Senin, 30 Mei 2016

Nasib SBMPTN-ku (First Part)

Assalamu'alaikum :) Untuk teman-teman, adik-adik, bahkan kakak-kakak yg besok mau uji nyali :D (hehe.. guyon ya) maksudku mengikuti tes SBMPTN 2016, selamat berjuang. Fokus. Tenang. Positive thinking. Memang berbicara itu tdk semudah melakukan, tapi siapa lg yang bukan diri kamu sendiri yang menyemangati? Klo kamu semangat, positive thinking, orang-orang di sekitarmu akan memberi energi positif. Sertakan Allah untuk semua perjuangan yg kamu lakukan. Makannya, be positif as long as you trust yourself! Bismillah, doaku menyertai kamu...

Well, mengingat euforia SBMPTN sedang mencuat, di postingan kali ini aku mau curhat tentang nasib SBMPTN-ku tahun lalu. Semoga bisa kasih kamu informasi, wawasan, dan syukur-syukur termotivasi, ya!. Aamiin. (Wih pedenya -_-) Curhatan ini aku tulis 20 Juni 2015 Happy reading!

PART 1
SAAT itu hari Sabtu. SNMPTN. Pengumuman dibuka pada pukul 17.00 WIB. Berjam-jam sebelum pukul 17.00, aku dengan temanku yang lain merasakan atmosfer yang berbeda sepagian. Pengumuman di hari itu juga seperti trending topic bagi kami. Pertanyaan lolos atau tidak, terus menghantui kami tidak kenal lelah. Detik-detik pukul 17.00, aku sempat membuka BBM. Aku melihat ketegangan yang sama dari status-status yang mereka tulis.
            Tibalah pada pukul 17.00. Karena beberapa hari sebelumnya notebook-ku rusak dan belum diperbaiki, aku sedikit kesulitan dengan laptop milik bapakku dan wifi dari ponselku. Beberapa menit kemudian aku baru bisa tersambung dengan internet. Situs untuk melihat hasil pengumuman sudah terbuka. Lalu aku memasukkan NISN dan password. Loading.. Detak jantungku berdebar kencang. Pikiranku bercabang seperti tumbuhan yang berakar serabut. Haaah... rasa optimis dan pesimis mendominasi perasaanku yang bedanya sangat tipis. Dan akhirnyaaaaaaa...... aku dinyatakan TIDAK LOLOS.
Ekspresiku datar. Aku mengisyaratkan bahwa aku tidak apa-apa kepada mama. Dari kedua mata mama aku merasa beliau begitu tidak percaya, seperti nyaris kecewa. Sejurus kemudian dugaanku salah. Bukan kecewa yang beliau rasakan, tetapi merasa kasihan padaku. Eh, tapi entahlah, prasangka seorang anak sering kali meleset. Tapi, aku tahu maksud mama. Artinya aku harus mempersiapkan diri untuk menghapi tes tulis yang disebut SBMPTN. Dengan diamnya bapakku, aku melihat diriku sendiri adalah anak kebanggaannya di mata beliau meskipun aku sudah berkali-kali membuatnya kecewa.
Hari-hari setelah pengumuman SNMPTN, aku belajar soal-soal Soshum. Perbedaan yang mencolok anatara tes SBMPTN dengan ujian tulis biasa adalah dari sisi penilaiannya yang pakai plus/minus. Kalau jawaban benar maka mendapat nilai +4 tapi kalau jawaban salah mendapat -1 dan jika tidak menjawab soal mendapat nilai nol. Aku harus ekstra hati-hati. Ketika belajar aku banyak melamun. Kedengarannya soal SBMPTN susah sekali, malah ada yang bilang tingkat kesulitannya lima kali lipat dari soal UN. Bah!!! Semangat yang naik dan turun, pesimis dan optimis, aku harus tetap berusaha. Aku berdoa pada Allah agar Dia selalu melindungiku dalam kondisi apapun. Hanya Allah-lah yang Maha Mengatur urusan setiap makhluk-Nya. Aku percaya pada rencana-Nya.
Di sela waktu persiapan tes, aku sering berkumpul dengan teman-temanku. Aku sesekali ke sekolah untuk mencari-cari informasi tentang tetek-bengek yang namanya SBMPTN itu. Aku dan temanku beberapa kali belajar bersama. Ketika berkumpul bersama mereka─SI─benteng semangatku bertambah kuat. Mereka menguatkanku. Mereka selalu mengingatkanku agar tetap percaya pada-Nya. Percaya pada semua rencana-rencana-Nya.
Aku kemudian dihadapkan pada sebuah keputusan yang membuatku dan membuat orang tuaku berpikir keras berkali-kali. Kami juga melakukan diskusi. Nah, apa kamu mau tau PTN mana yang aku pilih? Sebenarnya, aku memilih UPI dan UNY.. Tapi, setelah mempertimbangkanbanyak hal, aku akhirnya memilih Universitas Siliwangi di Tasikmalaya dengan jurusan yang sama-Bahasa Inggris. Sebenarny,a dari sebelum masuk SMA, aku bertekad untuk bisa memiliki kursi di UPI. Lihat? Terkadang kita harus banyak berkorban. Ini juga demi kebaikan. Kebaikanku, kebaikan orang tuaku. Dengan nama Allah aku memutuskan untuk meninggalkan UPI dan UNY. Dengan nama Allah di pendaftaran SBMPTN aku memilih Universitas Siliwangi. That's it.
Satu bulan kemudian. Tanggal 9 Juni. Pagi-pagi aku melakukan perjalanan ke Cianjur diantar Bapak karena lokasi tes tidak di tempatku. Sebagian besar peserta dari daerahku berlokasi di Cianjur. Di atas pukul 9, peserta tes bersiap di ruang kelas masing-masing. Soal tes dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama tes soal TKPA. Sesi kedua baru tes soal Soshum. Kira-kira pukul setengah tiga sore tes hari itu selesai. Alhamdulillah Allah memudahkanku. Aku tidak begitu menemukan kesulitan yang tingkat kesulitannya sangat tinggi sekali. Tapi, bukan berarti aku mengisi semua soal tanpa sisa. Dari 90 soal TKPA, aku mengisi 60 soal. Sedangkan dari 60 soal Soshum, aku mengisi 55 soal. Semoga saja aku bisa lolos di tes kali ini.
Sore itu aku menunggu bapak menjemputku. Cuaca mendung sampai rintik air hujan turun lumayan deras. Aku tidak membawa payung. Satu-satunya yang aku andalkan adalah jaket. Aku berdiri di trotoar sudah hampir dua puluh menit. Sambil menunggu, aku celingukan seorang diri memastikan setiap motor yang lewat apakah itu bapak atau bukan.
Beberapa saat kemudian aku terkaget mendapati teman satu sekolah di samping kanan bahuku. Ia adalah ***, anak I**, berdiri satu meter dari tempatku. Aku tidak menyapanya, hanya mesem-mesem, tidak menyangka bisa melihatnya di tempat yang sama! Hanya saja lokasi tes kami ternyata berbeda. Aku di SMK 1 C******, ia di SMA 1 C*****. Meskipun berbeda, kedua sekolah itu saling berhadapan. Rasanya aku ingin tertawa keras-keras. Aneh. Eh, entahlah aku hanya menjelaskan apa yang aku rasakan saat itu. Astagfirullah.
Pukul tiga lewat bapak akhirnya datang juga. Aku kemudian pulang dengan membawa kuat-kuat harapan, menggenggam mimpiku yang aku harap bisa menjadi nyata di tangan-Nya. Ngomong-ngomong, untuk pengumuman hasil tes, akan diumumkan tanggal 9 Juli. Aku hanya tinggal menunggu. Berdoa. Aku menyerahkan semua pada Allah Yang Maha Mengetahui. Semoga aku bisa lolos di seleksi ini. Aamiin. Semoga saja, Ya Allah...   



3 komentar: