Minggu, 23 Oktober 2016

One of My Beloved Shohiby

Bismillah...

BAK petir di siang bolong, aku berkali-kali lipat dibuat kaget mendengar berita shohiby yang satu ini. Bukan badan menjadi gosong atau rambut-rambut berdiri akibat sengatan listrik tingkat tinggi itu, tapi aku malah ingin tertawa haru, menangis dan berteriak bahagia. Kau, dijemput cinta lebih awalkata ARDoleh seseorang yang ingin meminta separuh agamamu.

Tanggal tinggal dihitung jari. Aku bertanya-tanya, bagaimana setiap detik yang kau lalui menjelang hari itu? Aku harap agar Allah selalu mendengar doa-doamu dan mengijabahnya dengan penuh keberkahan.

Mengingat hari bersejarah itu, aku teringat pesan Rasulullah. “Sebaik-baik wanita adalah yang ringan maharnya.”

Mahar.

Shohiby, ingatkah bahwa kau pernah bilang sesuatu pada SI, pada kami, tentang itu?

Entah serius atau bercanda, tapi kau bilang,

“Jika menikah nanti, aku ingin maharku kain kafan.”

Sungguh kaget bukan main. Seram. Aku ingin menjitak kepalamu waktu itu. Serius. Bagaimana bisa kau meminta kain kafan sebagai mahar pernikahanmu? Tapi, dengan sederhana kau menjelaskan, dengan pelan-pelan kau membuat kami paham esensi mahar itu sendiri. (Bayangkan, kau berbicara tentang mahar sewaktu kita masih SMA. Haha) 

“Aku memilih kain kafan untuk kubawa meninggal nanti. Bukankah kita memang tidak akan membawa apa-apa kecuali yang tiga perkara itu? Aku ingin suamiku memberi sesuatu yang benar-benar berarti.” katamu.

Tertegun. Benar juga. Tapi, apakah aturan membolehkan itu? Aku belum tahu. Meskipun demikian, kau memang memandang sesuatu dengan sudut pandang yang tak bisa kutebak. Psikolog, kataku.

Ah, selama nyaris 4 tahun kita menjalin ukhuwah, aku semakin yakin pada kedewasaanmu, pada pikiran-pikiran cemerlangmu, semakin yakin bahwa kau memang sudah siap. Kau benar-benar seorang muslimah cerdas. Dan laki-laki sholeh yang menginginkan separuh agamamu itu memang sejantan Ali. Masya Allah. Semoga kelak lahir Siti Sarah Nurhalimah selanjutnya yang dipenuhi kelembutan (tapi tidak memukul dengan kekuatan Samson sepertimu). Haha.


Barakallah. Sampai bertemu di tanggal itu. Sampai bertemuuuu!!!



Tasikmalaya, 23 Oktober 2016

-RF- 


Selasa, 11 Oktober 2016

LOMBA MENULIS CERPEN BERTEMA BEBAS (GBBSI 2016 UNIVERSITAS SILIWANGI)

LOMBA MENULIS CERPEN
GBBSI 2016
UNIVERSITAS SILIWANGI
TEMA       : BEBAS
Deadline : 10 September – 08 November)
Salam literasi!
Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Siliwangi mengadakan event Lomba Menulis Cerpen bertema 'BEBAS' dalam meningkatkan semangat menulis. Kami memberi peluang jajaran penulis untuk berkreasi sebebas-bebasnya.
Yuks disimak ketentuannya ..
Ketentuan-Ketentuan:
1. Ketentuan Peserta
a. Peserta merupakan Warga Negara Indonesia yang tinggal di wilayah Jawa Barat.
b. Peserta merupakan pelajar tingkat SMA/SMK sederajat, Mahasiswa, dan UMUM (batas usia sampai 25 tahun) yang memiliki minat dalam penulisan cerpen.
c. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya (maksimal 2)
d. Peserta membayar Rp. 33.000,- per karya. Ke nomor rekening 00439-01-61-000847-5 Bank BTN a.n Rini Saraswati. Apabila memungkinkan pembayaran dapat dilakukan secara langsung di kesekretariatan HMJ DIKSATRASIA Universitas Siliwangi.
e. Peserta menyukai fans page Mazaya Publishing Househttps://mobile.facebook.com/mazayapublishinghouse/…
f. Peserta bergabung dengan grup Mazaya Publishing Househttps://mobile.facebook.com/groups/412547998925533?refid=18&ref=notif_textonly&__tn__=C
g. Repost info lomba ini di FB masing-masing dengan menandai (men-tag) minimal 19 orang teman, termasuk akun PJ Event. (Bagi yang punya blog, boleh repost di blognya)
2. Ketentuan Penulisan
a. Panjang cerpen 2-3 halaman, spasi 1.15, jenis huruf Times New Roman, Font 12, margin normal, justified, ukuran kertas A4, menggunakan format Microsoft word 2003/2007/2010.
b. Cerpen bertema BEBAS, tidak mengandung unsur sara, pornografi dan plagiasi.
c. Cerpen belum pernah diikutsertakan dalam lomba menulis atau dipublikasikan di media online/cetak.
d. Biografi penulis ditulis di bagian akhir naskah cerpen. Halaman biografi tidak dihitung sebagai halaman naskah cerpen. Isian biografi penulis yang wajib disertakan antara lain nama lengkap, no.hp/telp, e-mail, alamat lengkap, foto dan prestasi dalam bidang kepenulisan (jika ada).
3. Cara Pengiriman Naskah
a. Naskah cerpen harus sesuai dengan syarat penulisan seperti yang dituliskan diatas.
b. Kirim naskah ke gebyarbulanbahasa2016@gmail.com berupa lampiran, dengan subjek email (nama penulis – judul cerpen).
c. Periode pengiriman naskah adalah mulai tanggal 10 September 2016 hingga 08 November 2016 pukul 23:59.
4. Hadiah
a. Juara 1 mendapatkan Uang Pembinaan, Trofi, Buku Terbit dan Piagam Penghargaan.
b. Juara 2 mendapatkan Uang Pembinaan, Trofi, Buku Terbit dan Piagam Penghargaan.
c. Juara 3 mendapatkan Uang Pembinaan, Trofi, Buku Terbit dan Piagam Penghargaan.
d. 40 Naskah terpilih akan dibukukan oleh Penerbit Mazaya Publshing House.
e. Seluruh kontributor mendapatkan e-sertifikat dan mendapatkan Potongan Harga 10-15% untuk pembelian buku yang akan diterbitkan.
5. Lain-lain
a. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 18 November 2016 sebelum acara seminar GEBYAR BULAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA.
b. Juara 1, 2, dan 3 diharusakan untuk menghadiri acara seminar sekaligus penerimaan hadiah pada tanggal 20 November 2016.
Contact Person :
0852-2139-8589
idline : rinisaraswati09
Bukti pembayaran harap dikonfirmasi ke salah satu kontak diatas. =-)
PJ Rini Saraswati

Minggu, 25 September 2016

Tugas Mentoring

RANGKUMAN
"Peran Pemuda dalam Mengemban Risalah Islam"
Oleh                : Fitri Rahayu
Metode            : Internet research
            Dalam salah satu artikel yang dipaparkan oleh Ahmad Syaikhuddin Djaelani, seorang bloger yang sudah menerbitkan entri-entri islami, sub yang dibahas adalah potensi-potensi yang dimiliki seorang pemuda. Sebelum itu, perlu dibahas hal dasar terkait siapa pemuda itu.


Menurut ustadz Salim A. Fillah (2012), pemuda itu pemegang estafer masa depan, walaupun sejatinya pemuda itu tidak berpengalaman. Tapi, sisi positifnya adalah justru dengan tidak berpengalaman itulah mereka menjadi kreatif dan inovatif dalam menghadapi setiap tantangan. Tidak seperti orang tua yang telah banyak makan asam garam, yang ketika menghadapi satu permasalahan mereka cenderung mengatakan agar belajar dari pengalaman. Hal itu seringkali mengukung orang dalam cara-cara lama tanpa berfikir untuk membuat pembaharuan.
Setelah mengetahui definisi pemuda, Ahmad menjelaskan bahwa peranan pemuda dalam masyarakat dan bangsa atau dalam perubahan ummat setidaknya ada empat, yaitu:
1.      Pembaharu Moral Ummat (Tajdiidu ma'nawiyatul Ummah). Di pundak pemuda terbeban harapan pembaharuan moral umat. Mereka akan mampu mengembalikan umat kepada pemahaman Islam yang benar (Al-Baqarah: 249).
2.      Generasi Penerus (Ittihaamul Ijyaal). Pada setiap zaman, generasi penerus selalu terbagi menjadi dua:
Ø  Generasi penerus para nabi (Al-Baqarah:132-133), yaitu pemuda yang hidup dalam Islam dan berjuang demi Islam hingga syahid di ja1an Islam. Hal inilah yang diwasiatkan kepada Nabi Ibrahim, Yaqub, Ismail, Ishaq dan semua nabi Allah.
Ø  Generasi penerus tradisi/adat nenek moyang (Al-Baraqah:170). Pemuda yang tidak mau mengikuti wahyu Allah karena mereka berpegang teguh pada ajaran nenek moyang. Mereka enggan mengikuti sunah Rasul karena tata cara atau tradisi nenek moyang yang telah mendarah daging pada diri mereka.
3.      Generasi Pengganti (Istibdalul Ijyaal). Setiap pemuda yang soleh akan dapat merealisasikan kemaslahatan bagi umat sebab peran dan tujuan mereka diharapkan mampu membawa ke arah kemuliaan, kedamaian dan keadilan (12:14). Pemuda dikatakan sebagai pengganti apabila ia menggantikan cara-cara, adat atau tingkah laku para pendahulunya.
4.      Generasi / Komponen Pengubah (Anaasshirul Ijyaal). Komponen perubah yang baik (9:71). Pemuda yang beriman yang saling menolong, amar ma'ruf nahi munkar, mendirikan sholat menunaikan zakat, taat pada Allah dan Rasul-Nya.
Ke empat hal di atas adalah peran pemuda untuk mengemban risalah dakwah. Ahmad mengatakan bahwa pemuda-pemuda yang beriman yang merasa harus memikul amanah Allah sebagai khalifah di bumi-Nya harus mempersiapkan bekal. Bekal itu untuk mengarungi sumudra kehidupan, meniti kesuksesan dan kebahagian baik di dunia dan di akhirat.
Bilbiografi     
Astuti Kabul. 2011. Pemuda dan Peradaban dalam Sorotan Sirah. [Tersedia: https://ceritatanpakata.wordpress.com/2011/11/06/pemuda-dan-peradaban-dalam-sorotan-sirah/] 25 September 2016.

Djaelani Ahmad Syaikhuddin. 2008. Peranan Pemuda Mengemban Risalah. [Tersedia: http://ahmadsyaikhuddindjaelani.blogspot.co.id/2008/10/peranan-pemuda-mengemban-risalah.html]. 25 September 2016. 

Selasa, 13 September 2016

B I S U (1)


"KENAPA diam terus?” tanyamu membuyarkan lamunanku.
            Aku menoleh. Tersenyum.
            Kau mendengus. “Lagi-lagi hanya senyuman. Seolah dengan senyuman semuanya terselesaikan.” Kemudian, kedua matamu beralih menatap sekeliling. “Kau tahu, biasanya orang-orang akan bercerita panjang lebar ketika dipancing.” Lalu, kau kembali menatapku. “Tapi, anehnya kau tidak begitu.”
            Aku berdeham. “Dipancing? Memangnya aku ini ikan?” Aku tahu kau sedang berusaha menyuruhku berbicara lebih banyak. Aku tahu.
            “Kenapa kau begitu flat?”
            Kedua bola mataku membesar. Apa? Flat katanya?! “Sembarangan!”
            Kau tertawa. “Lihat? Diejek begitu juga kau tidak membela diri lebih keras.”
            Menyebalkan sekali! Mendengar kau bilang begitu, aku membuka mulut, tapi tidak ada satupun kata yang sudi keluar.   
            Tawamu mereda. Untuk beberapa saat, kita tidak bersuara. Aku larut ke dalam pikiranku sendiri. Sebenarnya, aku lebih bawel darimu, kau tahu? Hei, kalau ada Kontes Bawel nasional, mungkin aku juaranya -_- Apalagi kalau disinggung terkait hal yang kusuka, tempat yang aku impikan, cita-cita terbesar, mulutku bisa sampai berbusa untuk menceritakannya. Tapi, nyatanya aku tidak demikian. Seperti yang kau bilang, bahkan ketika diejek pun aku tidak membela diri lebih keras. Kenapa bisa begitu? Ah, aku sendiri tidak tahu. Tapi, aku punya alasan kenapa aku tidak berbicara lebih banyak.
            Tiba-tiba, kau kembali bersuara. “Kalau diam terus, bagaimana orang lain akan tahu?”
            Aku mengernyit. “Maksudnya?”
            Dengan ekspresi yang sulit kubaca, kau berkata, “Yaa... Maksudku, saat kau sedang susah misalnya, bagaimana orang lain bisa membantumu kalau kau tidak bicara?”
            Aku tidak langsung menjawab. Kuperhatikan teman-teman kita yang sedang duduk melingkar bersama. Mereka sibuk dengan buku dan laptop, jadi tidak terlalu mendengarkan kita. Setelah berpikir sesaat, aku mencoba mencari jawaban yang bisa membuatmu terkesan. Tapi, akhirnya aku hanya berkata,
            “Apa menurutmu diamku ini tingkat Raja, ya?”
            “Maksudmu?”
            Aku mendengus. “Kau tahu, terkadang orang lain hanya ingin tahu saja, tidak benar-benar peduli. Ketika lebih banyak diam, bukan berarti aku tidak peduli. Aku hanya sedang memperhatikan sesuatu yang lebih dari sekedar mendengarnya berbicara.”
            Kedua matamu menyipit. “Susuatu yang lebih? Aku tidak mengerti.”
            Ah, kau ini. Apa kau benar-benar tidak tahu atau bagaimana? “Dari mana aku harus mulai?” tanyaku pada diri sendiri. “Kau tahu, aku bisa stres seorang diri kalau tidak bisa menyampaikan apa yang ada di otak ini. Seperti sekarang. Ah, bisa kau langsung baca saja pikiranku? Oh, tidak mungkin. Pernah dengar quote ini? Orang yang diam cenderung sibuk pikirannya. Err.. sudahlah. Aku butuh seorang psikiater.”
            Entah perkataan mana yang membuatku terlihat seperti seorang pelawak, tapi ekspresi wajahmu berubah, dan kau tertawa puas. “Ternyata kau tidak sependiam yang aku pikirkan. Kau berpotensi bawel sewaktu-waktu, dan aku tidak keberatan dengan itu.”
            Aku mengernyit. “Ha?”
            Kau mengibaskan sebelah tangan. “Lanjutkan.”
            Aku berpikir sebentar, lalu, “Bisa kau beri saja aku pertanyaan? Kurasa itu akan memudahkanku.”
            “Pertanyaan apa, Trasya?”
            Aku menoleh ke sumber suara. Rachel. Wah ternyata ada yang mendengar percakapan kita. “Pertanyaan dari teman kita ini.” jawabku ringan.
            “Siapa?”
            Aku menatap Rachel tidak mengerti. “Zed.”
            Rachel memanjangkan lehernya. “Zed siapa?”
            “Zed teman diskusi kita, dia di si... ni.” Aku mengedarkan pandangan. Zed? Ke mana kau?
            Teman-teman yang sedang melingkar di samping Rachel ikut mengangkat kepala. “Kau bicara dengan siapa, Trasya? Aku tidak melihat siapa-siapa.” tanya salah satu dari mereka.
            Tidak melihat siapa-siapa ? Bukankah kita sedang bicara, Zed? Ke mana kau?
            Rachel mendekat. Ia menyentuh kedua bahuku. “Trasya, apa kau baik-baik saja?”
            Aku mulai panik. Sekujur tubuhku berkeringat.

To be continued
This entry was posted in

Sabtu, 06 Agustus 2016

S.I. : Tentang Kita

SATU-dua tahun lalu. Setiap hari Minggu. Ada agenda intens yang semakin mempererat hubungan kita. At-Tartil. Apa kau ingat?

Setiap pukul 9 pagi di hari itu, kita saling tunggu di depan Kapolsek Cisaat dekat alun-alun. 

Kapolsek Cisaat
Setiap pukul 9 pagi di hari itu, kita saling tunggu di depan Kapolsek Cisaat dekat alun-alun. Terkadang, kau menungguku terlalu lama sampai-sampai membalas sapaanku saja seadanya. Wajahmu berubah pertanda bosan menungguku setengah mati. Meski bukan sekali-dua kali aku terlambat, tapi kau tetap menungguku di hari Minggu selanjutnya. Selalu begitu. Satu hal lagi yang kusuka darimu, ekspresi bad mood yang membuatku bersalah itu seketika lenyap saat kita mulai menaiki angkutan umum berwarna hijau, angkutan yang membawa kita ke tempat belajar tahsin. Di dekat Lapang Merdeka ke atas, dari apotek Kimia Farma. Apa kau ingat?
Lapang Merdeka SMI
Di ruangan, kita duduk melingkar bersama ukhti fillah lain yang juga ingin belajar Al-Qur’an. Dua jam. Setelah selesai, biasanya kita membeli aneka jajanan pedagang kaki lima. Cilok, cilung, seharga 500 sampai 2.000 rupiah :D Sehabis itu, kita jalan kaki melewati Eiger dan Gereja sampai ke arah lampu merah untuk menaiki angkutan umum berwarna hijau lagi. Oh, tapi sesekali kita tidak langsung naik angkutan umum itu, melainkan akan terus berjalan sampai Masjid Agung Sukabumi, salat dzuhur. Sebelum salat, kita makan jajanan yang kita beli sebentar di selasarnya, selasar yang mengarah pada “Narnia” yang kutemukan. Apa kau ingat?
            Lain lagi jika langsung menaiki angkutan umum hijau itu, kita biasanya salat dzuhur di Masjid Cisaat. Ada kenangan tak terduga setiap berkunjung ke masjid itu, bukan? Sewaktu kita mentoring bersama Teh Siti, seorang Bapak-Bapak dengan ekspresi wajah yang menurutku curiga menghampiri kita sambil berkata,
            “Hei, ereun-ereun! Keur naon eta?! Bala deuih!”
            Waktu itu, kita sedang membuka Al-Qur’an sambil membahas sesuatu. Konyolnya, kita lupa membereskan tempat makan. Keresek, sendok, berserakan.
            Teh Siti yang menanggungjawabi kita membalas, “Hapunteun sateuacanna, nuju ngaji, Pak.”
            “Eh, tong di dieu. Pindah-pindah!”
Mengingat saat itu tengah menyeruak rumor perihal aliran sesat, jadi kita mengambil kesimpulan bahwa Bapak itu mungkin hanya ingin menjaga keamanan Masjid, keamanan umat. Ya, akhirnya kita berhusnudzon saja. Bukan begitu?
Satu tahun kemudian setelah waktu itu, di At-Tartil kita naik kelas. Dua kali. Tahsin 1 dan 2. Lanjut Pra-Tahfidz. Di kelas itu, kita belajar ayat-ayat Ghoribah. Seru, bukan? Istilah isymam dan imalah adalah hukum bacaan yang paling kuingat hingga saat ini. Hukum bacaan yang lucu :D maksudku, kita harus memonyongkan bibir, dan menampakkan dhommah tanpa bersuara. Ketika dimuraja’ah bersama Ustadzah Lina, aku memata-matai bibir agar tahu bagaimana ekspresi wajahmu ketika melakukannya. Haha.
Enam bulan kemudian. Di toserba Selamat Mall. Kenaikkan kelas lagi. Begitu buku mutaba’ah dibagikan, Ustadzah Lina memberitahu bahwa tidak seratus persen murid lulus Pra-Tahfidz. Dua di antara yang tidak lulus itu... aku dan AMY. Berbeda denganmu. Selamat, kau langsung lanjut kelas Tahfidz. Kita tidak ditakdirkan satu kelas lagi ternyata :’) Aku dan AMY harus mengulang di Pra-Tahfidz.
Di masa-masa itu, kita mulai berbentur hambatan kecil namun membawa dampak yang besar. Tempat belajar kita berlawanan arah. Terpisah. Tempatmu juga menjauh, kan? Tapi, kita tetap belajar. Sendiri-sendiri.
Kapolsek. Angkutan umum hijau. Masjid Agung Sukabumi. Kita tidak lagi saling bersama. Kuakui, semangatku menurun. Tapi, aku sadar bahwa belum saatnya untuk berhenti istiqomah. Jadi, aku sebisa mungkin mempertahankan semangat. Lagipula, ada AMY yang senasib. He.
            Minggu-minggu awal semuanya tampak berjalan normal. Aku dan AMY tak pernah absen kelas Pra-Tahfidz. Kau dengan keempat shahiby lain juga rajin masuk kelas Tahfidz, bukan? Namun, hidup ini memang penuh dengan kejutan. Februari 2015. Ibunda SN meninggal dunia (semoga Allah menerima segala amalan almarhumah dan ditempatkan di sisi-Nya yang mulia. Aamiin). Berita duka itu membawa kesedihan yang sangat mendalam bagi kita.  Setelahnya, SN lebih banyak di rumah, dan kau jadi jarang berempat di setiap hari Minggu.
            Apa kau masih ingat semua itu?
            Pertengahan tahun. Entah apa penyebabnya, AMY mulai jarang masuk. Di kelas, aku hanya ditemani empat-lima ukhti fillah yang tetap bertahan belajar ayat-ayat Ghoribah bersama Ustadzah Lomrah. Tidak ada lagi mulut yang minat aku mata-matai -_- Semuanya tampak sangat berbeda. Aku pikir AMY akan masuk di hari Minggu selanjutnya, tapi nyatanya tidak. Ia tidak pernah masuk lagi.
            Akhir tahun 2015. Alhamdulillah kuselesaikan belajarku di Pra-Tahfidz. Seharusnya, aku lanjut kelas Tahfidz. Tapi, mengingat tiba waktunya untuk melanjutkan studi, di Tasikmalaya, dengan berat hati kuputuskan untuk belajar sampai Pra-Tahfidz dulu.
            Kau.
Kelas Tahfidz sejatinya tidak akan pernah selesai, kan? Menghapal Qur’an berarti belajar seumur hidup. Beberapa waktu kemudian, aku dengar kabar kalau kau dengan keempat shahibiah kita tidak lagi lanjut di At-Tartil. Ada yang kuliah di Bandung, dan bekerja. Kau sendiri tentu tahu bagaimana rasanya menjadi tenaga pendidik. Butuh waktu ekstra. Tapi, aku yakin kau tidak akan memupuskan hasil belajar tahsin untuk menghapal Qur’an.
            Awal tahun 2016. Sungguh tidak sabar untuk selalu bertemu denganmu ketika pulang ke kota kita. Seperti biasa, kita akan bertemu di salah satu rumah. Menyenangkan. Saling bertukar kabar. Bercerita ria. Membuat kenangan di foto. Lebih dari itu, betapa rindunya aku memandang wajahmu, Sohiby. Bersalaman dan merengkuh bahumu. Aku selalu rindu. Makannya, aku ngebet meminta waktumu yang berharga untuk kita habiskan bersama.
            Sekarang, bagaimana keadaanmu?
            Keadaan kalian?
            Ahillah.
            UKT.
            Hadar.
            SN.
            AMY.
            ALF.
            Apa kalian baik-baik saja? Aku harap baik-baik saja, ya :) 


Cerita di atas adalah salah satu kenangan yang membekas sampai sekarang.  

Sukabumi, 8 Juli 2016
Almaraf
This entry was posted in

Jumat, 22 Juli 2016

Kau Dengan Merah-Hitam-Adidasmu



Tiba-tiba, kau duduk setengah meter di depanku. Lalu, seseorang bertanya,

“Kau lihat orang penting itu?”

Aku tahu ia bukan bertanya padamu. Tapi, anehnya kau langsung menanggapinya dan menjawab dengan pasti, menandakan bahwa kau tahu betul di mana orang penting itu berada. 

“Dia ada di dalam.” katamu. 

Beberapa saat setelahnya, orang penting itu datang. Melewatiku. Melewatimu. Selanjutnya, aku tidak tahu apa yg terjadi. Mengingat kau yg begitu antusias ttg orang penting itu tadi, kembali membuatku sadar bahwa kau masih menyimpan perhatian spt tahun lalu. 

Sukabumi, 2015 lalu

Kamis, 07 Juli 2016

Tuturan Selepas Asar

SEMBURAT-semburat jingga belum tampak jelas di batas cakrawala. Silir angin mengalun dan menerpa wajah seorang perempuan berkerudung yang sedang berdiri mematung di beranda di lantai teratas gedung sekolahnya. Angin-angin terus berembus, menyapu segala keletihan dari aktivitasnya sebagai seorang pelajar SMA. Langit sungguh teduh sore ini. Ah, ia jadi malas pulang, lagi pula masih banyak teman-temannya yang sedang berekstrakurikuler. Akhirnya, ia memutuskan untuk berdiam diri di beranda itu sampai beberapa saat lagi.

            Sepuluh menit berlalu, ia masih tetap berdiri di tempat itu dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Matanya menatap ke arah pesawahan dan tanaman jagung yang melenggok ke kanan dan ke kiri setiap angin berembus, sementara bibirnya melantunkan dzikir petang tanpa bersuara. Ia rindu keenam sahabatnya jika seperti ini. Karena, biasanya ia berada di beranda ini bersama mereka, untuk sekedar memandangi alam yang sungguh memanjakan mata. Betapa indahnya ciptaan Sang Khalik. Selain itu, di beranda ini juga mereka sering mengadakan syuro kepengurusan rohis yang sekiranya perlu dibicarakan secara rahasia. Yah, rasanya menyenangkan sekali. Namun, sekarang mereka tidak sedang di sini. Ada hal-hal yang harus mereka lakukan masing-masing katanya, mengingat satu bulan lagi ujian nasional akan berlangsung.
Memang perempuan berkerudung itu terlihat seperti melamunkan sesuatu dengan terus memandangi pesawahan dan tanaman jagung itu, namun sebenarnya ia tengah memikirkan masalahnya sendiri; akademik dan organisasi. Ia teringat semua motivasi tentang waktu, bahwa waktu adalah kehidupan. Jadi, bukan bermaksud menyia-nyiakan waktu dengan berdiam seperti itu, hanya saja sudah seminggu terakhir ini ia butuh waktu dan ruang untuk memikirkan segala tindakannya yang entah itu tepat atau tidak. Seperti bermuhasabah. Ia juga ingin beristirahat, benar-benar beristirahat, dan sepertinya ini adalah saat yang tepat.
Dzikir petangnya sudah sampai pada doa rabithah. Doa yang meminta keridhoan-Nya agar menyatukan hati yang dikumpulkan dalam jalan dakwah. Agar tali persaudaraan dengan keenam sahabatnya dieratkan. Agar mereka tetap didekatkan. Seperti langsung dikabulkan, tiba-tiba telinganya mendengar derap sepatu beradu dengan lantai berpasir. Ia berbalik, terkaget melihat siapa yang datang menghampirinya. Adam, teman sekelasnya.
            “Hei.” sapanya ringan. Ia kemudian langsung bertanya, “Sudah salat Asar?”
            Perempuan itu hanya mengangguk.
            Adam berjalan dan berhenti di samping perempuan itu. Ia mengerti, oleh karenanya ia menjaga jarak sekitar dua setengah meter dari perempuan yang sudah 3 tahun menjadi temannya itu.
            “Masih rapat?” tanya Adam lagi.
            Perempuan itu tahu ke mana arah pembicaraan Adam, ia tersenyum, kemudian, “Tidak ada rapat. Tapi, atmosfer sore ini bagus sekali, sayang untuk aku lewatkan.”
            Lima detik yang lalu perempuan itu mendengar Adam menanggapi perkataannya. Tapi setelah itu, ia tidak berkata apa-apa lagi. Perempuan itu sadar bahwa tidak baik berkhalwat. Jadi, ia berniat untuk pergi, karena terbukti tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua di tempat itu. Namun, ketika ia hendak membuka mulut untuk pamit, Adam sudah terlebih dahulu mengeluarkan suaranya dan berkata,
            “Ada yang ingin aku bicarakan padamu.”
            Perempuan itu mengernyit. Entah kenapa hatinya berkata untuk pergi sekarang juga.
            “Eh, maaf, Adam, mungkin lain kali. Aku harus pergi sekarang.”
Tanpa menunggu tanggapan Adam, perempuan itu buru-buru melangkahkan kaki yang menurutnya langkahannya lebih lebar daripada biasanya.
            “Kenapa kau selalu menghindar?” tukas Adam cepat.
            Baru beberapa langkah berjalan, perempuan itu berhenti. Apa katanya? Kenapa ia selalu menghindar? Ia lalu membalikkan badan dan menatap Adam yang tetap berdiri di tempatnya.
            “Bukan begitu, hanya saj...”
            “Maaf, sebentar saja,” Adam memotong perkataan perempuan itu dengan nada sedikit memohon.
Perempuan itu terlihat kesal. Ia tidak suka Adam memaksanya. “Baiklah. Tanya saja. Dan—tidak!—kau tetap di situ. Aku di sini.” Perempuan itu kembali berujar ketika Adam mengangkat kaki kanannya hendak melangkah, mendekat.
            “Baik.” Adam berdeham sambil menurunkan kakinya dan mundur sedikit. Ia terlihat gugup.
“Sebelumnya, aku minta maaf karena memaksamu mendengarkanku berbicara. Dan aku juga minta maaf jika ada kata-kataku nanti yang membuatmu berpikir untuk berhenti mendengarkanku atau membuatmu berpikir aku menyinggung perasaanmu. Tapi, percayalah tidak ada niatku sedikitpun untuk berbuat demikian terhadapmu.” katanya berterus terang.
            “Memangnya, apa yang ingin kau bicarakan? Kedengarannya sensitif sekali,” kata perempuan itu tidak sabar.
            Adam menatap lurus perempuan itu, ia menundukkan kepala sebentar, menatapnya lagi, kemudian kembali menundukkan kepala, menatapnya lagi, dan... berhenti. Tapi, Adam belum mulai berbicara, ia masih menatap perempuan itu sampai tiga detik berturut-turut. Yang ditatap terus menghindari tatapan Adam.
            “Aku bertemu seorang akhwat di sekolah ini,” Adam mulai menjelaskan. “waktu itu aku melihatnya berargumen ketika ada suatu presentasi. Ia mengutarakan pendapatnya dengan sangat hati-hati, bahwa ia tidak setuju dengan materi dari kelompok yang berpresentasi. Ia bilang pacaran sehat itu ada, tetapi setelah pernikahan, bukan pacaran yang dilakukan orang-orang sebelum menikah dengan komitmen saling percaya dan saling setia untuk menjalin sebuah ikatan yang dimuarakan karena cinta.
Ia juga menjelaskan ayat dari Al-Qur’an tentang hubungan antara perempuan dan laki-laki yang bukan mahram sebagaimana mestinya.” Samar-samar ekspresi wajah Adam berseri-seri mengingat seorang akhwat yang ia ceritakan.
“Dan secara garis besar, di akhir penjelasannya, ia mengajak orang-orang yang menyaksikan presentasi itu untuk kembali kepada aturan Islam yang di zaman sekarang sepertinya akhlak sedang krisis.”
            Perempuan itu mendengar aliran kata-kata Adam dengan jernih. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak keruan. Apa sebenarnya yang Adam bicarakan? Perempuan itu tidak berani menatap kedua mata Adam. Pandangannya hanya menatap pasir yang dijejaknya berterbangan rendah terbawa angin.
            “Bijaksana sekali,” ujar Adam lagi yang membuat perempuan itu semakin mengendalikan pikiran dan emosinya. Ia tahu siapa akhwat yang Adam maksud. Entah kenapa ia merasa matanya memanas. “hari-hari setelah itu, aku semakin dekat berteman dengannya—sering berdiskusi ringan, membicarakan hal-hal yang bermanfaat. Aku juga kagum, belum pernah aku melihatnya berbicara berdua dengan lawan jenis. Dari semua itu, aku mulai memercayai setiap ucapan-ucapannya dalam hal apapun. Kata-kata yang diucapkannya berhasil menuntunku, mengubah hidupku. Aku belajar banyak darinya. Aku percaya padanya. Aku percaya.”
            Adam berhenti sejenak. Ia melihat perempuan di hadapannya bergerak-gerak kecil tidak nyaman. “Akhwat itu bernama Risa. Risa Anindia Pasya.” ujar Adam pelan menyebut nama perempuan di hadapannya. “Sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu. Aku ingin bertanya, perasaan apa itu, Risa? Kenapa aku begitu percaya padamu?” Setelah bilang begitu, Adam merasa beban di pundaknya seolah meringan teratur.
            Risa menyeka matanya. Ternyata, ada air mata keluar bebas dari kedua sudut matanya. Ia mencoba menghapusnya. Kepalanya mendadak pusing. Jantungnya berdetak semakin kencang. Ini yang Risa takutkan, ia menangis karena takut. Ia mendengar Adam bertanya; “Perasaan apa itu, Risa? Kenapa aku begitu percaya padamu?” Risa berpikir Adam bodoh. Kenapa ia menanyakan perasaannya sendiri kepada orang lain? Risa mengumpulkan keberanian untuk mulai berbicara, menanggapi apa yang coba Adam utarakan.
            “Kau aneh,” ujar Risa dengan suara seperti tercekik. “kau tentu tahu perasaan yang kau rasakan itu.” Sambil berbicara, ia menatap Adam sekilas. Hanya sekilas. Sebelum melanjutkan perkataannya, Risa menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya berbarengan dengan menyingkirkan sisa-sisa detak jantung yang semakin tidak keruan. “Sudahlah. Jangan mempermainkan orang, Adam! Aku harus pergi sekarang,”
            Kedua bola mata Adam membesar. Seketika ekspresi wajahnya sulit dibaca, ia terlihat bingung, takut, khawatir... “Aku tidak mempermainkanmu, Risa. Sungguh.” sergah Adam dengan nada bicara yang lebih rendah dari Risa. “Aku pikir aku hanya harus mengatakan ini. Sebelum kita berpisah, aku pikir aku hanya harus mengatakan ini. Risa, asal kau tahu, hampir setiap malam aku mencari keputusan agar hati ini tidak gelisah. Dan percayalah, aku sudah berusaha menahan diriku, aku sudah berusaha untuk menahan perasaanku, tapi aku tetap tidak bisa menahan ini semua, Risa. Pun hampir setiap malam itu keputusanku berubah, karena aku tahu apa reaksimu ketika aku berbicara seperti ini. Aku sudah menduganya,”
            Sejurus kemudian, sesuatu seperti merasuki diri Adam, ia tiba-tiba berbalik memunggungi Risa. Ia menelan ludah. Lalu dengan hati yang gemetar hebat, ia akhirnya berkata, “Maafkan aku, Risa, aku mencintaimu.” Kepalanya kemudian tertunduk lemas. “Aku sangat mencintaimu.” ujarnya sekali lagi nyaris tidak terdengar.
            Tangis Risa pecah. Otaknya berpikir keras. Ia ingin pergi dari tempat itu sekarang juga. Ia takut. Benar-benar takut. Sebelum pergi, Risa memandangi punggung Adam dan berkata, “Kau teman yang sangat baik, Adam. Maaf, aku pergi sekarang.” ujar Risa membatasi sekelibat kata-kata yang terlintas di pikirannya. Sebelum benar-benar melangkahkahkan kaki, Risa berkata, “Dan semoga Allah mengampuni kita.”
            Kedua bahu Adam tegak seketika. Kata-kata Risa seperti diserap langit lalu dipantulkan berkali-kali ke gendang telinga Adam. Setelah beberapa saat, Adam berbalik, dan diujung pandangannya, kerudung Risa berkibar sekejap sebelum akhirnya menghilang ketika kedua mata Adam berkaca-kaca. Ada sesuatu yang hendak bergulir bebas di kedua pipinya.
Adam bergumam sendirian, “Ya Allah Ya Karim, aku sungguh mencintainya.”

Ah, untuk saat ini Adam mencukupkan harapannya. Sudahlah. Ia tahu semua peraturan ini.
            Dari awal Adam sudah tahu, menyatakan perasaan pada Risa sama saja dengan bunuh diri. Ia mengaku seharusnya bilang begitu untuk siap-siap menjadikannya pasangan di atas janji suci yang kelak diikrarkan. Bukan sebagai pacar. Memangnya, apa yang bisa dilakukan tentang cinta olehnya yang masih berstatus sebagai seorang anak SMA? Namun, di sisi lain perasaan yang dirasakannya setiap detik terus menikam hatinya. Adam hanyalah laki-laki biasa yang hatinya tengah diguncang hebat oleh cinta. Akhirnya, ia memilih mengatakannya. Ya, seperti yang terjadi barusan.
            Adam dan Risa sama-sama tahu, kelak ketika waktunya tiba, Allah akan memberikan cinta yang suci, bersih dan jernih. Risa memilih mematuhi perintah-Nya. Ia belajar untuk patuh. Ia memilih perasaannya disimpan rapat-tapat. Kelak ketika Allah mengizinkan, Risa akan menyambut dengan hati terbuka untuk cinta yang datang menghampirinya. Risa yakin, semua akan indah pada waktu-Nya. Waktu-Nya selalu sempurna.
Selesai
Terinspirasi dari kutipan Darwis Tere Liye;
Jika dua orang memang benar-benar saling menyukai satu sama lain, itu bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi hadiah yang hebat untuk orang-orang yang bersabar.

            Sementara kalau waktunya belum tiba, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik, bukan dengan melanggar banyak larangan, nilai-nilai agama. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia bersarnya, apakah rasa suka itu semakin besar atau semakin memudar.
This entry was posted in

Rabu, 06 Juli 2016

Bisakah Tidak Pergi?

Sukabumi, 7 Juli 2016

Demi Allah, bertemu dengan kalian adalah kenikmatan dari-Nya yang tak terkira
Kalian mengajarkanku apa itu hijrah, istiqomah, dan fii sabilillah
Aku mengharapkan kalian berada di sampingku selamanya
Namun, takdir. Itu yang sekarang sedang aku pahami.
Karena, berharap pada manusia bukanlah sesuatu yang benar
Tapi sungguh aku ingin mempertahankan kalian.
Setiap jiwa di antara kalian.





Selasa, 05 Juli 2016

Online

:)

Di sela gema takbir. Namamu. Meski kau tidak melakukan apa-apa, meski aku tidak tahu sudut bibirmu sedang tertarik ke atas atau ke bawah, kau tahu, kau membuatku tersenyum.


Kamis, 30 Juni 2016

Are You Searching For A Publisher?

Assalamu'alaikum :)
Beberapa minggu lalu, aku baca novel aliran islami gitu. Kayak biasa, sebelum baca isinya, aku identifikasi bagian blurbs, pengarang, dan keterangan novel; tahun terbit. Nggk sampai di situ, aku juga baca halaman paling akhir, (enggak tau kenapa lebih tertarik sama tetek-bengek pengarang dan penerbit daripada isinya he). Nah, di halaman paling akhir aku nemu ini, nih:

Taken foto pake kamera seadanya :') Kelihatan enggak? -_-
Setelah baca, aku merasa... aku ingin.. huaa.. rasanya kayak nemu jodoh! :') #abaikan.

So, tujuanku nulis postingan ini adalah untuk sekedar berbagi aja buat kamu yang suka nulis atau sedang menulis naskah yang beraliran fiksi-islami yang sasarannya remaja, penerbit yang di atas cocok tuh buat kamu! Mau tahu kelanjutan persyaratan naskahmu supaya diterima? Send e-mail aja ke penerbitnya :) Selamat mencoba.



Jumat, 17 Juni 2016

(Tidak) Sendirian

Sudah tidak ada rasanya menghabiskan waktu hanya seorang diri. Tidak dengan Mama, Bapak, teman. Melainkan aku, hanya aku. Ke mana-mana sendiri, mengambil keputusan sendiri, dunia ini menjadi terlalu luas ketika kuarungi sendirian.

Sebenarnya, bukan berarti aku ini seperti seseorang yang diam dipojokkan kelas, atau seperti seseorang yang terus menunduk dengan wajah penuh belas kasihan, bukan. Bukan begituuuuu. Aku juga bukan seseorang yang tidak memiliki teman, atau seperti seseorang yang mengurung diri di kamar dan baru akan keluar esok paginya, bukan. -_- Please, deh. Maksudku adalah... mm, bagaimana mengatakannya, ya? Pokoknya aku merasa sendiri di kala ramai, tapi bukan berarti aku merasa ramai ketika sendiriitu sih lebih cocok disebut orang gila! HeheKau tahu maksudku, kan? Begitulah kira-kira.

Dulu, ada Mama dan Bapak yang membantu mengatasi permasalahan-permasalahanku yang super duper sepele. Sekarang? Mereka jauh dari jangkauan. Adapun media elektronik yang menghubungkanku dengan mereka, tidak selamanya seperti dulu. Rasanya berbeda. Lagipula, aku harus belajar bijak memutuskan suatu perkara.
Teman? Banyak! Tidak usah khawatir! J Tapi masalahnya adalah kami sibuk ketika bertemu, tugas-tugas dan seabreg persoalan yang isinya kepentingan bersama, lebih layak untuk diselesaikan ketimbang urusan pribadi.  
Kau tahu, sebagai seorang remaja normal, tentu aku merasa ada yang janggal. Ingin kucurahkan semua kisah yang kualami tentang jalanan yang kulewati, aroma yang kuhirup, dan hal sepele lainnyaah, sesepelenya kisahku, tetap membuat hati gusar setengah mati.  

Menurut kepribadian, aku ini masuk ke tipe melankolis. Sesuailah dengan karakterku yang mudah baper. Menyebalkan -_-

Bagaimana rasanya? Orang melankolis sepertiku mengatasi hal-hal yang kusebutkan di atas? Bagaimana?

Maka, inilah yang kulakukan; menulis. Setidaknya aktivitas ini membuat perasaan meringan. Setelahnya, kuyakinkan diri sendiri bahwa sebenarnya aku tidak sendiri. Sejatinya ada Dzat yang selalu menemaniku, bukan? Harus terus kusadarkan diri bahwa aku punya Allah swt.

Mungkin kau juga, sedang merasa sendiri?
Aku harap keluhan yang kurasakan tidak menimpa dirimu J
Tasikmalaya, 17 Juni 2016
Fitri Rahayu



This entry was posted in

Senin, 30 Mei 2016

Deg-degan di Rumah Allah

AH, kacau balau. Moodku nggak lagi sama seperti saat aku berangkat ngampus. Jadi ceritanya... aku habis ujian praktik Pronunciation Practicedengan dosen yang selalu bikin atmosfer jadi tegang dan beku sebeku es di Kutub sanaaamoodku yang awalnya santai, tenang, optimis, menjadi rontok seketika waktu aku hanya satu-satunya orang yang dikoreksi karena pelafalan bahasa Inggrisku yang amburadul di kelompokkudalam satu kelas itu ujiannya dibagi ke dalam beberapa kelompok, satu kelompok terdiri dari lima orang. Nah, hanya aku seorang yang dikoreksi, aku malu pada diriku sendiri L keempat temanku yang lain mulusyou were great, Guys!

          Dengan langkah gontai, wajah kusut, dan pikiran yang ke sana ke mari,  aku berjalan menuju masjid, menunggu seorang teman yang satu setengah jam lagi baru akan datang. Karena bingung harus berbuat apa selama itu, aku melampiaskan mood yang rusak ke kertas. Aku iseng menulis begini;


Nggk jelas ya? -_- Intinya, yang aku tulis itu lebih mengarah pada apa yang harus aku perbaiki, seperti bermuhasabah, introspeksi. Setelah menulis, aku melirik rak buku yang terdapat di salah satu sisi masjidrak itu seolah melambai dan berkata, “baca aku... kemarilah”baiklah, aku menurut, lalu mulai mencari buku dengan harap ada buku jitu yang bisa mengobati moodku. Tapi, akhirnya aku memilih buku ini;


Hoho.. What do you think? Mm.. it’s so interesting. Aku ambil buku itu. Ah, pas sekali karena, aku sedang dapat tugas mencari tetek-bengek tentang Syi’ah dari Murrabiyahku yang akan dibahas beberapa hari lagi di mentoring. Cocok. Aku lalu mencari posisi W, PW, you know, posisi wenak. Bah! Aku penasaran sekali dengan yang namanya Syi’ah! Seolah tidak ingin ada yang terlewat dari setiap kata di buku itu, aku rela membaca kata pengantar, sambutan dan pendahuluan. Setelahnya, baru aku baca isi bukunya. Bahasan awal ialah hal mendasar, sejarah Syi’ah.
          Akan aku sampaikan sejarahnya, bunyinya begini; ada yang menganggap Syi’ah lahir pada masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Pada masa itu, terjadi pemberontakkan terhadap khalifah Utsman bin Affan yang berakhir dengan kesyahidan Utsman dan ada tuntutan umat agar Ali bin Abi Thalib bersedia dibaiat sebagai khalifah. Tampaknya, pendapat yang paling popular adalah bahwa Syi’ah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihak pasukan khalifah Ali dengan pihak Mu’awiyah bin Abu Sufyan di Siffin yang lazim disebut sebagai peristiwa at-Takhim (arbitrasi). Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan Ali menentang kepemimpinannya dan keluar dari pasukan Ali. Mereka yang keluar disebut khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali). Sebagian besar orang yang tetap setia kepada khalifah disebut Syi’ah Ali (Pengikut Ali).
          Sesekali aku merenung begitu membaca kalimat-kalimat di atas. Karena aku nggak paham, maka aku berkali-kali mengulang membacanya. Setelah dirasa cukup, aku baru membaca kalimat selanjutnya. Oke.. lanjut!
            Istilah Syi’ah pada era kekhalifahan Ali hanya bermakna pembelaan dan dukungan politik. Syi’ah Ali yang muncul pertama kali pada era kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, bisa disebut sebagai pengikut setia khalifah yang sah pada saat itu melawan pihak Mu’awiyah, dan hanya bersifat kultural, bukan bercorak aqidah seperti yang dikenal pada masa sesudahnya hingga sekarang. Sebab, kelompok setia Syi’ah Ali yang terdiri dari sebagian sahabat Rasulullah dan sebagian besar tabi’in pada saat itu tidak ada yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan setelah Rasul dari pada Abu Bakr dan Umar bin Al Khattab. Bahkan Ali bin Abi Thalib sendiri, saat menjadi khalifah, menegaskan dari atas mimbar masjid Kufah ketika berkhutbah bahwa, “Sebaik-baik umat Islam setelah Nabi Muhammad adalah Abu Bakr dan Umar.” (lihat Shahih al Bukhari juz 5/7, Sunan Abu Dawud juz 4/282, Sunan Ibnu Majah, juz 1/39).
          Menurut Murtadha Mutahhariulama Syi’ah“Ali bin Abi Thalib adalah sahabat nabi seperti juga Abu Bakr, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan yang lainnya. Tetapi Ali lebih berhak, lebih terdidik, lebih shaleh dan lebih berkemampuan ketimbang para sahabat lainnya, dan bahwa Nabi sudah merencanakannya sebagai pengganti beliau. Kaum Syi’ah meyakini Ali dan keturunannya sebagai imam yang berhak atas kepemimpinan politis dan otoritas keagamaan.” Dengan kata lain, mereka meyakini bahwa yang berhak atas otoritas spiritual dan politis dalam komunitas Islam pasca nabi adalah Ali beserta keturunannya.
          Sedangkan menurut Thabathabai, Syi’ah muncul karena kritik dan protes terhadap dua masalah besar dalam Islam, yaitu berkenaan dengan pemerintah Islam dan kewenangan dalam pengetahuan keagamaan yang menurut Syi’ah menjadi hak istimewa ahl al-bait.
          Otakku berpikir keras mencerna setiap kalimat-kalimat itu. Tak jarang aku bergumam, “Maksudnya?”, “Oh”, “Hah?”, “Ya Allah”, “Eh.. Gak ngerti -_-”.
          Selanjutnya, buku itu berbicara... Kendatipun persoalan imamah menjadi pokok keimanan Syi’ah, tetapi ternyata telah terjadi perbedaan dan perselisihan di kalangan firqah-firqah Syi’ah, terutama pada penentuan siapakah yang menjadi “imam”. Al-Hasan bin Musa an-Naubakhti, ulama Syi’ah yang hidup pada pertengahan abad ke 3 H hinggan awal 4 H, dalam kitab Firaq as-Syi’ah (hal 19-109) telah menjelaskan perbedaan-perbedaan itu dalam beberapa bentangan periodik. Di antaranya, setelah Ali bin Abi Thalib wafat, menurutnya an-Naubakhti, Syi’ah terbagi menjadi 3 golongan:
          Aku mengerjap-ngerjapkan mata. 3 golongan???
          Pertama, kelompok yang berpendapat Ali tidak mati terbunuh, dan tiak akan mati, hingga ia berhasil menegakkan keadilan di dunia. Inilah kelompok ekstrim (ghuluw) pertama. Kelompok ini disebut Syi’ah as Saba’iyah yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’.
          Saba’? Abdullah bin Saba’? Nama itu sepertinya nggak asing lagi, aku kembali teringat. Ukhtisalah satu teman hijraku sewaktu SMApernah bilang kalau pelopor Syi’ah itu adalah Abdullah bin Saba’. Tapi, Ukhti suruh aku cari referensi lain. Dia selalu bilang kata-kata ini sebelum menyampaikan apa yang ia tahu, katanya.. “sependek ilmuku”, baru deh bla bla bla ngasih tau informasinya. Ia sangat hati-hati sekali, khawatir salah, nanti fatal katanya. Nah, Ukhti nyaris benar. Buku itu menguak siapa Abdullah bin Saba’ sebenarnya.
          Sebelum mengenal Abdullah bin Saba’, ada lanjutan tentang golongan yang pertama yang sedang dibahas ini. Kelompok ini adalah kelompok yang terang-terangan mencaci serta berlepas diri (bara’ah) dari Abu Bakr, Umar dan Utsman serta para sahabat Rasulullah. Mereka mengaku Ali-lah yang menyuruh mereka untuk melakukan hal ini. ketika dipanggil oleh Ali mereka mengakui perbuatannya. Hampir saja Ali memvonis mati terhadap Abdullah bin Saba’, tetapi karena pertimbangan beberapa orang, sehingga Ali hanya mengusir Abdullah bin Saba’ ke al Madain.
          Nah, lanjut bahas Abdullah bin Saba’ lebih detail. Menurut an-Naubakhti, Abdullah bin Saba’ asalnya beragama Yahudi. Ketika masuk Islam, ia mendukung Ali. Dialah orang pertama yang terang-terangan mengisukan kewajiban imamahnya Ali serta berlepas diri dari musuh-musuhnya. Dijelaskan pula, bahwa ketika ia masih beragama Yahudi pernah mempopoulerkan pendapat bahwa Yusa’ bin Nun adalah pelanjut nabi Musa. Maka ketika masuk Islam, ia pun berpendapat bahwa Ali adalah pelanjut Nabi Muhammad. Faktor inilah yang membuat orang menuduh bahwa sumber ajaran Syi’ah berasal dari Yahudi.
          Astagfirullahaldzim... tidakkah seluruh umat Muslim tahu bahwa Nabi Muhammad adalah nabi penutup? Tidak ada Nabi setelah beliau. Astagfirullahaladzim. Abdullah bin Saba’ benar-benar...
          “Boleh saya ikut baca buku-buku ini?”
          Seseorang tiba-tiba bertanya padaku. Mendengar suara itu, fokusku pada Abdullah bin Saba’ langsung buyar, menguap.  Seketika aku mendongakkan kepala, menggeser tempat duduk dan buru-buru menutupi sampul buku yang sedang aku baca ini.
          “Oh, iya, boleh. Mangga.” Kataku kikuk.
          Orang itu spontan duduk di sebelahku. Aku melirik ke arahnya, ia memakai jaket, di baliknya ada kerudung lebar dan panjang yang kedua tangannya memakai xxxxxx xxxxxx. Aku sedikit memesarkan kedua bola mata. Seketika aku teringat cerita beberapa orang teman tentang seseorang yang berpakaian persis orang di sampingku ini. Aku menelan ludah.
          “Waktu dzuhur jam berapa, ya?” tanyanya lagi.
          “Nyaris jam dua belas.” jawabku. Sedetik kemudian, aku menyadari sesuatu, ada yang janggal. Aneh. Bukankah orang-orang di masjid ini tahu bahwa waktu dzuhur sekitar jam dua belas? Ingatanku tentang apa yang diomongkan teman-temanku itu semakin melekat di kepalaku. Aku deg-degan.
          Beberapa saat kemudian, dua orang kakak tingkatku datang menghampiri kami. Duduk. Lalu, salah satu dari mereka mulai mengajakku bicara. Di dalam hati, aku mengembuskan napas lega selega-leganya. Aku yakin, kedua kakak tingkatku itu mengetahui apa yang sedang terjadi, mereka tidak menghampiriku cuma-cuma.
          Kakak tingkatku juga bertanya pada orang di sampingku ini,
          “Teh, dari mana?”
          Ia tersenyum, “Dari... dari rumah.” jawabnya bercanda sambil membuka-buka buku yang aku duga ia tidak benar-benar membacanya.
          Kemudian, kedua kakak tingkatku itu terus mengajakku berbicara, tak peduli ngaler-ngidul. Sampai pada akhirnya, salah satu kakak tingkatku itu bertanya,
          “Lagi baca buku apa?”
          Duh! Aku menggerakkan bukunya sedikit, tapi buru-buru kuturunkan karena orang di sampingku ini melirik ke arahku. Aku juga tidak yakin kakak tingkatku itu berhasil melihat judul bukunya atau tidak.  Tapi, ia mengangguk saja.
          “Mau ikut ke dalam? Kata kakak tingkatku sambil menunjuk ruangan DKM Masjid ini. Kakak tingkatku itu adalah salah satu anggota dari DKM.
          Tanpa pikir panjang aku mengangguk.
          “Teh, ditinggal dulu, ya.” pamit kakak tingkatku ke orang itu.
          Orang itu menyungging senyum. “Oh, iya, iya.”
          Aku dan kakak tingkatku buru-buru memasuki ruangan yang dimaskud. Di dalam, kami langsung mengeluarkan unek-unek. Napasku terhembus seperti habis dikejar banteng (lebay -_-).
          “Orang itu udah beberapa kali kelihatan ngincar seseorang yang menurutnya tepat untuk diincar. Hati-hati. Jangan sendirian. Khawatir dihipnotis atau apalah.”
          Jantungku melengos. “Iya, teh. Untung teteh nyamperin. Kalau nggk, aku udah ditanya-tanya.”
          “Oh, jadi kamu udah tahu?”
          Aku mengangguk. “Ya. Ada dua orang temanku yang berhasil ditanya-tanya. Malah sudah nyaris mengarahkan pembicaraan pada paham yang dianutnya.”
          Oh, ya, aku belum bilang.. Jadi begini, akhir-akhir ini ada orang-orang seperti orang yang duduk di sebelahku melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti.. “Kenapa kita harus berkerudung?”, “Aurat itu mana saja, sih?”, “Kenapa kita harus salat?”, Wallahu alam tujuannya apa. Tapi, dengar-dengar, orang itu nantinya akan mem-follow up lewat kajian-kajian mereka, yang ujung-ujungnya... pencucian otak. Wallahu alam bishawab.
          Dari pengalamanku ini, garis besar yang ingin aku bicarakan tediri dari beberapa hal. Satu, zaman sekarang kerudung panjang sudah tidak aneh, sudah sering terlihat di mana-mana; kampus, mall, toko, pasar, dsb. Berbeda dengan dulu. Hal itu berarti kejayaan Islam mulai merangkak kembali. Dua, banyak umat Islam sekarang yang sudah saling tidak percaya. Kerudung panjang dan besar tak jarang dipandang sebelah mata, mungkin pandangan seperti itu memang ada dari dulu, mereka yang berkerudung besar dan syar’i diidentikkan dengan teroris. Sangat disayangkan, sangat dirugikan mana yang benar muslim, mana muslim yang menyalahgunakan syariat Islam. Astagfirullah. Dampaknya? Iffah dan izzah Islam tercoreng jelas.
          Sahabat, sebenarnya tidak ada yang salah dari tampilan orang yang membuatku deg-degan itu. Pakaiannya adalah pakaian yang seharusnya digunakan muslimah. Tidak ada yang salah. Tapi, yang membuatnya salah adalah.. tunggu.. “salah” sepertinya bukan kata yang tepat, karena bisa jadi aku yang parno. Mungkin aku telah suudzhon? Astagfirullah. Back to the topic, jadi yang membuatnya “kelihatan beda” adalah pertanyaannya yang tidak biasa di situasi antara orang yang belum saling mengenal. Tiba-tiba bertanya seperti itu, kan, lumayan membuat alis berkerut. Ah, tapi aku tidak ingin menilai seseorang, tidak ingin men-judge sembarangan orang yang tidak kutahu asal-usulnyameski aku punya hak untuk berpendapat. Dan yang terpenting, tidak ingin membuat kalian kebingungan membaca ini :D
          Untuk kalian yang membaca ini, jika perempuan, berpakaianlah sebagaimana Islam telah memberi aturan. Karena hanya ada satu Islam, maka berkapaianlah sesuai perintah-Nya di QS Al-Ahzab:59 dan An-Nur:31. Salah satunya yaitu mengulurkan kerudung sampai menutupi dada. Jadi, patuhi perintah itu. Menutupi dada. Oh ya, kalau lihat perempuan berkerudung besar dan panjang, terus berfikir positif ya! Itu, kan, memang sudah seharusnya. Yang perlu diwaspadai ketika ada orang yang gerak-gerik dan obrolannya dirasa menyimpang dari syariat. Baru, deh, waspada tingkat tinggi. Ingat ya, jika gerak-gerik dan obrolannya dirasa menyimpang dari syariat.
          Nah, jika kalian yang membaca ini laki-laki, perdalamlah ilmu agama agar menjadi calon pemimpin yang tahu secara kaffah tentang Islam. Itu penting, kan? Agar tidak ada cerita kalian disebut terosis hanya karena berkumis dan berjenggot. Ilmu, ilmu, ilmu. Belajar terussss.
          Well, sekian pengalamanku. Aku telah belajar beberapa hal baru di lingkungan yang juga baru. Kampus. Semoga bermanfaat, ya!
Jika kuingat kejadian itu, benar-benar membuat jantungku deg-degan. Deg-degan, di rumah Allah.
Tasikmalaya, 30 Mei 2016
Fitri Rahayu