SEMBURAT-semburat jingga belum tampak
jelas di batas cakrawala. Silir angin mengalun dan menerpa wajah seorang
perempuan berkerudung yang sedang berdiri mematung di beranda di lantai teratas
gedung sekolahnya. Angin-angin terus berembus, menyapu segala keletihan dari
aktivitasnya sebagai seorang pelajar SMA. Langit sungguh teduh sore ini. Ah, ia
jadi malas pulang, lagi pula masih banyak teman-temannya yang sedang
berekstrakurikuler. Akhirnya, ia memutuskan untuk berdiam diri di beranda itu sampai
beberapa saat lagi.
Sepuluh menit berlalu, ia masih tetap berdiri di tempat
itu dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Matanya menatap ke arah
pesawahan dan tanaman jagung yang melenggok ke kanan dan ke kiri setiap angin
berembus, sementara bibirnya melantunkan dzikir petang tanpa bersuara. Ia rindu
keenam sahabatnya jika seperti ini. Karena, biasanya ia berada di beranda ini
bersama mereka, untuk sekedar memandangi alam yang sungguh memanjakan mata.
Betapa indahnya ciptaan Sang Khalik. Selain itu, di beranda ini juga mereka
sering mengadakan syuro kepengurusan rohis yang sekiranya perlu dibicarakan
secara rahasia. Yah, rasanya menyenangkan sekali. Namun, sekarang mereka tidak
sedang di sini. Ada hal-hal yang harus mereka lakukan masing-masing katanya,
mengingat satu bulan lagi ujian nasional akan berlangsung.
Memang
perempuan berkerudung itu terlihat seperti melamunkan sesuatu dengan terus
memandangi pesawahan dan tanaman jagung itu, namun sebenarnya ia tengah memikirkan
masalahnya sendiri; akademik dan organisasi. Ia teringat semua motivasi tentang
waktu, bahwa waktu adalah kehidupan. Jadi, bukan bermaksud menyia-nyiakan waktu
dengan berdiam seperti itu, hanya saja sudah seminggu terakhir ini ia butuh
waktu dan ruang untuk memikirkan segala tindakannya yang entah itu tepat atau
tidak. Seperti bermuhasabah. Ia juga ingin beristirahat, benar-benar beristirahat,
dan sepertinya ini adalah saat yang tepat.
Dzikir
petangnya sudah sampai pada doa rabithah. Doa yang meminta keridhoan-Nya agar menyatukan
hati yang dikumpulkan dalam jalan dakwah. Agar tali persaudaraan dengan keenam
sahabatnya dieratkan. Agar mereka tetap didekatkan. Seperti langsung
dikabulkan, tiba-tiba telinganya mendengar derap sepatu beradu dengan lantai
berpasir. Ia berbalik, terkaget melihat siapa yang datang menghampirinya. Adam,
teman sekelasnya.
“Hei.” sapanya ringan. Ia kemudian langsung bertanya, “Sudah
salat Asar?”
Perempuan itu hanya mengangguk.
Adam berjalan dan berhenti di samping perempuan itu. Ia
mengerti, oleh karenanya ia menjaga jarak sekitar dua setengah meter dari
perempuan yang sudah 3 tahun menjadi temannya itu.
“Masih rapat?” tanya Adam lagi.
Perempuan itu tahu ke mana arah pembicaraan Adam, ia
tersenyum, kemudian, “Tidak ada rapat. Tapi, atmosfer sore ini bagus sekali, sayang
untuk aku lewatkan.”
Lima detik yang lalu perempuan itu mendengar Adam
menanggapi perkataannya. Tapi setelah itu, ia tidak berkata apa-apa lagi.
Perempuan itu sadar bahwa tidak baik berkhalwat. Jadi, ia berniat untuk pergi,
karena terbukti tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua di tempat itu. Namun,
ketika ia hendak membuka mulut untuk pamit, Adam sudah terlebih dahulu
mengeluarkan suaranya dan berkata,
“Ada yang ingin aku bicarakan padamu.”
Perempuan itu mengernyit. Entah kenapa hatinya berkata
untuk pergi sekarang juga.
“Eh, maaf, Adam, mungkin lain kali. Aku harus pergi
sekarang.”
Tanpa
menunggu tanggapan Adam, perempuan itu buru-buru melangkahkan kaki yang
menurutnya langkahannya lebih lebar daripada biasanya.
“Kenapa kau selalu menghindar?” tukas Adam cepat.
Baru beberapa langkah berjalan, perempuan itu berhenti. Apa
katanya? Kenapa ia selalu menghindar? Ia lalu membalikkan badan dan menatap
Adam yang tetap berdiri di tempatnya.
“Bukan begitu, hanya saj...”
“Maaf, sebentar saja,” Adam memotong perkataan perempuan
itu dengan nada sedikit memohon.
