
Ketika kuburannya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib,
mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia. Bahkan pula beliau ikut
turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib. Saat itulah kalimat Sang Nabi
untuk Julaibib akan membuat iri semua makhluk hingga hari berbangkit.
Kata Rasulullah, “Ya Allah, ia adalah bagian dari diriku.
Dan aku adalah bagian dari dirinya.”
* * *
Well,
bagaimana pendapatmu? Aku nangis bombay (enggak nanya) waktu baca kisah
itu pertama kali. Serius. Menyentuh sekali. Kamu? Ambil saja sendiri hikmahnya, ya.
Semoga dengan itu kamu bisa lebih mengerti bahwa penilaian manusia itu tidak
akan habisnya, namun penilaian Allah di atas segalanya. Jadi, masih ngeluh? ^^
*Kisah Julaibib diambil dari :
![]() |
| Published in 2010 |


0 komentar:
Posting Komentar