Kamis, 07 Juli 2016

Tuturan Selepas Asar

SEMBURAT-semburat jingga belum tampak jelas di batas cakrawala. Silir angin mengalun dan menerpa wajah seorang perempuan berkerudung yang sedang berdiri mematung di beranda di lantai teratas gedung sekolahnya. Angin-angin terus berembus, menyapu segala keletihan dari aktivitasnya sebagai seorang pelajar SMA. Langit sungguh teduh sore ini. Ah, ia jadi malas pulang, lagi pula masih banyak teman-temannya yang sedang berekstrakurikuler. Akhirnya, ia memutuskan untuk berdiam diri di beranda itu sampai beberapa saat lagi.

            Sepuluh menit berlalu, ia masih tetap berdiri di tempat itu dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Matanya menatap ke arah pesawahan dan tanaman jagung yang melenggok ke kanan dan ke kiri setiap angin berembus, sementara bibirnya melantunkan dzikir petang tanpa bersuara. Ia rindu keenam sahabatnya jika seperti ini. Karena, biasanya ia berada di beranda ini bersama mereka, untuk sekedar memandangi alam yang sungguh memanjakan mata. Betapa indahnya ciptaan Sang Khalik. Selain itu, di beranda ini juga mereka sering mengadakan syuro kepengurusan rohis yang sekiranya perlu dibicarakan secara rahasia. Yah, rasanya menyenangkan sekali. Namun, sekarang mereka tidak sedang di sini. Ada hal-hal yang harus mereka lakukan masing-masing katanya, mengingat satu bulan lagi ujian nasional akan berlangsung.
Memang perempuan berkerudung itu terlihat seperti melamunkan sesuatu dengan terus memandangi pesawahan dan tanaman jagung itu, namun sebenarnya ia tengah memikirkan masalahnya sendiri; akademik dan organisasi. Ia teringat semua motivasi tentang waktu, bahwa waktu adalah kehidupan. Jadi, bukan bermaksud menyia-nyiakan waktu dengan berdiam seperti itu, hanya saja sudah seminggu terakhir ini ia butuh waktu dan ruang untuk memikirkan segala tindakannya yang entah itu tepat atau tidak. Seperti bermuhasabah. Ia juga ingin beristirahat, benar-benar beristirahat, dan sepertinya ini adalah saat yang tepat.
Dzikir petangnya sudah sampai pada doa rabithah. Doa yang meminta keridhoan-Nya agar menyatukan hati yang dikumpulkan dalam jalan dakwah. Agar tali persaudaraan dengan keenam sahabatnya dieratkan. Agar mereka tetap didekatkan. Seperti langsung dikabulkan, tiba-tiba telinganya mendengar derap sepatu beradu dengan lantai berpasir. Ia berbalik, terkaget melihat siapa yang datang menghampirinya. Adam, teman sekelasnya.
            “Hei.” sapanya ringan. Ia kemudian langsung bertanya, “Sudah salat Asar?”
            Perempuan itu hanya mengangguk.
            Adam berjalan dan berhenti di samping perempuan itu. Ia mengerti, oleh karenanya ia menjaga jarak sekitar dua setengah meter dari perempuan yang sudah 3 tahun menjadi temannya itu.
            “Masih rapat?” tanya Adam lagi.
            Perempuan itu tahu ke mana arah pembicaraan Adam, ia tersenyum, kemudian, “Tidak ada rapat. Tapi, atmosfer sore ini bagus sekali, sayang untuk aku lewatkan.”
            Lima detik yang lalu perempuan itu mendengar Adam menanggapi perkataannya. Tapi setelah itu, ia tidak berkata apa-apa lagi. Perempuan itu sadar bahwa tidak baik berkhalwat. Jadi, ia berniat untuk pergi, karena terbukti tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua di tempat itu. Namun, ketika ia hendak membuka mulut untuk pamit, Adam sudah terlebih dahulu mengeluarkan suaranya dan berkata,
            “Ada yang ingin aku bicarakan padamu.”
            Perempuan itu mengernyit. Entah kenapa hatinya berkata untuk pergi sekarang juga.
            “Eh, maaf, Adam, mungkin lain kali. Aku harus pergi sekarang.”
Tanpa menunggu tanggapan Adam, perempuan itu buru-buru melangkahkan kaki yang menurutnya langkahannya lebih lebar daripada biasanya.
            “Kenapa kau selalu menghindar?” tukas Adam cepat.
            Baru beberapa langkah berjalan, perempuan itu berhenti. Apa katanya? Kenapa ia selalu menghindar? Ia lalu membalikkan badan dan menatap Adam yang tetap berdiri di tempatnya.
            “Bukan begitu, hanya saj...”
            “Maaf, sebentar saja,” Adam memotong perkataan perempuan itu dengan nada sedikit memohon.
Perempuan itu terlihat kesal. Ia tidak suka Adam memaksanya. “Baiklah. Tanya saja. Dan—tidak!—kau tetap di situ. Aku di sini.” Perempuan itu kembali berujar ketika Adam mengangkat kaki kanannya hendak melangkah, mendekat.
            “Baik.” Adam berdeham sambil menurunkan kakinya dan mundur sedikit. Ia terlihat gugup.
“Sebelumnya, aku minta maaf karena memaksamu mendengarkanku berbicara. Dan aku juga minta maaf jika ada kata-kataku nanti yang membuatmu berpikir untuk berhenti mendengarkanku atau membuatmu berpikir aku menyinggung perasaanmu. Tapi, percayalah tidak ada niatku sedikitpun untuk berbuat demikian terhadapmu.” katanya berterus terang.
            “Memangnya, apa yang ingin kau bicarakan? Kedengarannya sensitif sekali,” kata perempuan itu tidak sabar.
            Adam menatap lurus perempuan itu, ia menundukkan kepala sebentar, menatapnya lagi, kemudian kembali menundukkan kepala, menatapnya lagi, dan... berhenti. Tapi, Adam belum mulai berbicara, ia masih menatap perempuan itu sampai tiga detik berturut-turut. Yang ditatap terus menghindari tatapan Adam.
            “Aku bertemu seorang akhwat di sekolah ini,” Adam mulai menjelaskan. “waktu itu aku melihatnya berargumen ketika ada suatu presentasi. Ia mengutarakan pendapatnya dengan sangat hati-hati, bahwa ia tidak setuju dengan materi dari kelompok yang berpresentasi. Ia bilang pacaran sehat itu ada, tetapi setelah pernikahan, bukan pacaran yang dilakukan orang-orang sebelum menikah dengan komitmen saling percaya dan saling setia untuk menjalin sebuah ikatan yang dimuarakan karena cinta.
Ia juga menjelaskan ayat dari Al-Qur’an tentang hubungan antara perempuan dan laki-laki yang bukan mahram sebagaimana mestinya.” Samar-samar ekspresi wajah Adam berseri-seri mengingat seorang akhwat yang ia ceritakan.
“Dan secara garis besar, di akhir penjelasannya, ia mengajak orang-orang yang menyaksikan presentasi itu untuk kembali kepada aturan Islam yang di zaman sekarang sepertinya akhlak sedang krisis.”
            Perempuan itu mendengar aliran kata-kata Adam dengan jernih. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak keruan. Apa sebenarnya yang Adam bicarakan? Perempuan itu tidak berani menatap kedua mata Adam. Pandangannya hanya menatap pasir yang dijejaknya berterbangan rendah terbawa angin.
            “Bijaksana sekali,” ujar Adam lagi yang membuat perempuan itu semakin mengendalikan pikiran dan emosinya. Ia tahu siapa akhwat yang Adam maksud. Entah kenapa ia merasa matanya memanas. “hari-hari setelah itu, aku semakin dekat berteman dengannya—sering berdiskusi ringan, membicarakan hal-hal yang bermanfaat. Aku juga kagum, belum pernah aku melihatnya berbicara berdua dengan lawan jenis. Dari semua itu, aku mulai memercayai setiap ucapan-ucapannya dalam hal apapun. Kata-kata yang diucapkannya berhasil menuntunku, mengubah hidupku. Aku belajar banyak darinya. Aku percaya padanya. Aku percaya.”
            Adam berhenti sejenak. Ia melihat perempuan di hadapannya bergerak-gerak kecil tidak nyaman. “Akhwat itu bernama Risa. Risa Anindia Pasya.” ujar Adam pelan menyebut nama perempuan di hadapannya. “Sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu. Aku ingin bertanya, perasaan apa itu, Risa? Kenapa aku begitu percaya padamu?” Setelah bilang begitu, Adam merasa beban di pundaknya seolah meringan teratur.
            Risa menyeka matanya. Ternyata, ada air mata keluar bebas dari kedua sudut matanya. Ia mencoba menghapusnya. Kepalanya mendadak pusing. Jantungnya berdetak semakin kencang. Ini yang Risa takutkan, ia menangis karena takut. Ia mendengar Adam bertanya; “Perasaan apa itu, Risa? Kenapa aku begitu percaya padamu?” Risa berpikir Adam bodoh. Kenapa ia menanyakan perasaannya sendiri kepada orang lain? Risa mengumpulkan keberanian untuk mulai berbicara, menanggapi apa yang coba Adam utarakan.
            “Kau aneh,” ujar Risa dengan suara seperti tercekik. “kau tentu tahu perasaan yang kau rasakan itu.” Sambil berbicara, ia menatap Adam sekilas. Hanya sekilas. Sebelum melanjutkan perkataannya, Risa menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya berbarengan dengan menyingkirkan sisa-sisa detak jantung yang semakin tidak keruan. “Sudahlah. Jangan mempermainkan orang, Adam! Aku harus pergi sekarang,”
            Kedua bola mata Adam membesar. Seketika ekspresi wajahnya sulit dibaca, ia terlihat bingung, takut, khawatir... “Aku tidak mempermainkanmu, Risa. Sungguh.” sergah Adam dengan nada bicara yang lebih rendah dari Risa. “Aku pikir aku hanya harus mengatakan ini. Sebelum kita berpisah, aku pikir aku hanya harus mengatakan ini. Risa, asal kau tahu, hampir setiap malam aku mencari keputusan agar hati ini tidak gelisah. Dan percayalah, aku sudah berusaha menahan diriku, aku sudah berusaha untuk menahan perasaanku, tapi aku tetap tidak bisa menahan ini semua, Risa. Pun hampir setiap malam itu keputusanku berubah, karena aku tahu apa reaksimu ketika aku berbicara seperti ini. Aku sudah menduganya,”
            Sejurus kemudian, sesuatu seperti merasuki diri Adam, ia tiba-tiba berbalik memunggungi Risa. Ia menelan ludah. Lalu dengan hati yang gemetar hebat, ia akhirnya berkata, “Maafkan aku, Risa, aku mencintaimu.” Kepalanya kemudian tertunduk lemas. “Aku sangat mencintaimu.” ujarnya sekali lagi nyaris tidak terdengar.
            Tangis Risa pecah. Otaknya berpikir keras. Ia ingin pergi dari tempat itu sekarang juga. Ia takut. Benar-benar takut. Sebelum pergi, Risa memandangi punggung Adam dan berkata, “Kau teman yang sangat baik, Adam. Maaf, aku pergi sekarang.” ujar Risa membatasi sekelibat kata-kata yang terlintas di pikirannya. Sebelum benar-benar melangkahkahkan kaki, Risa berkata, “Dan semoga Allah mengampuni kita.”
            Kedua bahu Adam tegak seketika. Kata-kata Risa seperti diserap langit lalu dipantulkan berkali-kali ke gendang telinga Adam. Setelah beberapa saat, Adam berbalik, dan diujung pandangannya, kerudung Risa berkibar sekejap sebelum akhirnya menghilang ketika kedua mata Adam berkaca-kaca. Ada sesuatu yang hendak bergulir bebas di kedua pipinya.
Adam bergumam sendirian, “Ya Allah Ya Karim, aku sungguh mencintainya.”