Perempuan
itu terlihat kesal. Ia tidak suka Adam memaksanya. “Baiklah. Tanya saja. Dan—tidak!—kau
tetap di situ. Aku di sini.” Perempuan itu kembali berujar ketika Adam
mengangkat kaki kanannya hendak melangkah, mendekat.
“Baik.” Adam berdeham sambil menurunkan kakinya dan
mundur sedikit. Ia terlihat gugup.
“Sebelumnya,
aku minta maaf karena memaksamu mendengarkanku berbicara. Dan aku juga minta
maaf jika ada kata-kataku nanti yang membuatmu berpikir untuk berhenti
mendengarkanku atau membuatmu berpikir aku menyinggung perasaanmu. Tapi,
percayalah tidak ada niatku sedikitpun untuk berbuat demikian terhadapmu.”
katanya berterus terang.
“Memangnya, apa yang ingin kau bicarakan? Kedengarannya
sensitif sekali,” kata perempuan itu tidak sabar.
Adam menatap lurus perempuan itu, ia menundukkan kepala
sebentar, menatapnya lagi, kemudian kembali menundukkan kepala, menatapnya lagi,
dan... berhenti. Tapi, Adam belum mulai berbicara, ia masih menatap perempuan itu
sampai tiga detik berturut-turut. Yang ditatap terus menghindari tatapan Adam.
“Aku bertemu seorang akhwat di sekolah ini,” Adam mulai
menjelaskan. “waktu itu aku melihatnya berargumen ketika ada suatu presentasi.
Ia mengutarakan pendapatnya dengan sangat hati-hati, bahwa ia tidak setuju
dengan materi dari kelompok yang berpresentasi. Ia bilang pacaran sehat itu ada,
tetapi setelah pernikahan, bukan pacaran yang dilakukan orang-orang sebelum
menikah dengan komitmen saling percaya dan saling setia untuk menjalin sebuah
ikatan yang dimuarakan karena cinta.
Ia
juga menjelaskan ayat dari Al-Qur’an tentang hubungan antara perempuan dan
laki-laki yang bukan mahram sebagaimana mestinya.” Samar-samar ekspresi wajah
Adam berseri-seri mengingat seorang akhwat yang ia ceritakan.
“Dan
secara garis besar, di akhir penjelasannya, ia mengajak orang-orang yang
menyaksikan presentasi itu untuk kembali kepada aturan Islam yang di zaman
sekarang sepertinya akhlak sedang krisis.”
Perempuan itu mendengar aliran kata-kata Adam dengan
jernih. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak keruan. Apa sebenarnya yang Adam bicarakan?
Perempuan itu tidak berani menatap kedua mata Adam. Pandangannya hanya menatap
pasir yang dijejaknya berterbangan rendah terbawa angin.
“Bijaksana
sekali,” ujar Adam lagi yang membuat perempuan itu semakin mengendalikan
pikiran dan emosinya. Ia tahu siapa akhwat yang Adam maksud. Entah kenapa ia
merasa matanya memanas. “hari-hari setelah itu, aku semakin dekat berteman
dengannya—sering berdiskusi ringan, membicarakan hal-hal yang bermanfaat. Aku juga
kagum, belum pernah aku melihatnya berbicara berdua dengan lawan jenis. Dari
semua itu, aku mulai memercayai setiap ucapan-ucapannya dalam hal apapun. Kata-kata
yang diucapkannya berhasil menuntunku, mengubah hidupku. Aku belajar banyak darinya.
Aku percaya padanya. Aku percaya.”
Adam berhenti sejenak. Ia melihat perempuan di hadapannya
bergerak-gerak kecil tidak nyaman. “Akhwat itu bernama Risa. Risa Anindia Pasya.”
ujar Adam pelan menyebut nama perempuan di hadapannya. “Sudah lama aku ingin
mengatakan ini padamu. Aku ingin bertanya, perasaan apa itu, Risa? Kenapa aku begitu
percaya padamu?” Setelah bilang begitu, Adam merasa beban di pundaknya seolah meringan
teratur.
Risa menyeka matanya. Ternyata, ada air mata keluar bebas
dari kedua sudut matanya. Ia mencoba menghapusnya. Kepalanya mendadak pusing.
Jantungnya berdetak semakin kencang. Ini yang Risa takutkan, ia menangis karena
takut. Ia mendengar Adam bertanya; “Perasaan apa itu, Risa? Kenapa aku begitu
percaya padamu?” Risa berpikir Adam bodoh. Kenapa ia menanyakan perasaannya
sendiri kepada orang lain? Risa mengumpulkan keberanian untuk mulai berbicara,
menanggapi apa yang coba Adam utarakan.
“Kau aneh,” ujar Risa dengan suara seperti tercekik. “kau
tentu tahu perasaan yang kau rasakan itu.” Sambil berbicara, ia menatap Adam
sekilas. Hanya sekilas. Sebelum melanjutkan perkataannya, Risa menarik napas
dalam-dalam dan mengembuskannya berbarengan dengan menyingkirkan sisa-sisa
detak jantung yang semakin tidak keruan. “Sudahlah. Jangan mempermainkan orang,
Adam! Aku harus pergi sekarang,”
Kedua bola mata Adam membesar. Seketika ekspresi wajahnya
sulit dibaca, ia terlihat bingung, takut, khawatir... “Aku tidak
mempermainkanmu, Risa. Sungguh.” sergah Adam dengan nada bicara yang lebih
rendah dari Risa. “Aku pikir aku hanya harus mengatakan ini. Sebelum kita
berpisah, aku pikir aku hanya harus mengatakan ini. Risa, asal kau tahu, hampir
setiap malam aku mencari keputusan agar hati ini tidak gelisah. Dan percayalah,
aku sudah berusaha menahan diriku, aku sudah berusaha untuk menahan perasaanku,
tapi aku tetap tidak bisa menahan ini semua, Risa. Pun hampir setiap malam itu keputusanku
berubah, karena aku tahu apa reaksimu ketika aku berbicara seperti ini. Aku
sudah menduganya,”
Sejurus kemudian, sesuatu seperti merasuki diri Adam, ia tiba-tiba
berbalik memunggungi Risa. Ia menelan ludah. Lalu dengan hati yang gemetar
hebat, ia akhirnya berkata, “Maafkan aku, Risa, aku mencintaimu.” Kepalanya
kemudian tertunduk lemas. “Aku sangat mencintaimu.” ujarnya sekali lagi nyaris
tidak terdengar.
Tangis Risa pecah. Otaknya berpikir keras. Ia ingin pergi
dari tempat itu sekarang juga. Ia takut. Benar-benar takut. Sebelum pergi, Risa
memandangi punggung Adam dan berkata, “Kau teman yang sangat baik, Adam. Maaf,
aku pergi sekarang.” ujar Risa membatasi sekelibat kata-kata yang terlintas di
pikirannya. Sebelum benar-benar melangkahkahkan kaki, Risa berkata, “Dan semoga
Allah mengampuni kita.”
Kedua bahu Adam tegak seketika. Kata-kata Risa seperti
diserap langit lalu dipantulkan berkali-kali ke gendang telinga Adam. Setelah
beberapa saat, Adam berbalik, dan diujung pandangannya, kerudung Risa berkibar
sekejap sebelum akhirnya menghilang ketika kedua mata Adam berkaca-kaca. Ada
sesuatu yang hendak bergulir bebas di kedua pipinya.
Ah,
untuk saat ini Adam mencukupkan harapannya. Sudahlah. Ia tahu semua peraturan
ini.
Dari awal Adam sudah tahu, menyatakan perasaan pada Risa
sama saja dengan bunuh diri. Ia mengaku seharusnya bilang begitu untuk
siap-siap menjadikannya pasangan di atas janji suci yang kelak diikrarkan.
Bukan sebagai pacar. Memangnya, apa yang bisa dilakukan tentang cinta olehnya
yang masih berstatus sebagai seorang anak SMA? Namun, di sisi lain perasaan
yang dirasakannya setiap detik terus menikam hatinya. Adam hanyalah laki-laki
biasa yang hatinya tengah diguncang hebat oleh cinta. Akhirnya, ia memilih
mengatakannya. Ya, seperti yang terjadi barusan.
Adam dan Risa sama-sama tahu, kelak ketika waktunya tiba,
Allah akan memberikan cinta yang suci, bersih dan jernih. Risa memilih mematuhi
perintah-Nya. Ia belajar untuk patuh. Ia memilih perasaannya disimpan
rapat-tapat. Kelak ketika Allah mengizinkan, Risa akan menyambut dengan hati
terbuka untuk cinta yang datang menghampirinya. Risa yakin, semua akan indah
pada waktu-Nya. Waktu-Nya selalu sempurna.
—Selesai—
Terinspirasi dari kutipan Darwis Tere Liye;
Jika dua orang memang benar-benar saling menyukai satu
sama lain, itu bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di
waktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi
hadiah yang hebat untuk orang-orang yang bersabar.
Sementara
kalau waktunya belum tiba, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik,
bukan dengan melanggar banyak larangan, nilai-nilai agama. Waktu dan jarak akan
menyingkap rahasia bersarnya, apakah rasa suka itu semakin besar atau semakin
memudar.


Fitrii :) omayoo
BalasHapusOmayoo? What does it mean Ma?
HapusFitrii :) omayoo
BalasHapus