AKU menjejalkan ponsel ke dalam tas
dengan jengkel. Bagaimana bisa ia baru akan datang satu jam lagi? (baca: satu
jam) Kalau sudah tahu jalanan macet, seharusnya ia bergegas lebih awal!
Menyebalkan. Ah, tidak tahu apa yang harus kulakukan selama 1 jam ke depan, aku
memilih berkeliling ke sekitaran taman kota ini, mencoba peruntungan untuk
melakukan sesuatu yang kiranya berharga daripada menunggu.
Aku mulai
berjalan melewati bangku-bangku taman. Beberapa orang sedang mengobrol,
tertawa, makan-makan, dan berfoto ria di sana. Aku terus berkeliling. Bangku-bangku
taman ini lalu mengarah pada dua patung ikan mas besar. Patung itu berada tepat
di tengah-tengah taman, dijadikan hiasan, karena ada air mancur di sana.
Aku terus
menapaki tempat ini dengan perasaan yang masih saja jengkel. Haah... tidak ada
yang menarik di sini. Bosan. Rasanya, ingin kubatalkan saja pertemuan kami. Biar
ia tahu rasa karena sudah membuatku menunggu sedemikian lamanya. Aku harus tega
kali ini. Jadi, tanpa pikir panjang, buru-buru kuambil ponsel. Ketika hendak
menekan nomor, tiba-tiba terdengar suara,
“Cepat telfon
saja! Dia ikut komunitas semacam sosial gitu, kan?”
“Iya. Tapi,
jangan aku yang bicara. Kau saja, ya! Nih,”
“Tapi, kan,
aku tidak kenal dengan Gibran. Bingung pula ngomongnya bagaimana. Kau saja! Kau
kenal dia, kan?”
“Aduh, aku
masih ada perasaan sama dia, kau tahu?”
“Hah? Apa
hubungannya?”
“Ngomongku
suka ngelantur nanti, gagal fokus, gugup, dan semacamnya. Sudah, ah, kau
sajaaa!”
“Ih, ribet
deh! Itu Rizal keburu kabur nanti. Ini kesempatan kita untuk menolongnya. Cepaaat
telfon!”
“Tidak mau!”
“Kau ini!”
Aku nyengir
mendengar percakapan itu. Suara siapa?
Aku mendekat.
Ternyata, suara
itu milik perempuan yang sedang duduk berkumpul dengan banyak perempuan lain di
bawah pohon rindang, tak jauh dari patung ikan. Jumlah mereka... sebelas orang. Di sana, ada banyak kertas kado, camilan yang isinya seperti sudah habis,
laptop, buku tulis dan... Al-Qur’an? Penasaran dengan apa yang sedang mereka
bicarakan tadi, ditambah aku yang memang sedang tidak ada kerjaan, memilih berjalan
ke arah bangku dekat mereka. Lalu, aku duduk sambil pura-pura memainkan ponsel.
Jarak kami terpaut sekitar 5 meter.
Dua orang
perempuan yang tadi berbicara kembali bersuara. Kali ini mulai recok.
“Kau saja!”
“Ohh, tidak,
karena aku sudah menekan nomornya...” perempuan itu lalu menempelkan ponselnya
ke telinga. “.. dan ya ampun, sudah terhubung! Jadi, kau saja, Assarah!”
Perempuan yang
dipangil Assarah itu terperanjat, karena temannya baru saja melempar ponsel
dengan ganas. “Hei!” Sedetik kemudian, ia terlihat geram. “Sudah kubilang,
kalau bicara dengan Gibran, aku ini sering kali ngelantur, gagal fok... eh, halo?”
Aku memerhatikan
Assarah yang seperti ingin melempar tinju ke arah temannya itu dengan mata melotot.
Dan lucunya, ia terlihat gerogi ketika mulai berbicara di ponsel. Aku tidak
bisa mendengar Assarah berbicara apa, karena ia berjalan menjauh. Fokusku
kemudian beralih pada perempuan lain yang menyuruh teman-temannya merapikan
duduk. Mereka sedang apa, sih?
“Baiklah,
sambil menunggu Assarah, kita lanjutkan dulu pembahasan kita sebelum ke sesi
tukar kado.”
Aku
mengernyit.
“Oke. Seperti
yang sudah dijelaskan, bahwa sabar itu berasal dari kata 'shobaru' yang artinya
menahan. Apa yang ditahan? Potensi buruk yang ada dalam diri. Jadi, ketika kita
dihadapkan pada sesuatu yang membuat kesal, tidak sesuai keinginan, bahkan pada
hal yang bisa memancing amarah kita, bersabarlah. Tahan untuk tidak mengeluarkan
potensi-potensi buruk yang sejatinya ada dalam setiap diri manusia. Sebagai
gantinya, keluarkanlah hal-hal positif untuk berusaha menyelesaikan masalah tersebut
dengan cara-cara yang baik. Artinya, sabar itu bukan berarti diam-diam saja, tetapi
berusaha mencari solusi di atas tekanan yang tinggi.”
Aku
anteng mendengar penjelasan yang sebenarnya tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan
di taman seperti ini. Belajarkah? Pengajian? Ketika sedang asyik, seorang anak
laki-laki—yang baru aku sadar ternyata sedari tadi ada di
antara mereka, namun duduk memsisahkan diri—tiba-tiba bergerak-gerak seperti hendak berdiri
dari duduknya. Sekilas, tidak ada yang aneh dengan anak itu. Namun, ketika aku
menyipitkan mata, kedua tangan anak itu ada yang tidak beres. Maksudku,
tangannya seperti ada bercak-cercak hitam. Kenapa? Penyakit kulit? Sementara,
kakinya telanjang tak beralas. Aku juga baru sadar ternyata bajunya kotor.
Tiba-tiba,
Assarah kembali. Di tangannya, selain ponsel, ada sebungkus nasi.
“Rizal, mau ke
mana? Ini Kakak belikan nasi untuk Rizal. Yuk, duduk lagi, ya.” kata Assarah
ramah.
Tanpa
berbicara, anak yang dipanggil Rizal itu menurut. Ia langsung menerima keresek
itu, membuka, lalu mulai memakannya.
Setelah Assarah meyakinkan bahwa Rizal
menerima makanan pemberiannya, ia langsung nimbrung ke arah teman-temannya.
“Ahillah, kau
menyebalkan! Aku beberapa kali salah bicara dan gagal fokus tahu! Jantungku
juga berdegup lebih kencang seperti dikejar banteng!” seru Assarah sambil
meninju main-main bahu temannya yang bernama Ahillah itu.
Ahillah dan
semua temannya tertawa.
“Kau ini
berlebihan. Memangnya pernah dikejar banteng?” timpal Ahillah.
“Gimana?
Gibran bakal ke sini sekarang?” tanya perempuan lain.
Assarah
mengangguk. “Insya Allah.”
“Cieeee.”
Assarah
mendengus. “Kalau bukan karena Rizal, mana mau aku?!”
Kejadian di
depanku ini semakin membuat penasaran, buatku betah nguping. Duh, dosa ini
nguping orang lain, dosa!
Ponselku tiba-tiba
berbunyi. Ada telfon. Sedetik sebelum mengangkat telfon, aku baru menyadari
mungkin nada deringku ini volumenya terlalu kencang, karena semua objek yang
sedang aku ‘mata-matai’ memutar kepalanya ke arahku. Oops. Aku berpura-pura,
seolah tidak sedang ‘mengintai’ mereka. Jadi, kubalik badan, lalu,
“Halo? Ya...
apa? Tidak... tidak apa-apa. Aku masih di sini. Kapan? Setengah jam lagi... terserahlah!”
Tanpa
benar-benar mendengarnya, aku langsung menutup telfon. “Dasar laki-laki tidak
disiplin!”
Aku kembali membutar
badan. Sedang apa mereka sekarang?
“Hei, mau
makan bersama kami?”
“Huaa!!!” aku
menjerit.
* * *
Sebenarnya,
aku malu karena sudah dengan tidak-tahu-sopan-santun menguping pembicaraan
orang-orang di depanku ini. Ditambah mereka malah menawariku makan. Hadeuh, kalau
ada sumur, pengin nyemplung -___- Setelah menerima telfon tadi, tiada angin
tiada hujan, aku tiba-tiba didatangi Ahillah yang menawari makan, membuatku
kaget sampai nyaris melempar ponsel sendiri. Setelahnya, kami berkenalan. Lalu,
aku pun berterus terang tentang rasa penasaranku terhadap Rizal. Jadi, di
sinilah aku sekarang, makan-makan bersama Assarah, Ahillah, Nurah, Amara, Ica,
Alifia, Asri, Hadar, Dikara, Siska, dan Teh Dini.
Tiba-tiba, “Assalamu’alaykum.”
“Gibran.” bisik
Amara.
Kami semua
memutar kepala ke arah sumber suara. “Wa’alaykumsalam.” jawab kami serempak.
Aku geli
melihat kelakuan Ahillah yang cekikikkan.
“Sebelumnya, maaf
tidak bisa berlama-lama,” kata Gibran. “Apa Rizal bisa saya bawa sekarang? Untuk
langkah pertama, Kepala Komunitas Pemuda Peduli Sosial akan menangani ini.
Lalu, kami akan urus administrasi di pihak Kepolisian, setelahnya kami serahkan
ke Dinas Sosial. Doakan saja semoga semuanya berjalan lancar.”
* * *
Rizal
beranjak pergi dengan Gibran. Kami menatap punggungnya yang semakin lama
semakin menjauh. Aku masih tidak paham.
“Rizal
itu siapa?”
Mereka
berpandangan, lalu menunjuk Assarah untuk menceritakan semuanya.
* * *
Namanya
Rizal, 13 tahun, asli Tasikmalaya (kisah ini nyata). Ia diusir bapaknya karena
dirasa tidak becus menjaga adik perempuannya sewaktu mereka bertiga pergi ke suatu
pasar. Adik perempuannya sempat hilang, namun akhirnya ditemukan. Seorang bapak
mungkin hanya ingin menjaga anak-anaknya agar aman. Namun, mengetahui Rizal
berbuat salah, ia ingin memberinya pelajaran. Selama satu hari, Rizal tidak
diizinkan tinggal di rumah.
Singkat
cerita, entah kenapa Rizal bisa terdampar di Sukabumi. Tinggal di kota orang
tanpa sanak saudara dan tanpa uang adalah hal mengerikan yang harus dialami
seorang anak yang masih duduk di bangku SD. Ah, untuk mengisi perut mungilnya
dari rasa lapar, ia membantu seorang sopir mencuci badan bus yang panjang.
Bayangkan, seorang anak SD mencuci bus! Berkali-kali ia lakukan itu sampai
kedua tangannya alergi, ia terkena penyakit kulit. Kapok dengan itu, Rizal
memilih mengamen dengan banyak anak seusianya di pinggir jalan dengan alas
telapak kaki yang sudah bersahabat dengan aspal.
Tidak
diketahui apa kedua orangtuanya mencari Rizal atau tidak. Tidak tahu Rizal
pernah kembali lagi atau tidak, hanya tahu Rizal ada di kota ini dengan
statusnya sebagai gelandangan. Ah, selama tinggal di Sukabumi, ia tidur di
selasar masjid, dekat dengan alun-alun kota Cisaat.
Satu
hari setelah bertemu dengan Rizal, kami—Shahibul Istiqom—mengumpulkan baju-baju bekas dan memberi jatah makan siang untuk diberikan
pada Rizal. Ia pun menerimanya dengan tanpa banyak bicara, seperti biasa. Jadi,
kami kesulitan mengetahui apa ia merasa senang atau tidak, karena entah kenapa
dari pancaran matanya menunjukkan bahwa ia seperti ketakutan. Ah, kami tidak
tahu.
Kami
sebenarnya ingin menggali informasi apa Rizal dipekerjakan oleh seseorang atau
tidak. Karena, sependek sepengetahuan kami, orang-orang seperti Rizal ada yang ‘mengurus’,
dan itu tidak gratis. Mereka harus membayar dengan kerja keras seharian.
Mengamen.
Semua
informasi ini kami dapat langsung dari Rizal, meski dengan penjelasan yang
terpotong-potong, karena sejatinya Rizal mungin merasa takut dengan kami, orang
asing.
* * *
Hatiku
nyeri mendengar penjelasan Assarah. Kasihan Rizal. Aku kemudian bertanya-tanya,
“Kalian
seperti sering melibatkan diri untuk membantu orang-orang seperti mereka.”
kataku sambil tersenyum. Kagum.
Assarah
menggeleng. “Tidak. Bahkan ini yang pertama.”
Aku
menghambur ke pelukkan Assarah. Terharu.
Tiba-tiba,
ponselku kembali berbunyi.
“Halo?
Kau menangis? Aku akan segera ke sana lima menit lagi. Jangan dulu menangissss.”
Catatan :
Kejadian ini
terjadi sekitar bulan Mei di tahun 2015.. Saat-saat penghujung perjuangan kami
di SMAN 1 Cisaat... Saat mentoring
terakhir kami dengan Teh Dini Putri Dinanti... Saat-saat momen tukar kado di alun-alun
Cisaat, Sukabumi.
Hanya satu
pertanyaan kami sekarang,
“Apa kabar, Rizal?”
Sukabumi, 5 Juli 2017
Anafa Rhy


0 komentar:
Posting Komentar