Selasa, 13 September 2016

B I S U (1)


"KENAPA diam terus?” tanyamu membuyarkan lamunanku.
            Aku menoleh. Tersenyum.
            Kau mendengus. “Lagi-lagi hanya senyuman. Seolah dengan senyuman semuanya terselesaikan.” Kemudian, kedua matamu beralih menatap sekeliling. “Kau tahu, biasanya orang-orang akan bercerita panjang lebar ketika dipancing.” Lalu, kau kembali menatapku. “Tapi, anehnya kau tidak begitu.”
            Aku berdeham. “Dipancing? Memangnya aku ini ikan?” Aku tahu kau sedang berusaha menyuruhku berbicara lebih banyak. Aku tahu.
            “Kenapa kau begitu flat?”
            Kedua bola mataku membesar. Apa? Flat katanya?! “Sembarangan!”
            Kau tertawa. “Lihat? Diejek begitu juga kau tidak membela diri lebih keras.”
            Menyebalkan sekali! Mendengar kau bilang begitu, aku membuka mulut, tapi tidak ada satupun kata yang sudi keluar.   
            Tawamu mereda. Untuk beberapa saat, kita tidak bersuara. Aku larut ke dalam pikiranku sendiri. Sebenarnya, aku lebih bawel darimu, kau tahu? Hei, kalau ada Kontes Bawel nasional, mungkin aku juaranya -_- Apalagi kalau disinggung terkait hal yang kusuka, tempat yang aku impikan, cita-cita terbesar, mulutku bisa sampai berbusa untuk menceritakannya. Tapi, nyatanya aku tidak demikian. Seperti yang kau bilang, bahkan ketika diejek pun aku tidak membela diri lebih keras. Kenapa bisa begitu? Ah, aku sendiri tidak tahu. Tapi, aku punya alasan kenapa aku tidak berbicara lebih banyak.
            Tiba-tiba, kau kembali bersuara. “Kalau diam terus, bagaimana orang lain akan tahu?”
            Aku mengernyit. “Maksudnya?”
            Dengan ekspresi yang sulit kubaca, kau berkata, “Yaa... Maksudku, saat kau sedang susah misalnya, bagaimana orang lain bisa membantumu kalau kau tidak bicara?”
            Aku tidak langsung menjawab. Kuperhatikan teman-teman kita yang sedang duduk melingkar bersama. Mereka sibuk dengan buku dan laptop, jadi tidak terlalu mendengarkan kita. Setelah berpikir sesaat, aku mencoba mencari jawaban yang bisa membuatmu terkesan. Tapi, akhirnya aku hanya berkata,
            “Apa menurutmu diamku ini tingkat Raja, ya?”
            “Maksudmu?”
            Aku mendengus. “Kau tahu, terkadang orang lain hanya ingin tahu saja, tidak benar-benar peduli. Ketika lebih banyak diam, bukan berarti aku tidak peduli. Aku hanya sedang memperhatikan sesuatu yang lebih dari sekedar mendengarnya berbicara.”
            Kedua matamu menyipit. “Susuatu yang lebih? Aku tidak mengerti.”
            Ah, kau ini. Apa kau benar-benar tidak tahu atau bagaimana? “Dari mana aku harus mulai?” tanyaku pada diri sendiri. “Kau tahu, aku bisa stres seorang diri kalau tidak bisa menyampaikan apa yang ada di otak ini. Seperti sekarang. Ah, bisa kau langsung baca saja pikiranku? Oh, tidak mungkin. Pernah dengar quote ini? Orang yang diam cenderung sibuk pikirannya. Err.. sudahlah. Aku butuh seorang psikiater.”
            Entah perkataan mana yang membuatku terlihat seperti seorang pelawak, tapi ekspresi wajahmu berubah, dan kau tertawa puas. “Ternyata kau tidak sependiam yang aku pikirkan. Kau berpotensi bawel sewaktu-waktu, dan aku tidak keberatan dengan itu.”
            Aku mengernyit. “Ha?”
            Kau mengibaskan sebelah tangan. “Lanjutkan.”
            Aku berpikir sebentar, lalu, “Bisa kau beri saja aku pertanyaan? Kurasa itu akan memudahkanku.”
            “Pertanyaan apa, Trasya?”
            Aku menoleh ke sumber suara. Rachel. Wah ternyata ada yang mendengar percakapan kita. “Pertanyaan dari teman kita ini.” jawabku ringan.
            “Siapa?”
            Aku menatap Rachel tidak mengerti. “Zed.”
            Rachel memanjangkan lehernya. “Zed siapa?”
            “Zed teman diskusi kita, dia di si... ni.” Aku mengedarkan pandangan. Zed? Ke mana kau?
            Teman-teman yang sedang melingkar di samping Rachel ikut mengangkat kepala. “Kau bicara dengan siapa, Trasya? Aku tidak melihat siapa-siapa.” tanya salah satu dari mereka.
            Tidak melihat siapa-siapa ? Bukankah kita sedang bicara, Zed? Ke mana kau?
            Rachel mendekat. Ia menyentuh kedua bahuku. “Trasya, apa kau baik-baik saja?”
            Aku mulai panik. Sekujur tubuhku berkeringat.

To be continued
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar