KEPALAKU
pusing, kedua bahu ini juga terasa pegal. Sesekali aku memijat bahu agar
pegalnya berkurang. Wajar saja badanku terasa lemas, tidak bertenaga. Tadi,
pagi-pagi sekali aku sudah bergegas ke terminal pukul 3, lalu menghabiskan
waktu 7 jam untuk sampai di salah satu kota di Priangan Timur. Begitu sampai,
kakiku langsung menjejeak area yang disebut kampus.
Aku ingat waktu pertama kali melihat
gedung kampus, aku merasa gugup, lumayan tegang dan senang yang bercampur aduk.
Aku gugup dan tegang sewaktu melihat banyak mahasiswa berkeliaran memakai almet
kuning kebanggaan kampus. Di pikiranku, mahasiswa itu cerdas-cerdas, kritikus,
pokoknya istimewa deh. Itulah pandanganku yang membuatku demikian gugup dan
tegang.
Aku datang untuk memvalidasi
berkas-berkas penting yang dibutuhkan demi kelancaran registrasi sebagai calon
maba FKIP. Validasi giliranku di sore hari, mengingat banyaknya maba FKIP lain
yang juga menunggu giliran.
Setelah selesai, aku mencari kosan
yang letaknya tak jauh dari kampus. Hanya butuh 7 menit untuk nanti aku
bolak-balik kosan-kampus. Ketika langit nyaris sepenuhnya menggelap, aku segera
menuju terminal untuk pulang ke kota asalku. Di sinilah aku sekarang. Terminal
bus. Aku melirik jam, pukul 18.45. Sambil menunggu bus yang akan datang
setengah jam lagi, aku menyandarkan tubuh ke kursi sesantai-santainya. Sesekali
aku menguap, kantuk mulai menyergap seisi otak, semakin membuatku ingin
cepat-cepat pulang.
Seperti doa yang langsung dikabulkan,
tak terasa setengah jam berlalu, busku akhirnya datang. Aku langsung naik dan
mencari tempat duduk. Di sampingku, aku ditemani seseorang yang selalu rela
membantuku, yang selalu memikirkanku, yang tadi pagi buta sama-sama kedinginan,
yang hingga saat ini merasa lelah meski ia tidak bilang lelah, tapi aku tahu,
dari kantung mata yang terlihat jelas, dari kedua tangan yang melemas,
menandakan ia sangat letih seharian ini. Ia adalah ayahku. Ia benar-benar rela
menemaniku.
Aku melemparkan pandangan ke luar
jendela. Mengembuskan napas dengan lega. Selesai. Hari ini selesai. Allah
memudahkan perjalanan yang belum pernah kami datangi ini, kota ini. Tidak hanya
ayah yang membantuku, ada teman ayah yang begitu baik hati menemani kami
mencari kos-kosan, mengantar ke terminal maghrib-maghrib, membelikan bekal makanan
tanpa kami minta, mereka adalah sepasang suami istri yang sudah bertahun-tahun
menikah tapi belum dikaruniai seorang anak. Meski aku baru sekali bertemu, tapi
mereka benar-benar menganggapku sebagai anaknya. Baik sekali. Aku berdoa semoga
Allah mengabulkan semua keinginan baik mereka.
Aku mengerjap-ngerjapkan mata.
Skenario Allah ini membuatku terharu, Dia begitu baik padaku, seolah tidak
mempedulikan dosaku yang menggunung. Dia selalu memberiku kelancaran. Ketika
aku sendiri, aku sadar bahwa Dia tidak pernah membiarkanku sendirian. Dia
selalu mengirimkan orang-orang untuk menemaniku, membimbingku, menghiburku.
Kapanpun. Siapapun. He is Allah who never let me alone.
Sukabumi, 1 Februari 2016
Fitri Rahayu
Yang lagi teringat
memori 6 bulan lalu
0 komentar:
Posting Komentar