Ah, untuk saat ini Adam mencukupkan harapannya. Sudahlah. Ia tahu semua peraturan ini.
            Dari awal Adam sudah tahu, menyatakan perasaan pada Risa sama saja dengan bunuh diri. Ia mengaku seharusnya bilang begitu untuk siap-siap menjadikannya pasangan di atas janji suci yang kelak diikrarkan. Bukan sebagai pacar. Memangnya, apa yang bisa dilakukan tentang cinta olehnya yang masih berstatus sebagai seorang anak SMA? Namun, di sisi lain perasaan yang dirasakannya setiap detik terus menikam hatinya. Adam hanyalah laki-laki biasa yang hatinya tengah diguncang hebat oleh cinta. Akhirnya, ia memilih mengatakannya. Ya, seperti yang terjadi barusan.
            Adam dan Risa sama-sama tahu, kelak ketika waktunya tiba, Allah akan memberikan cinta yang suci, bersih dan jernih. Risa memilih mematuhi perintah-Nya. Ia belajar untuk patuh. Ia memilih perasaannya disimpan rapat-tapat. Kelak ketika Allah mengizinkan, Risa akan menyambut dengan hati terbuka untuk cinta yang datang menghampirinya. Risa yakin, semua akan indah pada waktu-Nya. Waktu-Nya selalu sempurna.
Selesai
Terinspirasi dari kutipan Darwis Tere Liye;
Jika dua orang memang benar-benar saling menyukai satu sama lain, itu bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi hadiah yang hebat untuk orang-orang yang bersabar.

            Sementara kalau waktunya belum tiba, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik, bukan dengan melanggar banyak larangan, nilai-nilai agama. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia bersarnya, apakah rasa suka itu semakin besar atau semakin memudar.
This entry was posted in

3 komentar: