SATU-dua
tahun lalu. Setiap hari Minggu. Ada agenda intens yang semakin mempererat
hubungan kita. At-Tartil. Apa kau ingat?
Setiap pukul 9 pagi di hari itu, kita saling tunggu di
depan Kapolsek Cisaat dekat alun-alun.
![]() |
| Kapolsek Cisaat |
Setiap pukul 9 pagi di hari itu, kita saling tunggu di
depan Kapolsek Cisaat dekat alun-alun. Terkadang, kau menungguku terlalu lama
sampai-sampai membalas sapaanku saja seadanya. Wajahmu berubah pertanda bosan menungguku
setengah mati. Meski bukan sekali-dua kali aku terlambat, tapi kau tetap
menungguku di hari Minggu selanjutnya. Selalu begitu. Satu hal lagi yang kusuka
darimu, ekspresi bad mood yang
membuatku bersalah itu seketika lenyap saat kita mulai menaiki angkutan umum
berwarna hijau, angkutan yang membawa kita ke tempat belajar tahsin. Di dekat
Lapang Merdeka ke atas, dari apotek Kimia Farma. Apa kau ingat?
![]() |
| Lapang Merdeka SMI |
Di
ruangan, kita duduk melingkar bersama ukhti fillah lain yang juga ingin belajar
Al-Qur’an. Dua jam. Setelah selesai, biasanya kita membeli aneka jajanan
pedagang kaki lima. Cilok, cilung, seharga 500 sampai 2.000 rupiah :D Sehabis
itu, kita jalan kaki melewati Eiger dan Gereja sampai ke arah lampu merah untuk
menaiki angkutan umum berwarna hijau lagi. Oh, tapi sesekali kita tidak
langsung naik angkutan umum itu, melainkan akan terus berjalan sampai Masjid
Agung Sukabumi, salat dzuhur. Sebelum salat, kita makan jajanan yang kita beli sebentar
di selasarnya, selasar yang mengarah pada “Narnia” yang kutemukan. Apa kau
ingat?
Lain lagi jika langsung menaiki
angkutan umum hijau itu, kita biasanya salat dzuhur di Masjid Cisaat. Ada
kenangan tak terduga setiap berkunjung ke masjid itu, bukan? Sewaktu kita
mentoring bersama Teh Siti, seorang Bapak-Bapak dengan ekspresi wajah yang
menurutku curiga menghampiri kita sambil berkata,
“Hei,
ereun-ereun! Keur naon eta?! Bala deuih!”
Waktu itu, kita sedang membuka
Al-Qur’an sambil membahas sesuatu. Konyolnya, kita lupa membereskan tempat
makan. Keresek, sendok, berserakan.
Teh Siti yang menanggungjawabi kita
membalas, “Hapunteun sateuacanna, nuju
ngaji, Pak.”
“Eh,
tong di dieu. Pindah-pindah!”
Mengingat saat itu tengah menyeruak rumor perihal aliran
sesat, jadi kita mengambil kesimpulan bahwa Bapak itu mungkin hanya ingin
menjaga keamanan Masjid, keamanan umat. Ya, akhirnya kita berhusnudzon saja. Bukan begitu?
Satu tahun kemudian setelah waktu itu, di At-Tartil kita
naik kelas. Dua kali. Tahsin 1 dan 2. Lanjut Pra-Tahfidz. Di kelas itu, kita
belajar ayat-ayat Ghoribah. Seru, bukan? Istilah isymam dan imalah adalah hukum
bacaan yang paling kuingat hingga saat ini. Hukum bacaan yang lucu :D maksudku,
kita harus memonyongkan bibir, dan menampakkan dhommah tanpa bersuara. Ketika
dimuraja’ah bersama Ustadzah Lina, aku memata-matai bibir agar tahu bagaimana
ekspresi wajahmu ketika melakukannya. Haha.
Enam bulan kemudian. Di toserba Selamat Mall. Kenaikkan
kelas lagi. Begitu buku mutaba’ah dibagikan,
Ustadzah Lina memberitahu bahwa tidak seratus persen murid lulus Pra-Tahfidz.
