Senin, 26 Juni 2017

Urgensi Mentoring di Kalangan Kader Dakwah

Oleh : Anafa Rhy (Dept. Keputrian DKM Al-Muhajirin UNSIL 2015)
Bismillah...
Berbicara mengenai organisasi dakwah, pasti berbicara mengenai kader. Kader berbeda dengan pengurus. Kader adalah mereka yang di samping memegang amanah, juga mengikuti alur kaderisasi untuk menumbuhkan kepribadian yang hanif, mendukung islam dan dakwah, dan berbagai tujuan lain. Sementara, pengurus adalah mereka yang menjalankan semua program kerja hanya sampai tertunaikan amanahnya, selesai. Organisai dakwah tidak cukup menjadikan pengurus sebagai penggeraknya. Dakwah butuh mereka yang diharapkan memiliki pemahaman Islam yang baik, mengenali medan, dan telah teruji komitmennya, sehingga bisa dikategorikan sebagai SDM siap pakai, dan itu kader.
Dalam alur kaderisasi, membina kader tidak cukup hanya dengan ta’lim, tabligh, training dan seminar. Membina kader haruslah melalui medan amal yang nyata, menghadapkannya pada realitas. Pun pembinaannya bersifat intensif, memperhatikan seluruh aspek kehidupannya untuk memenuhi standar-standar kepribadian seorang pemimpin. Membina berarti mengajaknya berlomba, tapi tidak meninggalkan, dan waktunya bisa panjang. Karenanya, kader perlu diberi asupan iman dan ukhuwah.
Mengutip pernyataan seorang kader terbaik 2015 As-Salam, Polban, Hadar mengatakan,
Setiap kader perlulah bergerak atas Ilmu. Ilmu yang harus didahulukan atas amal, karena ilmu merupakan petunjuk dan pemberi arah amal yang akan dilakukan. Pun sebagai seorang sahabat, kita bertanggung jawab untuk saling mengingatkan. Termasuk mengingatkan saudara kita yang sangat menggebu-gebu dalam masalah dakwah tanpa diimbangi tarbiyahnya (baca: pembinaan). Mencoba menjelasakan bagaimana pentingnya ruhiyah seorang kader untuk terus di-upgrade. “Jangan sampai kita berkeliaran di kampus dalam keadaan ruhiyah yang kosong.” Kalimat dari salah seorang kakak tingkat di ROHIS SMA dulu yang selalu menampar di kala amalan yaumi sudah dibawah garis merah. Jika tarbiyahnya tidak berjalan, lantas apa yang menjadi bahan bakar kita untuk bergerak?

Maka, sejalan dengan hal di atas, dibutuhkan suatu program yang mampu mendukung berbagai kebutuhan organisasi dakwah. Program tersebut adalah mentoring. Mengapa mentoring? Karena, seperti yang sudah dijelaskan di atas, dikhawatirkan kader semangat bahkan menggebu-gebu dalam dakwahnya, tetapi dari segi tarbiyah tidak terbina. Salah satu perkara yang membuat dakwah mengalami kerapuhan adalah lemahnya tarbiyah islamiyah di kalangan para kader. Ini merupakan bahaya besar. Oleh karena itulah, mengapa mentoring menjadi salah satu alternatif penting di sini.


Mentoring disebut juga agenda halaqah. Halaqah sendiri dikenal dalam berbagai istilah, ada yang menyebutnya dengan usrah (keluarga)karena metode halaqah ini lebih bersifat kekeluargaanada pula yang menyebutnya dengan liqa’, di beberapa kalangan, disebut juga mentoring, ta’lim, pengajian kelompok, tarbiyah atau sebutan lainnya.      
Halaqah adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan atau pengajaran Islam (tarbiyah Islamiyah). Istilah halaqah (lingkaran) biasanya digunakan untuk menggambarkan sekelompok kecil muslim yang secara rutin mengkaji ajaran Islam. Jumlah satu kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan manhaj (kurikulum) tertentu. Biasanya kurikulum tersebut berasal dari murabbi yang mendapatkannya dari jamaah (organisasi) yang menaungi halaqah tersebut.
Sejatinya, mentoring berisi 3 hal utama; pembinaan, pembahasan Islam, dan ukhuwah. Selain itu, mentoring bukan hanya sarana pemadatan ketiga hal di atas, namun juga sebagai sarana RUJAKakronim. Biasanya, murabbi, pembina mentoring, berperan untuk mengetahui keadaan mentinya, peserta mentoring, melaui RUJAK; Ruhiyah, Ukhuwah, Jasmani, Akademik, dan Keluarga. Artinya, murabbi dapat mengetahui apa yang sedang terjadi pada mentinya setiap pekan. Jadi, jika pada kontribusi dakwahnya nanti mungkin mengalami penurunan, tidak akan berhusnudzon, dan hal ini bisa dengan cepat ditangani.
Jika sudah begini, di mana ilmu dan ukhuwahnya terjaga, akan mempermudah keberlangsugnan roda kepengurusan dakwah. Saling bahu-membahu pada program kerja yang ada di depan mata. Meminimalisir ketimpangan yang mungkin ada. Hal ini harus dilakukan secara serius. Karena, dakwah itu tidak main-main. Oleh karenanya, dibutuhkan amunisi agar tidak pincang, salah satunya lewat agenda mentoring.
Pertolongan Allah sangat dekat, jika kita dekat pula dengan-Nya. Setiap orang tempatnya khilaf, maka sudah seharusnya kita saling mengingatkan satu sama lain. Bukan ukhuwah namanya jika kita membiarkan saudara kita tetap dalam kesalahan. Tapi, ukhuwah itu berani untuk saling mengingatkan walaupun pahit. Itu adalah bentuk kasih sayang kita, bentuk peduli kita terhadap mereka, orang-orang yang telah Allah pilih untuk menemanimu di jalan dakwah ini. Jangan biarkan mereka dalam kesendiria. Iman dan ukhuwah! Itu yang senantiasa kita gaungkan. Maka sudah seharusnya, bergerak bersama dalam naungan tarbiyah yang dilandasi ukhuwah untuk senantiasa menegakan Dien Allah.
Wallahu ‘alam bishowab. 

Referensi
GAMAIS. 2007. Risalah Dakwah Kampus. ITB: Bandung
Hadar. 2016. Harokah dan Tarbawi. PSDM Assalam Polban: Bandung
            Shohibul Istiqom.