"KENAPA
diam terus?” tanyamu membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh. Tersenyum.
Kau mendengus. “Lagi-lagi hanya
senyuman. Seolah dengan senyuman semuanya terselesaikan.” Kemudian, kedua
matamu beralih menatap sekeliling. “Kau tahu, biasanya orang-orang akan bercerita
panjang lebar ketika dipancing.” Lalu, kau kembali menatapku. “Tapi, anehnya
kau tidak begitu.”
Aku berdeham. “Dipancing? Memangnya
aku ini ikan?” Aku tahu kau sedang berusaha menyuruhku berbicara lebih banyak.
Aku tahu.
“Kenapa kau begitu flat?”
Kedua bola mataku membesar. Apa? Flat katanya?! “Sembarangan!”
Kau tertawa. “Lihat? Diejek begitu
juga kau tidak membela diri lebih keras.”
Menyebalkan sekali! Mendengar kau
bilang begitu, aku membuka mulut, tapi tidak ada satupun kata yang sudi keluar.
Tawamu mereda. Untuk beberapa saat,
kita tidak bersuara. Aku larut ke dalam pikiranku sendiri. Sebenarnya, aku
lebih bawel darimu, kau tahu? Hei, kalau ada Kontes Bawel nasional, mungkin aku
juaranya -_- Apalagi kalau disinggung terkait hal yang kusuka, tempat yang aku
impikan, cita-cita terbesar, mulutku bisa sampai berbusa untuk menceritakannya.
Tapi, nyatanya aku tidak demikian. Seperti yang kau bilang, bahkan ketika
diejek pun aku tidak membela diri lebih keras. Kenapa bisa begitu? Ah, aku
sendiri tidak tahu. Tapi, aku punya alasan kenapa aku tidak berbicara lebih
banyak.
Tiba-tiba, kau kembali bersuara. “Kalau
diam terus, bagaimana orang lain akan tahu?”
Aku mengernyit. “Maksudnya?”
Dengan ekspresi yang sulit kubaca,
kau berkata, “Yaa... Maksudku, saat kau sedang susah misalnya, bagaimana orang
lain bisa membantumu kalau kau tidak bicara?”
Aku tidak langsung menjawab.
Kuperhatikan teman-teman kita yang sedang duduk melingkar bersama. Mereka sibuk
dengan buku dan laptop, jadi tidak terlalu mendengarkan kita. Setelah berpikir
sesaat, aku mencoba mencari jawaban yang bisa membuatmu terkesan. Tapi,
akhirnya aku hanya berkata,
“Apa menurutmu diamku ini tingkat
Raja, ya?”
“Maksudmu?”
Aku mendengus. “Kau tahu, terkadang
orang lain hanya ingin tahu saja, tidak benar-benar peduli. Ketika lebih banyak
diam, bukan berarti aku tidak peduli. Aku hanya sedang memperhatikan sesuatu
yang lebih dari sekedar mendengarnya berbicara.”
Kedua matamu menyipit. “Susuatu yang
lebih? Aku tidak mengerti.”
Ah, kau ini. Apa kau benar-benar
tidak tahu atau bagaimana? “Dari mana aku harus mulai?” tanyaku pada diri
sendiri. “Kau tahu, aku bisa stres seorang diri kalau tidak bisa menyampaikan
apa yang ada di otak ini. Seperti sekarang. Ah, bisa kau langsung baca saja
pikiranku? Oh, tidak mungkin. Pernah dengar quote
ini? Orang yang diam cenderung sibuk pikirannya. Err.. sudahlah. Aku butuh
seorang psikiater.”
Entah perkataan mana yang membuatku terlihat
seperti seorang pelawak, tapi ekspresi wajahmu berubah, dan kau tertawa puas. “Ternyata
kau tidak sependiam yang aku pikirkan. Kau berpotensi bawel sewaktu-waktu, dan
aku tidak keberatan dengan itu.”
Aku mengernyit. “Ha?”
Kau mengibaskan sebelah tangan.
“Lanjutkan.”
Aku berpikir sebentar, lalu, “Bisa
kau beri saja aku pertanyaan? Kurasa itu akan memudahkanku.”
“Pertanyaan apa, Trasya?”
Aku menoleh ke sumber suara. Rachel.
Wah ternyata ada yang mendengar percakapan kita. “Pertanyaan dari teman kita
ini.” jawabku ringan.
“Siapa?”
Aku menatap Rachel tidak mengerti. “Zed.”
Rachel memanjangkan lehernya. “Zed
siapa?”
“Zed teman diskusi kita, dia di
si... ni.” Aku mengedarkan pandangan. Zed? Ke mana kau?
Teman-teman yang sedang melingkar di
samping Rachel ikut mengangkat kepala. “Kau bicara dengan siapa, Trasya? Aku
tidak melihat siapa-siapa.” tanya salah satu dari mereka.
Tidak melihat siapa-siapa ? Bukankah
kita sedang bicara, Zed? Ke mana kau?
Rachel mendekat. Ia menyentuh kedua
bahuku. “Trasya, apa kau baik-baik saja?”
Aku mulai panik. Sekujur tubuhku
berkeringat.
To be continued

0 komentar:
Posting Komentar