Sabtu, 06 Agustus 2016

S.I. : Tentang Kita

SATU-dua tahun lalu. Setiap hari Minggu. Ada agenda intens yang semakin mempererat hubungan kita. At-Tartil. Apa kau ingat?

Setiap pukul 9 pagi di hari itu, kita saling tunggu di depan Kapolsek Cisaat dekat alun-alun. 

Kapolsek Cisaat
Setiap pukul 9 pagi di hari itu, kita saling tunggu di depan Kapolsek Cisaat dekat alun-alun. Terkadang, kau menungguku terlalu lama sampai-sampai membalas sapaanku saja seadanya. Wajahmu berubah pertanda bosan menungguku setengah mati. Meski bukan sekali-dua kali aku terlambat, tapi kau tetap menungguku di hari Minggu selanjutnya. Selalu begitu. Satu hal lagi yang kusuka darimu, ekspresi bad mood yang membuatku bersalah itu seketika lenyap saat kita mulai menaiki angkutan umum berwarna hijau, angkutan yang membawa kita ke tempat belajar tahsin. Di dekat Lapang Merdeka ke atas, dari apotek Kimia Farma. Apa kau ingat?
Lapang Merdeka SMI
Di ruangan, kita duduk melingkar bersama ukhti fillah lain yang juga ingin belajar Al-Qur’an. Dua jam. Setelah selesai, biasanya kita membeli aneka jajanan pedagang kaki lima. Cilok, cilung, seharga 500 sampai 2.000 rupiah :D Sehabis itu, kita jalan kaki melewati Eiger dan Gereja sampai ke arah lampu merah untuk menaiki angkutan umum berwarna hijau lagi. Oh, tapi sesekali kita tidak langsung naik angkutan umum itu, melainkan akan terus berjalan sampai Masjid Agung Sukabumi, salat dzuhur. Sebelum salat, kita makan jajanan yang kita beli sebentar di selasarnya, selasar yang mengarah pada “Narnia” yang kutemukan. Apa kau ingat?
            Lain lagi jika langsung menaiki angkutan umum hijau itu, kita biasanya salat dzuhur di Masjid Cisaat. Ada kenangan tak terduga setiap berkunjung ke masjid itu, bukan? Sewaktu kita mentoring bersama Teh Siti, seorang Bapak-Bapak dengan ekspresi wajah yang menurutku curiga menghampiri kita sambil berkata,
            “Hei, ereun-ereun! Keur naon eta?! Bala deuih!”
            Waktu itu, kita sedang membuka Al-Qur’an sambil membahas sesuatu. Konyolnya, kita lupa membereskan tempat makan. Keresek, sendok, berserakan.
            Teh Siti yang menanggungjawabi kita membalas, “Hapunteun sateuacanna, nuju ngaji, Pak.”
            “Eh, tong di dieu. Pindah-pindah!”
Mengingat saat itu tengah menyeruak rumor perihal aliran sesat, jadi kita mengambil kesimpulan bahwa Bapak itu mungkin hanya ingin menjaga keamanan Masjid, keamanan umat. Ya, akhirnya kita berhusnudzon saja. Bukan begitu?
Satu tahun kemudian setelah waktu itu, di At-Tartil kita naik kelas. Dua kali. Tahsin 1 dan 2. Lanjut Pra-Tahfidz. Di kelas itu, kita belajar ayat-ayat Ghoribah. Seru, bukan? Istilah isymam dan imalah adalah hukum bacaan yang paling kuingat hingga saat ini. Hukum bacaan yang lucu :D maksudku, kita harus memonyongkan bibir, dan menampakkan dhommah tanpa bersuara. Ketika dimuraja’ah bersama Ustadzah Lina, aku memata-matai bibir agar tahu bagaimana ekspresi wajahmu ketika melakukannya. Haha.
Enam bulan kemudian. Di toserba Selamat Mall. Kenaikkan kelas lagi. Begitu buku mutaba’ah dibagikan, Ustadzah Lina memberitahu bahwa tidak seratus persen murid lulus Pra-Tahfidz. Dua di antara yang tidak lulus itu... aku dan AMY. Berbeda denganmu. Selamat, kau langsung lanjut kelas Tahfidz. Kita tidak ditakdirkan satu kelas lagi ternyata :’) Aku dan AMY harus mengulang di Pra-Tahfidz.
Di masa-masa itu, kita mulai berbentur hambatan kecil namun membawa dampak yang besar. Tempat belajar kita berlawanan arah. Terpisah. Tempatmu juga menjauh, kan? Tapi, kita tetap belajar. Sendiri-sendiri.
Kapolsek. Angkutan umum hijau. Masjid Agung Sukabumi. Kita tidak lagi saling bersama. Kuakui, semangatku menurun. Tapi, aku sadar bahwa belum saatnya untuk berhenti istiqomah. Jadi, aku sebisa mungkin mempertahankan semangat. Lagipula, ada AMY yang senasib. He.
            Minggu-minggu awal semuanya tampak berjalan normal. Aku dan AMY tak pernah absen kelas Pra-Tahfidz. Kau dengan keempat shahiby lain juga rajin masuk kelas Tahfidz, bukan? Namun, hidup ini memang penuh dengan kejutan. Februari 2015. Ibunda SN meninggal dunia (semoga Allah menerima segala amalan almarhumah dan ditempatkan di sisi-Nya yang mulia. Aamiin). Berita duka itu membawa kesedihan yang sangat mendalam bagi kita.  Setelahnya, SN lebih banyak di rumah, dan kau jadi jarang berempat di setiap hari Minggu.
            Apa kau masih ingat semua itu?
            Pertengahan tahun. Entah apa penyebabnya, AMY mulai jarang masuk. Di kelas, aku hanya ditemani empat-lima ukhti fillah yang tetap bertahan belajar ayat-ayat Ghoribah bersama Ustadzah Lomrah. Tidak ada lagi mulut yang minat aku mata-matai -_- Semuanya tampak sangat berbeda. Aku pikir AMY akan masuk di hari Minggu selanjutnya, tapi nyatanya tidak. Ia tidak pernah masuk lagi.
            Akhir tahun 2015. Alhamdulillah kuselesaikan belajarku di Pra-Tahfidz. Seharusnya, aku lanjut kelas Tahfidz. Tapi, mengingat tiba waktunya untuk melanjutkan studi, di Tasikmalaya, dengan berat hati kuputuskan untuk belajar sampai Pra-Tahfidz dulu.
            Kau.
Kelas Tahfidz sejatinya tidak akan pernah selesai, kan? Menghapal Qur’an berarti belajar seumur hidup. Beberapa waktu kemudian, aku dengar kabar kalau kau dengan keempat shahibiah kita tidak lagi lanjut di At-Tartil. Ada yang kuliah di Bandung, dan bekerja. Kau sendiri tentu tahu bagaimana rasanya menjadi tenaga pendidik. Butuh waktu ekstra. Tapi, aku yakin kau tidak akan memupuskan hasil belajar tahsin untuk menghapal Qur’an.
            Awal tahun 2016. Sungguh tidak sabar untuk selalu bertemu denganmu ketika pulang ke kota kita. Seperti biasa, kita akan bertemu di salah satu rumah. Menyenangkan. Saling bertukar kabar. Bercerita ria. Membuat kenangan di foto. Lebih dari itu, betapa rindunya aku memandang wajahmu, Sohiby. Bersalaman dan merengkuh bahumu. Aku selalu rindu. Makannya, aku ngebet meminta waktumu yang berharga untuk kita habiskan bersama.
            Sekarang, bagaimana keadaanmu?
            Keadaan kalian?
            Ahillah.
            UKT.
            Hadar.
            SN.
            AMY.
            ALF.
            Apa kalian baik-baik saja? Aku harap baik-baik saja, ya :) 


Cerita di atas adalah salah satu kenangan yang membekas sampai sekarang.  

Sukabumi, 8 Juli 2016
Almaraf
This entry was posted in

2 komentar: