Well, mengingat euforia SBMPTN sedang mencuat, di postingan kali ini aku mau curhat tentang nasib SBMPTN-ku tahun lalu. Semoga bisa kasih kamu informasi, wawasan, dan syukur-syukur termotivasi, ya!. Aamiin. (Wih pedenya -_-) Curhatan ini aku tulis 20 Juni 2015 Happy reading!
PART 1
SAAT itu hari Sabtu. SNMPTN. Pengumuman dibuka
pada pukul 17.00 WIB. Berjam-jam sebelum pukul 17.00, aku dengan temanku yang
lain merasakan atmosfer yang berbeda sepagian. Pengumuman di hari itu juga seperti
trending topic bagi kami. Pertanyaan
lolos atau tidak, terus menghantui kami tidak kenal lelah. Detik-detik pukul
17.00, aku sempat membuka BBM. Aku melihat ketegangan yang sama dari
status-status yang mereka tulis.
Tibalah
pada pukul 17.00. Karena beberapa hari sebelumnya notebook-ku rusak dan belum diperbaiki, aku sedikit kesulitan
dengan laptop milik bapakku dan wifi
dari ponselku. Beberapa menit kemudian aku baru bisa tersambung dengan
internet. Situs untuk melihat hasil pengumuman sudah terbuka. Lalu aku
memasukkan NISN dan password. Loading.. Detak jantungku berdebar
kencang. Pikiranku bercabang seperti tumbuhan yang berakar serabut. Haaah... rasa
optimis dan pesimis mendominasi perasaanku yang bedanya sangat tipis. Dan
akhirnyaaaaaaa...... aku dinyatakan TIDAK LOLOS.
Ekspresiku
datar. Aku mengisyaratkan bahwa aku tidak apa-apa kepada mama. Dari kedua mata
mama aku merasa beliau begitu tidak percaya, seperti nyaris kecewa. Sejurus
kemudian dugaanku salah. Bukan kecewa yang beliau rasakan, tetapi merasa
kasihan padaku. Eh, tapi entahlah, prasangka seorang anak sering kali meleset.
Tapi, aku tahu maksud mama. Artinya aku harus mempersiapkan diri untuk menghapi
tes tulis yang disebut SBMPTN. Dengan diamnya bapakku, aku melihat diriku
sendiri adalah anak kebanggaannya di mata beliau meskipun aku sudah
berkali-kali membuatnya kecewa.
Hari-hari
setelah pengumuman SNMPTN, aku belajar soal-soal Soshum. Perbedaan yang
mencolok anatara tes SBMPTN dengan ujian tulis biasa adalah dari sisi
penilaiannya yang pakai plus/minus. Kalau jawaban benar maka mendapat nilai +4
tapi kalau jawaban salah mendapat -1 dan jika tidak menjawab soal mendapat
nilai nol. Aku harus ekstra hati-hati. Ketika belajar aku banyak melamun.
Kedengarannya soal SBMPTN susah sekali, malah ada yang bilang tingkat
kesulitannya lima kali lipat dari soal UN. Bah!!! Semangat yang naik dan turun,
pesimis dan optimis, aku harus tetap berusaha. Aku berdoa pada Allah agar Dia
selalu melindungiku dalam kondisi apapun. Hanya Allah-lah yang Maha Mengatur
urusan setiap makhluk-Nya. Aku percaya pada rencana-Nya.
Di
sela waktu persiapan tes, aku sering berkumpul dengan teman-temanku. Aku
sesekali ke sekolah untuk mencari-cari informasi tentang tetek-bengek yang
namanya SBMPTN itu. Aku dan temanku beberapa kali belajar bersama. Ketika
berkumpul bersama mereka─SI─benteng semangatku bertambah kuat. Mereka
menguatkanku. Mereka selalu mengingatkanku agar tetap percaya pada-Nya. Percaya
pada semua rencana-rencana-Nya.
Aku
kemudian dihadapkan pada sebuah keputusan yang membuatku dan membuat orang
tuaku berpikir keras berkali-kali. Kami juga melakukan diskusi. Nah, apa kamu mau tau PTN mana yang aku pilih? Sebenarnya, aku memilih UPI dan UNY.. Tapi, setelah mempertimbangkanbanyak hal, aku akhirnya memilih Universitas
Siliwangi di Tasikmalaya dengan jurusan yang sama-Bahasa Inggris. Sebenarny,a dari sebelum
masuk SMA, aku bertekad untuk bisa memiliki kursi di UPI. Lihat? Terkadang kita
harus banyak berkorban. Ini juga demi kebaikan. Kebaikanku, kebaikan orang
tuaku. Dengan nama Allah aku memutuskan untuk meninggalkan UPI dan UNY. Dengan
nama Allah di pendaftaran SBMPTN aku memilih Universitas Siliwangi. That's it.
Satu
bulan kemudian. Tanggal 9 Juni. Pagi-pagi aku melakukan perjalanan ke Cianjur
diantar Bapak karena lokasi tes tidak di tempatku. Sebagian besar peserta dari
daerahku berlokasi di Cianjur. Di atas pukul 9, peserta tes bersiap di ruang
kelas masing-masing. Soal tes dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama tes soal
TKPA. Sesi kedua baru tes soal Soshum. Kira-kira pukul setengah tiga sore tes
hari itu selesai. Alhamdulillah Allah memudahkanku. Aku tidak begitu menemukan
kesulitan yang tingkat kesulitannya sangat tinggi sekali. Tapi, bukan berarti
aku mengisi semua soal tanpa sisa. Dari 90 soal TKPA, aku mengisi 60 soal.
Sedangkan dari 60 soal Soshum, aku mengisi 55 soal. Semoga saja aku bisa lolos
di tes kali ini.
Sore
itu aku menunggu bapak menjemputku. Cuaca mendung sampai rintik air hujan turun
lumayan deras. Aku tidak membawa payung. Satu-satunya yang aku andalkan adalah
jaket. Aku berdiri di trotoar sudah hampir dua puluh menit. Sambil menunggu,
aku celingukan seorang diri memastikan setiap motor yang lewat apakah itu bapak
atau bukan.
Beberapa
saat kemudian aku terkaget mendapati teman satu sekolah di samping kanan
bahuku. Ia adalah ***, anak I**, berdiri satu meter dari tempatku. Aku
tidak menyapanya, hanya mesem-mesem, tidak menyangka bisa
melihatnya di tempat yang sama! Hanya saja lokasi tes kami ternyata berbeda.
Aku di SMK 1 C******, ia di SMA 1 C*****. Meskipun berbeda, kedua sekolah itu saling
berhadapan. Rasanya aku ingin tertawa keras-keras. Aneh. Eh, entahlah aku hanya
menjelaskan apa yang aku rasakan saat itu. Astagfirullah.
Pukul
tiga lewat bapak akhirnya datang juga. Aku kemudian pulang dengan membawa
kuat-kuat harapan, menggenggam mimpiku yang aku harap bisa menjadi nyata di
tangan-Nya. Ngomong-ngomong, untuk pengumuman hasil tes, akan diumumkan tanggal
9 Juli. Aku hanya tinggal menunggu. Berdoa. Aku menyerahkan semua pada Allah
Yang Maha Mengetahui. Semoga aku bisa lolos di seleksi ini. Aamiin. Semoga
saja, Ya Allah...
Ehem :D dia? I know himm
BalasHapusEhem :D dia? I know himm
BalasHapusRahma!! -_-
BalasHapus