Oleh : Anafa Rhy
(Dept. Keputrian DKM Al-Muhajirin UNSIL 2015)
Bismillah...
Berbicara mengenai organisasi dakwah,
pasti berbicara mengenai kader. Kader berbeda dengan pengurus. Kader adalah
mereka yang di samping memegang amanah, juga mengikuti alur kaderisasi untuk
menumbuhkan kepribadian yang hanif, mendukung islam dan dakwah, dan berbagai
tujuan lain. Sementara, pengurus adalah mereka yang menjalankan semua program
kerja hanya sampai tertunaikan amanahnya, selesai. Organisai dakwah tidak cukup
menjadikan pengurus sebagai penggeraknya. Dakwah butuh mereka yang diharapkan
memiliki pemahaman Islam yang baik, mengenali medan, dan telah teruji
komitmennya, sehingga bisa dikategorikan sebagai SDM siap pakai, dan itu kader.
Dalam alur kaderisasi, membina kader
tidak cukup hanya dengan ta’lim, tabligh, training
dan seminar. Membina kader haruslah melalui medan amal yang nyata,
menghadapkannya pada realitas. Pun pembinaannya bersifat intensif,
memperhatikan seluruh aspek kehidupannya untuk memenuhi standar-standar
kepribadian seorang pemimpin. Membina berarti mengajaknya berlomba, tapi tidak
meninggalkan, dan waktunya bisa panjang. Karenanya, kader perlu diberi asupan
iman dan ukhuwah.
Mengutip pernyataan seorang kader terbaik
2015 As-Salam, Polban, Hadar mengatakan,
Setiap
kader perlulah bergerak atas Ilmu. Ilmu yang harus didahulukan atas amal,
karena ilmu merupakan petunjuk dan pemberi arah amal yang akan dilakukan. Pun sebagai
seorang sahabat, kita bertanggung jawab untuk saling mengingatkan. Termasuk
mengingatkan saudara kita yang sangat menggebu-gebu dalam masalah dakwah tanpa
diimbangi tarbiyahnya (baca: pembinaan). Mencoba menjelasakan bagaimana
pentingnya ruhiyah seorang kader untuk terus di-upgrade. “Jangan sampai kita berkeliaran di kampus dalam
keadaan ruhiyah yang kosong.” Kalimat
dari salah seorang kakak tingkat di ROHIS SMA dulu yang selalu menampar di kala
amalan yaumi sudah dibawah garis
merah. Jika tarbiyahnya tidak berjalan, lantas apa yang menjadi bahan bakar
kita untuk bergerak?
Maka, sejalan dengan hal di atas,
dibutuhkan suatu program yang mampu mendukung berbagai kebutuhan organisasi
dakwah. Program tersebut adalah mentoring. Mengapa mentoring? Karena, seperti
yang sudah dijelaskan di atas, dikhawatirkan kader semangat bahkan
menggebu-gebu dalam dakwahnya, tetapi dari segi tarbiyah tidak terbina. Salah
satu perkara yang membuat dakwah mengalami kerapuhan adalah lemahnya tarbiyah islamiyah
di kalangan para kader. Ini merupakan bahaya besar. Oleh karena itulah, mengapa mentoring menjadi salah satu alternatif penting di sini.
Mentoring disebut juga agenda halaqah. Halaqah sendiri dikenal dalam berbagai istilah, ada yang
menyebutnya dengan usrah (keluarga)—karena metode halaqah
ini lebih bersifat kekeluargaan—ada pula yang
menyebutnya dengan liqa’, di beberapa kalangan, disebut juga mentoring, ta’lim,
pengajian kelompok, tarbiyah atau sebutan lainnya.
Halaqah
adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan atau
pengajaran Islam (tarbiyah Islamiyah). Istilah halaqah (lingkaran) biasanya digunakan untuk menggambarkan
sekelompok kecil muslim yang secara rutin mengkaji ajaran Islam. Jumlah satu
kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam
dengan manhaj (kurikulum) tertentu.
Biasanya kurikulum tersebut berasal dari murabbi
yang mendapatkannya dari jamaah (organisasi) yang menaungi halaqah tersebut.
Sejatinya, mentoring berisi 3 hal utama;
pembinaan, pembahasan Islam, dan ukhuwah. Selain itu, mentoring bukan hanya
sarana pemadatan ketiga hal di atas, namun juga sebagai sarana RUJAK—akronim. Biasanya, murabbi, pembina mentoring, berperan
untuk mengetahui keadaan mentinya, peserta
mentoring, melaui RUJAK;
Ruhiyah, Ukhuwah, Jasmani, Akademik, dan Keluarga. Artinya, murabbi dapat
mengetahui apa yang sedang terjadi pada mentinya setiap pekan. Jadi, jika pada
kontribusi dakwahnya nanti mungkin mengalami penurunan, tidak akan
berhusnudzon, dan hal ini bisa dengan cepat ditangani.
Jika sudah begini, di mana ilmu dan
ukhuwahnya terjaga, akan mempermudah keberlangsugnan roda kepengurusan dakwah.
Saling bahu-membahu pada program kerja yang ada di depan mata. Meminimalisir
ketimpangan yang mungkin ada. Hal ini harus dilakukan secara serius. Karena,
dakwah itu tidak main-main. Oleh karenanya, dibutuhkan amunisi agar tidak
pincang, salah satunya lewat agenda mentoring.
Pertolongan
Allah sangat dekat, jika kita dekat pula dengan-Nya. Setiap orang tempatnya
khilaf, maka sudah seharusnya kita saling mengingatkan satu sama lain. Bukan
ukhuwah namanya jika kita membiarkan saudara kita tetap dalam kesalahan. Tapi,
ukhuwah itu berani untuk saling mengingatkan walaupun pahit. Itu adalah bentuk
kasih sayang kita, bentuk peduli kita terhadap mereka, orang-orang yang telah
Allah pilih untuk menemanimu di jalan dakwah ini. Jangan biarkan mereka dalam
kesendiria. Iman dan ukhuwah! Itu yang senantiasa kita gaungkan. Maka sudah
seharusnya, bergerak bersama dalam naungan tarbiyah yang dilandasi ukhuwah
untuk senantiasa menegakan Dien Allah.
Wallahu ‘alam bishowab.
Referensi
GAMAIS.
2007. Risalah Dakwah Kampus. ITB:
Bandung
Hadar.
2016. Harokah dan Tarbawi. PSDM
Assalam Polban: Bandung
Shohibul Istiqom.


0 komentar:
Posting Komentar