Dua di antara yang tidak lulus itu... aku dan AMY. Berbeda denganmu. Selamat,
kau langsung lanjut kelas Tahfidz. Kita tidak ditakdirkan satu kelas lagi
ternyata :’) Aku dan AMY harus mengulang di Pra-Tahfidz.
Di masa-masa itu, kita mulai berbentur hambatan kecil
namun membawa dampak yang besar. Tempat belajar kita berlawanan arah. Terpisah.
Tempatmu juga menjauh, kan? Tapi, kita tetap belajar. Sendiri-sendiri.
Kapolsek. Angkutan umum hijau. Masjid Agung Sukabumi.
Kita tidak lagi saling bersama. Kuakui, semangatku menurun. Tapi, aku sadar
bahwa belum saatnya untuk berhenti istiqomah. Jadi, aku sebisa mungkin
mempertahankan semangat. Lagipula, ada AMY yang senasib. He.
Minggu-minggu awal semuanya tampak
berjalan normal. Aku dan AMY tak pernah absen kelas Pra-Tahfidz. Kau dengan
keempat shahiby lain juga rajin masuk kelas Tahfidz, bukan? Namun, hidup ini
memang penuh dengan kejutan. Februari 2015. Ibunda SN meninggal dunia (semoga
Allah menerima segala amalan almarhumah dan ditempatkan di sisi-Nya yang mulia.
Aamiin). Berita duka itu membawa kesedihan yang sangat mendalam bagi kita. Setelahnya, SN lebih banyak di rumah, dan kau
jadi jarang berempat di setiap hari Minggu.
Apa kau masih ingat semua itu?
Pertengahan tahun. Entah apa
penyebabnya, AMY mulai jarang masuk. Di kelas, aku hanya ditemani empat-lima
ukhti fillah yang tetap bertahan belajar ayat-ayat Ghoribah bersama Ustadzah
Lomrah. Tidak ada lagi mulut yang minat aku mata-matai -_- Semuanya tampak sangat
berbeda. Aku pikir AMY akan masuk di hari Minggu selanjutnya, tapi nyatanya
tidak. Ia tidak pernah masuk lagi.
Akhir tahun 2015. Alhamdulillah
kuselesaikan belajarku di Pra-Tahfidz. Seharusnya, aku lanjut kelas Tahfidz.
Tapi, mengingat tiba waktunya untuk melanjutkan studi, di Tasikmalaya, dengan
berat hati kuputuskan untuk belajar sampai Pra-Tahfidz dulu.
Kau.
Kelas Tahfidz sejatinya tidak akan pernah selesai, kan? Menghapal
Qur’an berarti belajar seumur hidup. Beberapa waktu kemudian, aku dengar kabar
kalau kau dengan keempat shahibiah kita tidak lagi lanjut di At-Tartil. Ada yang
kuliah di Bandung, dan bekerja. Kau sendiri tentu tahu bagaimana rasanya menjadi
tenaga pendidik. Butuh waktu ekstra. Tapi, aku yakin kau tidak akan memupuskan
hasil belajar tahsin untuk menghapal Qur’an.
Awal tahun 2016. Sungguh tidak sabar
untuk selalu bertemu denganmu ketika pulang ke kota kita. Seperti biasa, kita
akan bertemu di salah satu rumah. Menyenangkan. Saling bertukar kabar. Bercerita
ria. Membuat kenangan di foto. Lebih dari itu, betapa rindunya aku memandang
wajahmu, Sohiby. Bersalaman dan merengkuh bahumu. Aku selalu rindu. Makannya,
aku ngebet meminta waktumu yang
berharga untuk kita habiskan bersama.
Sekarang, bagaimana keadaanmu?
Keadaan kalian?
Ahillah.
UKT.
Hadar.
SN.
AMY.
ALF.
Apa kalian baik-baik saja? Aku harap baik-baik saja, ya :)
Cerita di atas adalah salah satu kenangan yang membekas sampai sekarang.
Sukabumi, 8 Juli 2016
Almaraf






